Bab 11 : Petunjuk Kedua

54 5 0
                                    

Marissa melemparkan ponsel di tangannya ke atas sofa, lalu melangkah mundur dengan terkejut. Wajahnya berubah kebingungan. Nafasnya mendadak tersengal. Dipandanginya kembali ponselnya dari jauh, lalu perlahan ia menarik nafas panjang. Mencoba menenangkan dirinya.

Dan setelah beberapa saat ia pun kembali mendekati ponselnya yang masih tergeletak di atas sofa dengan layar yang masih menyala. Diraihnya ponsel itu dan diberanikannya untuk menatap gambar di layarnya. Matanya tiba-tiba saja berair. Ia pun terduduk sambil terisak. Tampak olehnya foto makam kedua orang tuanya. Dikirimkan dari nomor asing yang sama.

Disentuhnya foto itu. Dibiarkan air mata menetes membasahi layar ponsel. Diingatnya saat terakhir ia mengunjungi kedua makam itu. Dua puluh enam tahun yang lalu. Sebelum Tante Lina membawanya pergi.

Lama Marissa tertegun dalam lamunannya. Keping-keping ingatan masa lalunya kini kembali sedikit demi sedikit. Ia harus mengungkap rahasia ini sampai tuntas. Diusapnya sisa air matanya. Lalu beranjak bangun. Menyandang tas kecilnya, dan mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi. Tak berapa lama ia pun sampai di depan pagar sebuah sekolah.

Savanna berlari begitu melihat Marissa melambaikan tangan ke arahnya. Dengan gembira ia pun masuk kedalam mobil. Diciumnya tangan Sang Bunda.

Marissa memeluk Sava sambil mencium pipinya. "Hari ini Bunda mau mengajak kamu makan di Mc.Donald. Tapi setelah itu kita jenguk Tante Lina. Mau?"

"Yaaaaay!" Sava menjerit kegirangan. Ia memang sudah beberapa kali meminta Marissa membelikan makanan kesukaannya di restoran pavoritnya itu. "Kita langsung pergi, Bun? Enggak pulang dulu, kan?" Tanya Sava yang dijawab Sang Bunda dengan sebuah anggukan.

Sepanjang perjalanan Sava tak berhenti bercerita, seperti biasanya. Sampai akhirnya ia tertidur kelelahan. Marissa mengusap-usap rambut anaknya yang tertidur pulas. Dibersihkannya sisa makanan yang masih menempel di bibirnya. Diambilnya foto Sava lalu dikirimkannya kepada suaminya. Sedari tadi Mas Armand tak berhenti mengiriminya pesan. Ia sangat khawatir begitu mengetahui ia dan Sava akan berkunjung ke rumah Tante Lina. Akhir-akhir ini Mas Armand memang sangat berlebihan. Ia terlalu mengkhawirkan dirinya. Ia selalu mau tahu apa pun yang dilakukannya. Sikap protektif Mas Armand semakin lama semakin keterlaluan.

Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya Marissa sampai di depan sebuah rumah tua berhalaman luas yang sangat asri. Meski pepohonannya sudah tidak serimbun dulu, tapi rumah itu masih sangat terawat. Disinilah ia pernah menghabiskan masa remajanya bersama Tante Lina. Dan sudah lebih dari dua tahun lamanya ia tidak pernah mengunjunginya lagi. Perlahan Marissa membangunkan Sava yang masih terlelap. Tapi Sava masih enggan membuka mata. Ditunggunya sampai Sava benar-benar terbangun.

Marissa membuka ponselnya. Dibacanya pesan dari Mas Armand yang memintanya untuk tidak berlama-lama di rumah Tante Lina. Marissa menghembuskan nafasnya. Sesaat kemudian dilihatnya Sava mulai membuka kedua matanya.

Sorang wanita berpakaian seragam perawat membukakan pintu untuknya. Setelah memperkenalkan diri, perawat itu pun mempersilakan Marissa dan Sava masuk ke dalam rumah. Marissa memberikan satu boks ayam goreng kepadanya. Dan perawat itu lalu memperkenalkan dirinya sebagai Suster Pia. Ia baru satu tahun merawat Tante Lina, menggantikan temannya.

"Ibu Lina ada di taman belakang. Baru saja selesai disuapi makan."

Suster itu mengantarkan Marissa dan Sava ke taman belakang rumah yang dipenuhi berbagai macam tanaman bunga.

Tante Lina terkejut melihat kedatangannya dan Sava. Mulutnya tampak bergerak-gerak. Kursi rodanya bergoyang ketika ia berusaha menggerakan tubuhnya. Dengan sigap Suster Pia menahannya.

"Dia senang dikunjungi. Mbak Reina dan keluarga biasanya hanya dua minggu sekali saja datangnya."

Reina adalah anak angkat Tante Lina. Pernikahannya dengan Om Santoso tidak memberikannya keturunan. Dan ketika Om Santoso meninggal dunia tujuh tahun yang lalu, Tante Lina mulai sakit-sakitan. Dan kesehatannya semakin memburuk. Hingga akhirnya ia divonis mengalami stroke oleh dokter. Dan sejak Reina menikah dan pindah ke rumah suaminya, Tante Lina tinggal sendirian. Ia hanya ditemani oleh seorang perawat dan tukang kebun yang juga bertugas membersihkan rumah.

Marissa mencium tangan wanita tua itu, lalu mencium kedua pipinya. Kedua mata Tante Lina berkaca-kaca ketika Sava memeluknya. Mulutnya bergerak-gerak. Marissa tahu ada banyak kalimat yang ingin dikatakannya, tapi ia tak kuasa mengeluarkannya.

Marissa tak pernah membayangkan wanita yang dulu dikenalnya sangat kuat dan energik itu kini hanya bisa terduduk lemah. Kehilangan cinta telah membuatnya begitu rapuh. Tante Lina yang dikenalnya dulu adalah seorang wanita yang tidak pernah lelah. Ia tidak pernah berhenti melakukan sesuatu. Dia bisa melakukan fungsi sebagai seorang istri yang baik sekaligus menjadi wanita karir yang sukses. Tapi kini, di usianya yang menginjak enam puluh empat tahun, energinya semakin meredup. Marissa bisa merasakan kesedihan Tante Lina. Ia merasa tidak berdaya.

Marissa melihat Suster Pia tengah mengajak Sava bermain di taman. Kini Marissa menggenggam kedua tangan Tante Lina. Dipandanginya wanita itu sambil tersenyum. "Tante, Rissa mau tunjukan sesuatu ke Tante. Rissa harap Tante mau bantuin, karena ini penting sekali buat Rissa. Tante cukup mengedipkan mata kalau Tante tahu dan setuju dengan yang Rissa katakan." Wanita itu hanya memandang Marissa dengan tatapan bingung.

Marissa lalu mengeluarkan ponselnya. Ditunjukkannya foto itu kepadanya. Seketika wajah wanita itu berubah ketakutan. Digoyangkan-goyangkannya kursi roda. Mulutnya tampak bergerak-gerak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Marissa menjauh dengan panik. Disembunyikannya ponselnya dalam saku.

"Ibu!" Saat itu juga Suster Pia berlari menghampirinya. Dan berusaha menenangkannya. Entah apa yang dikatakan Suster Pia. Tapi kini Tante Lina terlihat kembali tenang.
Suster Pia pun lalu memberi isyarat kepada Marissa untuk menjauh. Dan beberapa menit kemudian Suster Pia sudah mengantarkan Tante Lina masuk ke dalam kamarnya.

Kini Suster Pia sudah duduk di hadapannya. Wajahnya tampak tak tenang.

"Maaf, Bu. Dia agak aneh sejak semalam. Ada seseorang datang ke sini tadi malam. Dia.." Sejenak Suster Pia terdiam. "Dia perempuan cantik. Diantar sebuah mobil mewah dengan supir. Sudah agak tua tapi dari penampilannya dia terlihat sangat kaya. Dan dia katanya mengenal Ibu Lina." Suster Pia kembali terdiam. Tapi..."

Marissa memegang tangan Suster Pia sambil tersenyum. Seolah ingin memberinya keberanian untuk bicara.

"Dia mendatangi kamar Bu Lina. Tidak lama. Sekitar lima belas menit. Setelah itu dia keluar lagi." Suster Pia menghela nafas panjangnya, sebelum kemudian meneruskan ceritanya. "Tapi setelah saya masuk kamar Ibu, saya lihat Ibu Lina dalam keadaan syok. Dia sampai tak mau makan dan minum sampai pagi. Baru tadi dia mau saya suapi makan." Sambungnya lagi.

"Kamu belum pernah sekali pun melihatnya?" Tanya Marissa yang dijawab dengan gelengan kepala Suster Pia.

"Kata Mang Dadang, yang tukang kebun itu. Dulu dia suka datang juga sebulan sekali. Tapi dia tidak pernah menyebutkan namanya. Kalau Mbak Reina bilang, itu cuma orang kantornya Bu Lina dulu. Yang membiayai hidup Ibu selama ini. Tapi, enggak tahu kenapa saya kok, curiga ya, Bu?"

Marissa menepuk-nepuk bahu Suster Pia sambil tersenyum. Diucapkannya terima kasih sebelum kemudian ia pamit pulang. Marissa tak berani menemui Tante Lina lagi. Ia kini percaya rahasia itu lebih besar dari yang dipikirkannya.

Hari mulai sore ketika Marissa sudah kembali berada di jalan raya. Sebentar lagi jalanan akan kembali macet oleh orang-orang yang akan pulang kerja. Kini ia kembali terbenam dalam pikirannya. Rahasia ini mengarah semakin jauh dan semakin dalam. Lambat laun ia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalunya. Masa lalu yang hampir tidak diingatnya lagi. Bagaimana bisa Tyara mengetahui masa lalu dan masa kecilnya, jika mereka saja baru bertemu ketika sama-sama menginjak dewasa?

Marissa melajukan mobilnya lebih cepat saat dilihat ponselnya berbunyi lagi. Diberikannya ponsel itu kepada Sava dan memintanya untuk mengangkatnya.

"Ayah!!" Seru Sava dengan riang.

Marissa menghembuskan nafasnya. Kini ia harus memikirkan alasan terbaik agar Mas Armand percaya kepergiannya yang tiba-tiba kali ini.






Janji Sampai Mati Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang