Sebuah pesan yang masuk ke ponselnya membuat Armand berlari ke dalam kamar. Saat ini panggilan dan pesan apa pun yang masuk selalu membuatnya waspada. Dibukanya pesan itu. Terdengar sebuah pesan suara dari Pak Wisnu. "Armand. Kamu datang ke rumah saya sekarang juga. Saya sepertinya menemukan orang yang mengirim foto itu ke Marissa."
Tanpa menjawab, Armand mengambil kunci mobilnya. Dilihatnya Marissa dan Sava serta kedua orang tuanya tengah menonton televisi di ruang keluarga. Ia pun mengucap pamit sambil berlari.
Dan baru saja Armand akan memarkirkan mobilnya di halaman rumah besar itu, ketika dilihatnya Pak Wisnu setengah berlari menghampirinya. Lalu melompat masuk ke dalam mobil. Ditangannya ada sebuah folder besar yang sepertinya berisi berkas-berkas penting.
"Ini hari libur. Istri saya akan marah kalau tahu saya masih bekerja. Saya gak bisa lama. Cuma bisa ijin sebentar buat ngopi di kedai depan."
Buru-buru Armand melajukan kendaraannya lalu berhenti di sebuah kedai kopi yang tak jauh jaraknya. Kedai itu masih terlihat sepi. Pak Wisnu menarik Armand untuk duduk di sebuah sudut kedai yang tak terlihat dari jalan raya. Dipesannya dua gelas kopi hitam kepada pelayan yang menghampirinya.
Armand memandang Pak Wisnu. "Siapa orangnya, Pak?" Tanyanya tak sabar.
"Tenang, Armand biar saya jelaskan dulu. Ini adalah dugaan saya. Saya baru teringat. Kemungkinan besar dia orangnya. Tapi bisa jadi bukan. Tapi dia yang paling mendekati."
"Siapa, Pak?!" Kini Armand kehilangan kesabaran.
Pak Wisnu membuka folder besar yang dibawanya. Dikeluarkan setumpuk berkas dari dalamnya. Dan ditunjukannya sebuah foto pada Armand.
Armand mengambil foto itu dari tangan Pak Wisnu. Ditatapnya tanpa berkedip. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Bagaimana bisa, Pak? Apa motifnya?"
Pak Wisnu mengambil foto itu kembali dari tangan Armand dan memasukannya ke dalam folder. Berkas-berkas itu sangat rahasia buatnya.
"Saya sudah bilang. Ini belum tentu seratus persen benar. Tapi dia pernah datang menemui saya untuk menanyakan kasus yang terjadi dua puluh empat tahun yang lalu.""Kasus apa?" Kini Armand semakin penasaran.
Pak Wisnu berhenti sejenak ketika seorang pelayan datang dengan nampan berisi dua gelas kopi hitam.
"Pemilik Group Pelita Hati. Lukman Ciptadi. Dia ditemukan tewas dua puluh empat tahun yang lalu di rumah peristirahatannya." Pak Wisnu mengeluarkan sebuah surat kabar lama dari dalam foldernya. Dan menunjukan Pada Armand sebuah berita pada tajuk utama surat kabar itu.
"Di Villa Marina?"
Pak Wisnu memandang Armand dengan heran. "Darimana kamu tahu?"
Dibacanya kembali berita itu. Tak ada tulisan Villa Marina di sana."Jadi benar kematiannya tak wajar?" Kejar Armand. Hatinya berdegup kencang. Tiba-tiba ia merasa cemas.
"Tidak ada yang tahu. Tidak ada saksi. Hanya ada seorang penjaga rumah yang mendengar ia jatuh dari balkon rumahnya dalam keadaan mabuk."
Armand menghembuskan nafasnya. Ia merasa kepalanya berputar-putar. Kini ketakutan mulai menyerangnya. "Marissa juga berada di sana?" Tanyanya dengan mulut yang bergetar.
Pak Wisnu hanya terdiam.
"Dia melihatnya?" Kedua mata Armand terasa menghangat. Ditahannya agar air mata tak jatuh dari kelopaknya.
Tapi Pak Wisnu akhirnya menggeleng. "Dia tidak berada di sana." Ditepuk-tepuknya tangan Armand. "Tak ada seorang pun di sana kecuali penjaga itu."
"Lalu untuk apa ia mengirimkan petunjuk-petunjuk itu kepada Marissa? Mengancamnya?" Kini Armand semakin bingung.
"Dia datang menemui saya sekitar tiga bulan yang lalu. Dia bilang sedang menyelidiki sesuatu yang penting. Tapi dia tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa dari saya."
"Apa dia ingin uang?"
Pak Wisnu tertawa. "Kalau dia ingin uang, dia tidak akan datang ke saya. Dia... seperti orang yang ingin balas dendam."
"Dendam? Kepada Marissa?"
Pak Wisnu mendorong kursinya mendekati Armand. Diseruputnya kopi di depannya. "Saya tidak tahu. Itu hanya dugaan. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mengetahui keberadaannya. Sebelum dia menyadari kalau dia sudah ketahuan."
"Apa Bu Rosa tahu ini?"
Kini Pak Wisnu menghela nafasnya. "Dia tidak pernah menceritakan apa-apa lagi kepada saya. Ini sangat personal buatnya. Kemungkinan besar dia sudah menyelidikinya juga."
Armand tersenyum sinis.
Pak Wisnu meletakan gelas kopinya. Lalu menatap wajah Armand dengan serius. "Kalau kamu menyangsikannya, itu artinya kamu belum mengetahui seberapa kuat dan kuasanya dia. Kalau dia mau, dia bisa tahu apa yang kita bicarakan saat ini."
Kini Armand terdiam. Diketuk-ketuknya meja dengan jemari tangannya. "Kalau orang itu yang selama ini mengancam Marissa, saya tidak terlalu cemas. Marissa sudah tidak memegang ponselnya lagi."
Tapi tiba-tiba Armand terkesiap. Diperiksanya saku baju dan celananya. Wajahnya terlihat panik. "Saya lupa membawa ponselnya. Saya harus buru-buru kembali, Pak. Saya takut dia mengirimkan sesuatu lagi dan Marissa melihatnya."
Pak Wisnu mengibaskan tangannya. "Pulang lah cepat. Saya pulang jalan kaki saja. Nanti tolong kabari saya."
Armand memacu mobilnya secepat kilat. Kini ketakutan menghantuinya. Dia tidak takut dengan laki-laki brengsek itu. Yang ia takutkan adalah Marissa kembali terpancing emosinya jika pria itu mengirimkan sesuatu lagi ke ponselnya.
Sampai di rumah buru-buru Armand memarkirkan mobilnya, namun sesaat disadarinya mobil barunya sudah tidak berada lagi di halaman. Diperiksanya sekeliling rumah. Tapi dia tetap tidak menemukannya. Dengan panik Armand berlari ke dalam rumah.
Didapatinya Ibu dan Ayah serta Sava masih di ruang keluarga."Kemana Marissa, Pah?"
"Loh, katanya kamu telepon dia suruh menyusul?" Terlihat Ayahnya yang kebingungan. "Tadi dia terima telepon sebentar terus langsung pergi buru-buru." Sambungnya lagi.
"Ke mana, Pah? Dia pergi ke mana?" Armand berteriak histeris. Yang ditakutkannya terjadi. Ia tidak mungkin pergi ke rumah temannya. Karena memang ia tidak punya teman dekat yang lain selain Tyara. Dan Marissa tidak pernah pergi tanpa pamit kecuali untuk sesauatu yang dirahasiakannya selama ini.
Kini terlihat Ibunya ikut ketakutan. Dan Sava hampir menangis. Tapi tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Diteleponnya nomor Marissa. Tapi tak terdengar nada apa pun. Marissa mematikan ponselnya.
Kini Armand benar-benar putus asa. Pikiran buruknya berkecamuk. Silih berganti berputar di otaknya. Ditekannya nomor Pak Wisnu. Sambil menahan tangis Armand menceritakannya. Dan semenit kemudian ia sudah berlari kembali masuk kedalam mobilnya. Menerobos hujan yang mulai turun.
Pak Wisnu sudah menunggunya di depan kedai. Bersiap-siap melompat ke dalam mobil ketika dilihatnya Armand sudah mendekat.
"Bapak yakin dia ke sana?" Tanya Armand dengan nafas yang memburu."Perkiraan saya begitu," sahut Pak Wisnu sambil menutup pintu mobil. "Dia ingin mengingatkan Marissa."
"Jadi benar Marissa ada di sana waktu itu?"
Pak Wisnu menghela nafasnya. Dipandangnya Armand dengan rasa bersalah. "Ya. Dia di sana," sahutnya hampir tak terdengar. Rahasia yang disembunyikannya selama ini akhirnya terbuka satu persatu.
Kini Armand tak kuasa menahan air matanya. Matanya berkaca-kaca. Tak ada kata yang bisa diucapkannya lagi. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan laki-laki bajingan itu pada Marissa. Kini ia hanya berharap Marissa tidak pernah sampai ke sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Sampai Mati
Mystery / ThrillerCerita penuh ketegangan, emosi dan akhir yang tak terduga. Tentang Marissa, seorang wanita kesepian yang kehilangan sahabat satu-satunya, Tyara. Ia mencari kebenaran di balik kematian Tyara yang penuh teka-teki, yang sulit sekali diungkapkan, karena...