"Geser sana, Mas. Gak usah deket-deket, gerah!" Dinar mengibaskan rambutnya, memasukkan belanjaan ke kulkas dengan tidak tertata. Dadanya sudah menyempit sedari tadi.
"Marah, bentar nangis lagi," Pram menghela, menarik Dinar untuk menepi sebentar dari emosinya. "Ayo sini duduk dulu,"
"Gak mau!" Mulutnya menolak, tapi tubuhnya tetap mengikut kemana Pram mengarahkannya. Pram menuangkan segelas air, menarik kursi dan duduk di sebelah istrinya.
"Minum dulu,"
Dinar minum sampai tandas. "Tambah lagi,"
"Haus banget?"
"Gak tahu!" Dinar meneguk lagi air yang sudah diisi penuh. Begitu selesai dengan air, Pram menjauhkan apa-apa yang ada di depan mereka, takut istrinya mengamuk.
"Ayo cerita. Marah kenapa?" Pram menghadap istrinya.
"Siapa yang marah?! Dih, sok tahu!" Sewot Dinar.
"Hidungmu itu, selalu membesar kalau lagi ngambek, Bun. Ayo, cerita, dibuang gengsinya," kekeh Pram.
"Ora yo! Aku ra gengsian!" Sembur Dinar tak terima. "Kalau aku gengsian, gak ada tuh aku bawa-bawa belanjaan banyak sendirian sementara suamiku lagi asik tebar pesona sama janda desa!"
Holaa, exchap 3 dan 4 udah tersedia ya di karyakarsa searth__ yaa, link karyakarsa ada di profil searth__ selamat membaca ^_^
KAMU SEDANG MEMBACA
DINAR BINTI DIRHAM (TAMAT LENGKAP)
RomansDinar tahu Pram adalah pria yang baik. Tapi predikat baik saja tidak cukup untuk membangun sebuah kehidupan rumah tangga bersama sampai menua. *** Ada dua hal yang Dinar benci di dunia ini. Anak-anak dan pernikahan. Ditinggal pergi oleh Papi dari...