"Gimana ulangannya? Bisa gak lo?"
"Sial lo, Lang! Kenapa banyak yang gak kita pelajarin?!"
"Lah, ngebahas satu materi aja lo susah ngerti. Hari ini ulangan tiga materi. Butuh waktu ekstra buat elo hafal." Cih, ngeremehin. "Gue bisa bantu kok. Baka sih lo, udah kelas dua belas tapi gak ngerti fisika."
"Ck, terserah. Awas aja lo sampe gak ngajarin gue lagi."
"Bawel banget deh lo. Pokoknya entar pulang sekolah gue kerumah lo."
"Good!" Sorakku senang.
"Nao." Panggil seseorang, aku menoleh. Melvina?
"Eh... iya, kenapa?"
"Gue mau minta maaf soal kemaren, gak seharusnya gue ngatain lo."
"Ah, bukan salah lo. Gue juga minta maaf karena langsung main fisik ya."
"Jadi, lo maafin gue?"
"Iyalah, masa gue harus dendam. Lagian..." Aku tertunduk. "Kayaknya emang salah gue, Nathan sampe—"
"Woy! Kok nyalahin diri lo lagi sih?" Seseorang menepuk pundakku dan saat aku menoleh aku mendapati Artha dan Evelyn dengan mata memicing.
"Eh, gak! Maksudnya, iya, eh... iya deh sorry."
"Udah dong Nao, mending kita ke kantin." Kata Evelyn. "Lagian, lo gak bawa bekal kan?"
"Cenayang." Aku tersenyum miring. "Mel, mau ikut?" Artha dan Evelyn menatapku shock. Loh, salahku jika Melvina kuajak? Kan Melvina sebenarnya baik.
"Boleh?"
"Ya bolehlah!" Sorak Artha. Ah, ternyata hubungan kelas ini tidak ada yang buruk. Syukurlah.
"Derita lo juga Nao, ortu pergi, gak ada makanan, duit juga tipis. Udah gitu gak bisa masak." Kata Evelyn kejam. Yang lain jadi ketawa sementara aku? Ya. Menatap mereka sinis sampai rasanya saraf mataku mau putus.
—-
"Pada mau pesen apa? Gue yang mesenin." Tawar Melvina. Kan, dia baik.
"Gue bubur aja deh sama es teh manis." Jawabku.
"Samain." Jawab Artha.
"Eh, tunggu deh Mel. Gue bingung mau pesen apa." Tebak siapa? Ya benar. Anak ter-rempong di antara kita berempat. "Enaknya apa ya?"
"Haduh, ayo cepet mikir Lyn, keburu panjang antriannya." Tukasku. Evelyn kan lemot.
"Ih, yaudah deh samain." Melvina mengangguk sambil berlalu. "Eh Mel tunggu!" Haduh, cewek ini. "Gue minumnya... hm... lemon tea aja." Melvina tersenyum paksa lalu berlalu. "Baik banget ya... aku terharu huhu." Evelyn pura-pura menyeka air mata.
"Dih, jijik." Kataku.
"Duh, emang pantes banget lo di klub drama." Kata Artha.
"Woy, bantuin!" Teriak Melvina dari depan kios bubur. Kasian juga melihatnya, membawa empat mangkok kan bukan hal yang mudah. Apalagi ada minuman juga. Dan, ya, akhirnya kami membawa pesanan masing-masing ke meja.
Drrt. Drrt.
Saat sampai di meja, tiba-tiba handphone-ku bergetar. Pasti ada notification. Entar aja ah, laper. Pikirku.
—-
"Ah, bubur gak pernah seenak ini!"
"Setuju sama lo."
"Mungkin karena kita makannya bareng-bareng gini?" Kataku asal, namun membuat mereka bertiga menatapku. "Ya, enak aja. Kalo bareng-bareng kan feel-nya dapet."
KAMU SEDANG MEMBACA
Strange
Teen FictionIni semua dimulai setelah percobaan bunuh diriku. Hai, aku Naomi dan hidupku tidak sebagus namaku. Saat koma setelah percobaan bunuh diri, aku bermimpi akan mendapatkan sebuah kemampuan aneh yang menurutku merugikan sekaligus menguntungkan, dan meng...
