Marissa tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Mulutnya tak bisa berkata-kata. Ia memandang Armand tak percaya. Disentuhnya mobil sedan mewah berwarna hitam pekat itu.
"Kok, bisa Mas? Ini BMW seri terbaru, loh. Pak Wisnu kasih kamu begitu saja?" Tanyanya dengan wajah yang masih diliputi keraguan.
"Ini bonus, sayang. Ini hasil kerjaku. Kamu tahu kan, selama aku kerja di kantor Pak Wisnu kayak apa sibuknya? Aku berhasil menangin banyak kasus. Dan yang aku tangani itu klien-klien besar semua." Armand memperlihatkan senyum bangganya. Meski hatinya merasa bersalah karena lagi-lagi harus membohongi istrinya. Tapi ia melakukan ini semua juga demi Marissa.
Marissa menatap suaminya. Mencari kebenaran di matanya. Ia tahu firma hukum tempat suaminya bekerja adalah salah satu yang terkenal di negeri ini. Tapi Mas Armand belum satu tahun bergabung di sana. Dan ia sudah mendapatkan bonus sebesar ini?
"Aku telepon Pak Wisnu, ya. Biar kamu bisa tanya langsung. Sekalian ucapin terima kasih." Kali ini Armand memastikan Marissa mempercayai ceritanya. Ditekannya nomor Pak Wisnu di depan Marissa. Dan dibukanya pengeras suara agar Marissa dapat mendengar percakapannya.
Tawa Pak Wisnu terdengar nyaring ketika Armand menyampaikan bahwa Marissa tidak mempercayainya. Dengan tersipu Marissa pun meminta maaf dan mengucapkan rasa terima kasihnya.
Tentu saja Pak Wisnu dengan senang hati mendukung ceritanya, karena wanita pemberi mobil itu adalah klien terbesarnya.
"Nanti malam kita jemput Sava pakai mobil ini, ya? Sekalian kita makan malam di luar."
Marissa memandang Armand. "Kan, baru empat hari, Mas?"
"Aku udah kangen banget," sahut Armand sambil berpura-pura memasang wajah sedih.
Marissa tersenyum. Ia juga sudah kangen sekali dengan anaknya. Meski mereka saling berkomunikasi setiap hari, tapi ketidak hadirannya selama beberapa hari membuat rumah terasa sangat sepi.
Marissa kembali memandangi mobil mewah di depannya itu. Dilihatnya suami tercintanya itu masih sibuk mencoba semua fitur di dalam mobil. Entahlah, ia merasa ada yang janggal. Mengapa Pak Wisnu baik sekali memberikan hadiah seharga milyaran itu kepada suaminya? Dilihatnya lagi wajah sumringah Armand. Ia tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Jarang sekali Marissa melihat wajah Armand sebahagia itu.
Ah, mungkin memang benar Mas Armand pantas mendapatkannya, batinnya membela. Ia telah bekerja keras untuk dirinya dan Sava. Sembilan tahun usia pernikahan mereka, tak sekali pun Mas Armand mengeluh. Dia tak pernah berhenti bekerja. Ya, Mas Armand memang layak mendapatkannya. Mungkin dirinya saja yang terlalu berlebihan menanggapinya. Marissa pun tersenyum saat Armand melambaikan tangan memintanya untuk ikut masuk ke dalam mobil.
...
Marissa tak berhenti menyunggingkan senyum bahagianya, melihat tingkah suaminya di sepanjang perjalanan. Armand tak hentinya bernyanyi dan bersenandung, mengikuti lagu yang diputarnya keras-keras di dalam mobil barunya. Terkadang tangannya ikut bergerak mengikuti irama musik. Marissa hanya dapat tertawa-tawa melihatnya. Terkadang ia ikut bernyanyi. Tapi terkadang ia lebih suka memandanginya saja sambil ikut merasakan kebahagiaan laki-laki yang sangat dicintainya itu. Setelah berbulan-bulan hatinya membeku dalam kesedihan, akhirnya ia bisa merasakan kembali kehangatan bersama suaminya.Mereka sampai lebih cepat dari biasanya. Armand memang sengaja tak memberitahu kedua orang tuanya kalau mereka akan menjemput Sava.
Armand menekan klakson ketika dilihatnya pintu pagar rumah yang terkunci. Namun, tak ada yang keluar dari dalam rumah orang tuanya itu. Dicobanya lagi beberapa kali. Tapi tetap tak ada satu orang pun yang datang menyambut mereka.

KAMU SEDANG MEMBACA
Janji Sampai Mati
Mystery / ThrillerCerita penuh ketegangan, emosi dan akhir yang tak terduga. Tentang Marissa, seorang wanita kesepian yang kehilangan sahabat satu-satunya, Tyara. Ia mencari kebenaran di balik kematian Tyara yang penuh teka-teki, yang sulit sekali diungkapkan, karena...