Bab 2 : Hanya Ilusi

81 6 0
                                    

Marissa duduk dengan gelisah. Di depannya Mas Armand tengah menatapnya dengan ragu. Berusaha untuk mengeluarkan kata-kata. Ia tahu sebentar lagi suami tercintanya itu akan memintanya melakukan sesuatu yang sulit.

"Ris.." Kini tangan Mas Armand menggenggam kedua tangannya. "Sudah empat bulan Tyara pergi, tapi kamu belum pernah ke makamnya"

Marissa dengan reflek melepaskan genggaman tangan suaminya. Kegelisahannya semakin bertambah. Dadanya terasa sesak. Benar saja. Mas Armand meminta sesuatu yang tak dapat dilakukannya saat ini.

"Sayang... aku akan temani kamu!" Mas Armand kembali meraih tangannya. "Apa kamu enggak sadar, kalau kamu sering melihatnya di rumah ini karena kamu belum mengikhlaskan kepergiannya?"

Marissa tak berani menatap. Ia sangat mencintai suaminya, ia akan melakukan apa saja yang dimintanya, tapi tidak dengan ini. Ia belum sanggup.

"Kamu enggak bisa terus-terusan begini, Ris. Kamu harus mengikhlaskannya. Supaya dia juga bisa tenang di alam sana. Dan kamu juga bisa melanjutkan hidup seperti dulu lagi. Aku dan Sava sangat mengkhawatirkanmu."

Tapi Marissa tetap diam. Menatap kosong ke luar jendela. Tak dipedulikannya lagi kata-kata yang terus meluncur dari mulut suaminya. Kalimat-kalimat sama yang sudah puluhan kali di dengarnya selama hampir empat bulan. Ia sudah bosan. Mengapa semua orang harus memaksanya melakukan hal yang sama? Mengapa tidak ada orang yang mempercayainya? Mengerti dirinya? Perasaannya? Ia hanya butuh waktu untuk menguatkan hatinya. Tidak bisakah mereka menunggu? Dipandanginya wajah suaminya yang memelas.
"Jangan paksa aku, Mas. Please..." Pintanya.

Tapi Mas Armand masih terus menatapnya. Berharap sikapnya berubah. Hingga beberapa saat kemudian ia pun menyerah setelah melihat Marissa yang tetap bergeming. Sambil menghela nafas panjang ia lalu mengangguk pelan. Dan tak lama kemudian beranjak dari duduknya. Dikecupnya kening Marissa sebelum kemudian berjalan keluar sambil menenteng tas kerjanya. Suara mobil terdengar meninggalkan rumah beberapa saat kemudian. Meninggalkan Marissa kembali dalam kesendirian.

Marissa menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ia tahu Mas Armand sangat kecewa. Ini adalah ketiga kalinya Mas Armand memintanya untuk datang ke Makam Tyara. Ia sangat mengerti Mas Armand tidak ingin melihatnya terpuruk berlama-lama meratapi kematian sahabatnya itu. Tapi rasanya berat sekali untuk mempercayai kenyataan yang berbeda. Untuk percaya bahwa ia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sementara setiap hari ia bertemu dengannya.

Marissa mencoba memaksakan sepotong roti masuk kedalam mulutnya. Roti panggang coklat yang dibuat Sava untuknya. Ia tidak ingat sejak kapan Sava mulai bisa membuat sarapannya sendiri. Dilihatnya sepiring roti telur yang masih utuh di atas meja. Mas Armand tidak menyentuh sarapannya. Ia pasti sudah kehilangan selera makan karenanya. Ada sedikit rasa sesal di hati Marissa.

Beranjak dari duduknya. Marissa merapikan meja makan dan membawa piring-piring kotor ke dapur. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 09:15. Sava sudah berangkat ke sekolah sejak pagi sekali. Ia bahkan tidak sempat melihatnya. Entah kenapa sekarang Sava selalu berangkat lebih awal dari biasanya.

Marissa mencoba menahan diri untuk tidak memandang ke taman belakang. Ia tahu Tyara pasti sudah berada di sana menunggunya. Tapi rasa kesepian dan kerinduan kepada sahabatnya itu membuatnya menyerah. Memaksanya kembali melakukannya. Sambil menarik nafas panjang Marissa kembali melempar pandang ke arah ke Taman. Benar saja, Tyara sudah menunggunya di sana. Seperti biasanya.

Sementara itu, dari dalam sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan, Armand menatap layar ponselnya tak berkedip. Tak percaya apa yang sedang dilihatnya. Rekaman langsung dari kamera pengawas yang dipasangnya diam-diam di taman tadi malam. Kalau saja Sava tidak menceritakan kejadian kemarin siang itu, ia pasti akan menganggap ini hanya kebetulan. Kedua mata Armand berkaca-kaca. Ia melihat istrinya tengah menikmati dua cangkir kopi hitam. Dengan sepiring kue-kue manis, yang entah kapan dibelinya. Ia terlihat tengah memandangi bunga-bunga mawarnya yang sudah mati sambil tersenyum.

Janji Sampai Mati Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang