Marissa menatap layar ponselnya penuh tanya. Sebuah gambar dari nomor tak dikenal dikirimkan kepadanya. Foto sebuah lemari kecil tua dengan kaca yang sudah buram. Dengan kebingungan ditatapnya gambar itu. Keningnya berkerut. Diperbesarnya foto itu. Ada lubang kunci yang tampak di pintu lemari. Seperti tersadar, Marissa buru-buru mengeluarkan kunci rahasia yang selalu disimpannya di dalam saku bajunya. Diperiksanya dengan seksama kunci dan foto dalam ponselnya. Mungkinkah ini kunci dari lemari itu?
Dicobanya mengirim pesan dan menelepon ke nomor tak dikenal itu. Namun sepertinya nomor itu sengaja tak diaktifkan lagi. Benak Marissa semakin dipenuhi pertanyaan. Ia tidak segila itu untuk menganggap Tyara yang mengirimkannya. Ada orang lain yang mengetahui tentang kunci itu dan rahasia Tyara. Marissa merasa kepalanya berputar-putar. Ia sungguh tak mengerti. Kalau orang itu tahu tentang rahasia itu, mengapa tak langsung disampaikan saja kepadanya? Mengapa harus mempermainkannya? Kemana ia harus mencari lemari itu?
Marissa mencoba mengumpulkan semua ingatannya. Samar-samar ingatannya muncul. Ia seperti pernah melihat foto itu. Lemari itu. Tapi di mana? Sesaat kemudian ia beranjak dari duduknya. Masuk ke dalam kamar lalu membuka laptop di atas meja. Ia ingat, Tyara pernah beberapa kali menggunakan laptopnya untuk membuka akun facebook. Dan ia juga ingat Tyara menyimpan semua foto-foto lamanya di sana. Marissa tersenyum ketika akhirnya ia berhasil membukanya akun facebook sahabatnya itu. Ternyata kata sandinya pun masih tersimpan di sana.
Tertegun. Marissa menatap foto-foto yang terpampang di layar monitor. Ada banyak foto mereka berdua yang tersimpan di sana. Sesaat ingatannya kembali ke masa lalu. Satu persatu diingatnya kenangan di setiap foto mereka. Ada banyak cerita yang terukir di balik setiap foto yang mereka abadikan. Foto mereka saat masih kuliah bersama, saat ulang tahun, saat pergi berlibur, saat menikah, saat... Marissa mengusap air mata yang tak terasa menetes di pipinya. Tak sanggup rasanya ia membuka kembali kenangan-kenangan indahnya itu bersama Tyara. Tapi ia harus melakukannya. Mengungkap rahasia itu, demi sahabatnya.
Tanpa lelah satu persatu Marissa membuka foto-foto itu. Ia hampir saja menyerah ketika tiba-tiba sebuah foto menarik perhatiannya. Foto seorang anak perempuan tengah berdiri memegang sebuah boneka. Di belakangnya tampak sebuah lemari kecil yang hanya terlihat sebagian. Marissa memperbesar foto itu. Lemari itu memang tampak lebih baru. Tapi ia merasa yakin lemari itu sama dengan dengan foto lemari yang ada di ponselnya. Sepertinya itu adalah foto lama yang dicetak dan difoto kembali oleh kamera ponsel. Tak ada keterangan apa pun yang tertera di sana. Mungkinkah gadis kecil berambut panjang dalam foto itu adalah Tyara? Kalau benar Tyara, maka kemungkinan foto itu diambil di rumahnya dulu.
Apa yang harus dilakukannya kini? Mencari rumah itu? Ya, Tuhan! Mengapa ini jadi semakin rumit? Apakah ia harus menceritakannya saja kepada Mas Armand? Ia pasti mau membantunya. Tapi sejenak kemudian Marissa menggeleng. Ia tidak bisa membayangkan betapa marah dan khawatirnya Mas Armand mengetahui ia telah menyembunyikan sesuatu darinya. Ia juga pasti akan semakin protektif padanya. Tapi... bukankah Mas Armand juga merahasiakan sesuatu darinya? Sofie. Kini batinnya penuh dilema. Diingatnya kembali nama itu. Apakah mungkin Mas Armand juga bagian dari rahasia itu?
Suara azan Zuhur tiba-tiba mengagetkan Marissa. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul dua belas kurang lima menit. Setengah berlari Marissa mengambil kunci mobil lalu meluncur di jalan raya. Ia hampir saja lupa menjemput Sava. Sava sudah tidak berlangganan antar jemput sekolah lagi. Karena ia memutuskan untuk mengantar dan menjemput Sava sendiri.
Marissa memanggil Sava yang sudah menunggu di taman sekolah. Dengan riang Sava berlari menyambutnya. "Maaf, ya. Bunda telat," sapa Marissa dengan wajah menyesal.
"Ga pa-pa, Bun telat dikit yang penting di jemput Bunda," sahut Sava seraya mencium tangan Marissa.
Sepanjang perjalanan Sava tak hentinya bercerita. Tentang pelajarannya, teman-temannya sampai guru barunya. Bersama Sava membuat Marissa sejenak melupakan misi rahasianya.
...
Suara mobil terdengar terparkir di halaman rumah. Tapi Armand masih belum keluar juga. Ia masih terlihat sibuk menelepon dengan ponselnya.
Dari kejauhan Marissa memberi isyarat Armand untuk berhenti menelepon dan segera keluar dari mobilnya. Armand sudah berjanji padanya tidak akan membawa pekerjaannya ke rumah. Tak lama Armand pun langsung menutup telepon lalu keluar dari dalam mobil.
Armand mengangkat tangannya ketika dilihatnya Marissa cemberut. Dikecupnya kening Marissa. "Ok. Aku minta maaf. Itu yang terakhir," janjinya seraya meletakan ponsel dan tas kerjanya di atas meja.
"Sava di kamar?" Tanyanya seraya mengetuk pintu kamar Sava. Dan Marissa pun menjawab dengan sebuah anggukan. Sejak kejadian di rumah Tante Marlin itu, Armand mencoba berbaikan dengan Sava.
Melihat ponsel Armand tergeletak di atas meja, rasa penasaran Marissa tak terbendung lagi. Ia ingin sekali mencari tahu tentang Sofie. Dilihatnya Armand sudah masuk ke dalam kamar Sava. Diraihnya ponsel itu, lalu dibukanya daftar kontak. Marissa mengernyitkan kening. Kenapa tidak ada? Dibukanya kembali daftar panggilan masuk. Tapi kembali ia kebingungan. Mengapa sekarang juga menghilang? Marissa meletakan ponsel itu kembali. Apakah ia berhalusinasi? Tanyanya dalam hati.
Dari pintu kamar Sava yang sedikit terbuka diam-diam Armand mengintip Marissa sambil tersenyum. Ia tahu kecurigaan istrinya sejak dua hari yang lalu. Bukan sekali ini saja Marissa diam-diam mengecek ponselnya. Dan untung saja ia sudah mengganti nama Sofie dengan nama laki-laki. Sekarang ia memang harus lebih berhati-hati lagi. Armand tahu diam-diam Marissa menyelidikinya.
Hidangan makan malam sudah tersaji di atas meja. Tapi Armand dan Sava masih belum mau keluar dari kamar. Terdengar suara gelak tawa keduanya. Mereka sudah berbaikan. Entah apa lagi yang dijanjikan suaminya pada Sava untuk membuatnya luluh begitu cepat. Sava anak yang tak mudah memaafkan. Dan setiap ayahnya membuat kesalahan, Sava tidak akan berbaikan sebelum ayahnya memberikan sesuatu. Mas Armand memang selalu menganggap setiap masalah dapat diselesaikan dengan uang.
"Ayah menjanjikan apa kali ini?" Tanya Marissa melihat Sava keluar dari kamar dengan wajah sumringah.
"Rahasia!" Serunya sambil melirik ayahnya yang tersenyum-senyum.
Marissa memandang Armand.
"Gaaa. Keciiil aja kok. Gak banyak. Nanti kita ajak Bunda juga ya, Sav?" jawabnya seraya mencium pipi Marissa yang disambut Sava dengan anggukan senang.
"Bunda waktu kecil, punya rumah Barbie juga, gak?" Ups! Sava langsung menutup mulutnya. Matanya terbuka lebar. Terkejut dengan ucapannya sendiri. Armand menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggoyangkan telunjuknya. Marissa pun tak kuasa menahan tawa. Sava memang tidak bisa menyimpan rahasia.
"Punya gak, Bun?" Tanya Sava lagi setelah beberapa saat.
Lama Marissa terdiam. Mencoba mengingat masa kecilnya. Tapi mengapa ia tidak ingat apa pun? Dicobanya mengumpulkan kembali ingatan masa lalunya. Tapi ia hanya dapat mengingat kenangan saat pesta ulang tahunnya yang kelima belas di rumah Tantenya.
"Bunda punya banyak kenangan waktu kecil. Gak ingat satu per satu. Ya kan, Bun?" Armand memegang tangan Marissa seraya tersenyum. Marissa mengangguk.
Armand tahu, sejak pertama mengenal istrinya ia tidak pernah menceritakan masa kecilnya. Ia tidak pernah mengingatnya. Hal yang sering diceritakan tentang masa lalu nya hanyalah saat masa remajanya. Dan Armand merasa tidak perlu tahu itu. Ia mencintai Marissa saat pertama kali bertemu. Sebelas tahun yang lalu. Saat ia tiba-tiba saja muncul di hadapannya seperti malaikat turun dari langit.
"Kamu mau ayam gorengnya, kan?" Armand mengambil sepotong ayam goreng kriuk kesukaan Sava dan meletakannya di atas piringnya. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Dilihatnya istrinya masih terdiam dalam lamunannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Sampai Mati
Mystery / ThrillerCerita penuh ketegangan, emosi dan akhir yang tak terduga. Tentang Marissa, seorang wanita kesepian yang kehilangan sahabat satu-satunya, Tyara. Ia mencari kebenaran di balik kematian Tyara yang penuh teka-teki, yang sulit sekali diungkapkan, karena...