Bab 15 : Wanita Itu Bernama Rosa

57 5 0
                                    

Armand masih di tengah perjalanan pulang ketika ponselnya berdering nyaring. Nama Ayahnya muncul di layar ponsel. Diangkatnya segera. Hatinya mendadak berdegup kencang.

"Ya, Pah?"

Terdengar suara panik Sang Aayah di ujung telepon. Armand menepikan mobilnya. Kini wajahnya ikut panik. Didengarkannya dengan seksama hingga   Sang Ayah selesai bercerita.
"Pah, lima belas menit lagi aku sampai di rumah. Tolong Papa jaga terus mereka, jangan sampai keluar dari rumah." Armand melajukan kembali mobilnya lebih cepat.

Kedua orang tuanya tengah berada di depan pintu kamar ketika Armand tiba di rumah. Terdengar suara Sava yang menangis dari dalam kamar.

"Tadi Marissa tiba-tiba histeris. Dia menarik Sava masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu," ucap ibunya sambil terisak.

"Dia sepertinya mendapat pesan atau telepon dari seseorang, Nak," sambung Ayahnya.

Armand mencoba memanggil-manggil Marissa. Namun tak ada sahutan. Hanya terdengar isak tangis Sava. Dicobanya berulang kali. Namun Marissa masih diam.

"Ris, please...!" Kini suara Armand terdengar lirih. Memelas. Tak terdengar suara dari dalam kamar. Suasana mendadak hening. Sava sudah berhenti menangis.
"Rissa, kalau kamu mencintaiku... Buka pintunya, Ris. Apa pun yang terjadi. Kita akan hadapi bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji." Kini suara Armand terdengar putus asa. Dia terduduk di depan pintu. Matanya berkaca-kaca. Ditunggunya pintu itu terbuka.

Sesaat kemudian terdengar suara kunci berbunyi. Dan pintu pun terbuka. Sava berlari keluar memeluk Ayahnya. Marissa berdiri di ambang pintu. Memegang ponsel dengan layar yang masih menyala. Matanya berair. Menatap Armand dengan pandangan tak berdaya.
Armand memeluk Marissa. Dan membiarkannya menangis di pelukannya. Kini ia kembali seperti anak kecil yang ketakutan dan kebingungan.

Dibawanya Marissa duduk, dan diberinya minum untuk membuatnya lebih tenang. Armand lalu mengambil ponsel dari tangan istrinya. Menatap sebuah foto yang tampak di layarnya. Foto Sava. Dikirimkan dari nomor tak dikenal. Dicobanya menelepon nomor itu, namun sepertinya sengaja tak diaktifkan lagi. Sejenak Armand terpaku mengamati foto itu. Bagaimana mungkin foto itu bisa berada di sana. Foto itu diambil oleh Armand sendiri menggunakan ponselnya, dan ia tidak pernah membagikannya ke siapa pun, dan kemana pun. Dia hanya mecetaknya dan menaruhnya di ... Tiba-tiba Armand teringat sesuatu. Di meja kerjanya. Sejenak ia terpaku. Pak Wisnu? Tanyanya tak percaya.

Armand memandang Marissa yang kini sudah sedikit tenang. Sava pun bersandar di bahu Marissa, sambil mengusap-usap tangannya. Berusaha menenangkan bundanya.

Armand menyentuh wajah Marissa. Mengusap sisa air matanya. Digenggamnya tangan istrinya. Lalu dicium keningnya. "Sava aman di sini, sayang. Tidak ada orang yang akan menyakitinya, atau membawanya pergi. Orang itu hanya ingin membuatmu takut. Aku akan cari dia. Tapi kamu harus berjanji akan tetap tenang di sini. Kamu tidak akan ketakutan lagi." Dilihatnya Marissa menghembuskan nafas panjangnya. Ada sedikit kelegaan terpancar di wajahnya. Dipandangnya Armand, penuh harap. Lalu ia mengangguk.

...

Armand hampir saja menerobos masuk ruangan itu ketika akhirnya pintu terbuka.

"Armand?" Seorang pria tua berdasi dan bertubuh besar itu menyapa Armand dengan bingung. Namun, tanpa menjawab, Armand masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya.

Armand membuka ponsel Marissa yang dipegangnya, ditunjukkannya foto dalam layar ponsel kepada pria itu. "Bapak yang kirim ini, kan?"

Sejenak pria itu memandang layar ponsel. Lalu berpaling memandang Armand. "Foto Sava? Buat apa saya kirim ke kamu?" Tanyanya kebingungan.

Janji Sampai Mati Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang