Marissa baru saja pulang mengantar Sava ke sekolah ketika disadarinya ada sepasang sepatu yang penuh tanah basah di teras rumahnya. Entah dari mana Mas Armand pulang dengan sepatu sangat kotor. Ia tidak tahu jam berapa suaminya itu pulang tadi malam, karena Mas Armand memintanya untuk tidak menunggunya karena harus menemui klien di luar kota.
Jam sudah menunjukan pukul setengah delapan pagi. Dan Marissa melihat suaminya masih tertidur pulas di dalam kamar. Disentuhnya wajah Armand. Sesaat Armand terbangun. "Aku cuti..." Sahutnya tanpa membuka mata. Lalu kembali tertidur.
Marissa keluar kamar dengan hati bertanya-tanya. Kenapa mendadak sekali? Biasanya ia akan senang sekali kalau Armand berada di rumah, tapi kali ini ia sudah terlanjur mempunyai banyak rencana yang tak mungkin dilakukannya jika suaminya berada di rumah. Ah, mungkin cuma cuti satu hari karena kelelahan. Marissa mencoba menenangkan dirinya.
Sudah hampir pukul sepuluh pagi, ketika Marissa melihat Armand keluar dari dalam kamar dengan wajah segar dan pakaian yang sudah berganti.
"Sava sudah berangkat ke sekolah?" Tanyanya sambil duduk di kursi makan. Marissa pun mengangguk sambil menyodorkan kopi panas di hadapannya.
"Nanti siang aku yang jemput," ucapnya lagi."Kamu cuti berapa hari, Mas?" Marissa meletakan sepiring pisang goreng hangat di hadapan suaminya.
"Seminggu."
Jawaban Armand sejenak membuat Marissa terdiam. Ia pun memalingkan wajah untuk menutupi rasa terkejutnya.
"Kenapa? Kok kaget? Kamu enggak suka aku cuti?" Armand memiringkan wajahnya, berusaha memandang wajah istrinya.
"Enggak! Aku cuma kaget aja. Kamu tumben banget tiba-tiba cuti seminggu?" Marissa kembali memandang Armand sambil melempar senyum.
"Sengaja. Biar surprise!" Dusta Armand. Ia tahu saat ini Marissa tak ingin ia berada di rumah seharian. Dia tak ingin diawasi.
Marissa kembali melempar senyum dengan terpaksa, membuat Armand merasa tak tega telah membohonginya.
"Hmm, kamu boleh kok, bikin rencana pergi ke mana saja selama seminggu ini. Aku akan antar kamu." Armand kembali memandang Marissa. Ia berharap dalam satu minggu ini hubungan mereka akan menjadi lebih dekat, dan ia akan membuat Marissa percaya dan mau berbagi rahasia itu padanya. Ia benar-benar sangat membutuhkan kunci itu.
"Oh! Mm... Ini dadakan sekali, Mas. Aku enggak punya rencana apa-apa." Marissa menjawab dengan canggung.
"Hmm... Kemarin-kemarin kamu bisa punya rencana dadakan? Tiba-tiba ke Bogor. Tiba-tiba ke rumah Tante Lina...?"
Marissa menarik nafasnya mendengar sindiran Armand. "Kemarin itu kan, karena Susternya Tante Lina telepon. Dia enggak mau makan seharian. Jadi aku khawatir," jawabnya sambil menahan kesal. Dalam hati ia berdoa agar suaminya itu tidak menelepon ke rumah Tante Lina untuk mengkonfirmasi jawabannya.
"Kenapa enggak mau makan? Sakitnya tambah parah?" Armand kembali menatapnya penuh selidik, seperti biasanya.
Dan Marissa kembali menghela nafasnya. Mas Armand memang tidak pernah puas dengan hanya satu jawaban. Namun, akhirnya ia kembali menjawab dengan gelengan kepala. Ia malas untuk berdebat dengan suaminya pagi-pagi. Lagipula berdebat dengannya tidak akan pernah menang.
"Terus hari ini kamu benar-benar enggak ke mana-mana?" Armand tak berhenti mengejarnya. Membuat Marissa bertanya-tanya dalam hati.
"Mungkin cuma ke supermarket." Akhirnya Marissa menyerah. Padahal ia sudah merencanakan pergi ke supermarket sendirian agar punya alasan untuk keluar rumah. Melanjutkan misi rahasianya.
"Ok. Kalau begitu kita perginya sekalian jemput Sava saja di sekolah. Dia pasti senang diajak belanja." Armand mencomot sepotong pisang goreng dan memasukannya ke dalam mulut. Ia tersenyum dalam hati. Dilihatnya wajah istrinya yang kesal. Kini ia tak akan membiarkannya pergi sendirian. Ia yakin, lambat laun Marissa akan bercerita.

KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Sampai Mati
Mystery / ThrillerCerita penuh ketegangan, emosi dan akhir yang tak terduga. Tentang Marissa, seorang wanita kesepian yang kehilangan sahabat satu-satunya, Tyara. Ia mencari kebenaran di balik kematian Tyara yang penuh teka-teki, yang sulit sekali diungkapkan, karena...