"Masa iya, Bang, gue punya kemampuan buat tau kapan kematian seseorang? Kan serem. Elo sih!"
PLAK!
"Kamu kurang ajar, Naomi! Kenapa kamu berubah?!" Teriak Ibu sambil menahan air mata. Sementara itu Ayah berusaha menenangkan Ibu. "Ini kenapa, sayang? Kenapa karena kita nikah lagi gak membawa perubahan buat keluarga kita?" Ibu menatap Ayah lemah. Ibu mulai menangis. Dan kalian tahu apa yang dilakukan Naoki?
Dia menatap kami semua dengan tatapan sok polos, sok innocent.
"Woy bangsat, ngapain lo natep kita kayak gitu?" Aku menatapnya dingin
Satu tamparan lagi kini mengenai bibirku yang mulai mengeluarkan cairan berwarna merah. Tentu saja kalau Ibu yang melakukan takkan separah ini.
Yang barusan itu dilakukan Ayah.
Yang aku kenal tidak pernah marah selama tujuh belas tahun ini.
Yang aku kenal selalu menyayangiku dan Ibu— oh, dan juga Naoki.
"Lagi dong, gak berasa." Aku tertawa merendahkan. Aku ingin merasakan tamparan lain yang lebih sakit, agar aku bangun dari mimpi buruk ini. "Ayo, Yah. Ibu juga. Kenapa gak tampar aku sekali lagi? Bangunin aku dari mimpi buruk ini? Kalian sayang kan sama aku? Atau sayang sama anak yang satu lagi?"
Setetes, dua tetes, tiga tetes. Air mata dari mata kiriku dengan lancar keluar.
Kata orang, air mata dari mata kiri tandanya kita merasakan kesedihan.
"Aku emang gak berguna, ya kan? Selama ini aku yang sama kalian. Tapi kalian lebih peduli sama anak itu. Yang jelas-jelas jauh dan nyakitin aku." Aku menyeka kasar air mataku. "Ini... gak adil."
Aku masuk ke kamar dan mengambil beberapa baju dan uang. Tak lupa membawa charger, earphone, dan handphoneku, tentu saja.
"Mau kemana kamu?" Tanya Ayah begitu aku keluar dari kamar.
"Emang mau nahan? Mending masih sayang. Liat nih bibir!" Aku menunjuk ujung bibirku yang membiru. "Ini bukti nyata Ayah gak sayang sama aku!" Ayah menatapku tak percaya. Persetan.
—-
"Nao? Lo minum?"
Demi Tuhan semesta alam, dari kurang lebih dua ratus empat puluh juta jiwa di Indonesia, kenapa harus makhluk ini lagi? Dan dia melihatku di pinggir jalan. Tidak, yang parah dia melihatku sedang minum.
"Kenapa? Lo mau?"
"Bodoh! Lo ngapain disini?"
"Nih liat bibir gue." Aku menunjuk bagian yang memar. "Kerjaan siapa, tebak?"
"Gila! Kerjaan siapa?!" Air muka Gilang berubah 180 derajat. Ia terlihat kesal.
"Bokap, Lang." Kini, matanya membulat. "Menurut lo, bokap gue sayang gak sih sama gue?"
"Lo abis ngapain sampe bokap bisa bikin lo kayak gini?"
"Males ceritainnya." Aku meneguk lagi minuman sialan itu. Mungkin sekarang aku akan mabuk. "Lang, gue pengen ngelakuin itu deh sama lo." Benar, kan? Aku mabuk.
"Itu?"
"Iya, itu..." Aku mendekatkan bibirku pada telinganya, berbisik sensual. "... that forbidden activity." Ia menatapku horror.
"L— lo mabok. Pulang sama gue."
"Ck, mana mau gue pulang ke rumah!"
"Ke rumah gue." Gilang lalu menggendongku di punggungnya. "Jangan kayak gini lagi, baka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Strange
Novela JuvenilIni semua dimulai setelah percobaan bunuh diriku. Hai, aku Naomi dan hidupku tidak sebagus namaku. Saat koma setelah percobaan bunuh diri, aku bermimpi akan mendapatkan sebuah kemampuan aneh yang menurutku merugikan sekaligus menguntungkan, dan meng...
