What if.

443 72 22
                                    

"Aduh kamu ini! kenapa tumben banget ceroboh sih?" Sasuke cuma bisa mingkem setiap kali ibunya ngomel-ngomel sambil nyuapin dia. Udahlah makanannya dari kemarin cuma bubur sama telor aja, terus ibunya ngomel-ngomel pula. Makin hambar nih.

"Pake acara jatuh dari bed pula. Ibu panik tahu gak waktu ditelpon temenmu. Padahal baru ditinggal bentar juga."

"Hn." Mau gimana lagi? dia lupa kalau tangannya isi infus. Dia kaget banget waktu liat Sakura ke kamarnya. Gak mungkin juga dia ceritain ini ke ibunya. Bisa-bisa ibunya bertanya-tanya. Sasuke belum siap untuk cerita.

"Hn. Hn aja kamu tuh ah. Jangan irit bicara mulu." Ucap ibunya lagi.

"Oh ya. Kata dokter, kalau kondisi kamu baik terus, udah boleh pulang. Nanti pas pulang, suruh Sakura-chan ke rumah ya. Kita makan-makan."

Sasuke diam.

"Hei. Ibu lagi ngomong kenapa gak direspon?"

"Ya bu."

"Ibu udah kangen lihat dia masak-masak di dapur bareng ibu sama Izumi-chan. Kangen juga sama pie apelnya. Ah! pasti seru banget deh! Sasuke-kun sekarang tidur ya. Biar cepet keluar rumah sakit."

"Ya bu." Jika Sasuke bisa berekspresi, dia bakal bilang ke ibunya kalau dia udah pisah sama Sakura. Tapi, dia yang gak bisa ngerangkai kata-kata ini kembali berpikir.... gimana? gimana caranya?

Sasuke dari lahir memang pintar. Dari dulu, cuma modal baca segaris aja dia udah ingat sama apa yang dia baca. Dia itu orang yang cepat tangkap. Tapi kalau urusan ini....Sasuke gak tahu lagi harus bagaimana.

........

Mungkin udah 4 hari rasanya berlalu ketika Sakura jenguk Sasuke waktu itu. Sakura ngerasa canggung banget. Kenapa pula dia kabur? Emangnya kenapa? Padahal 7 tahun kemarin mereka bareng-bareng kan? Putus tuh efeknya gini banget ya?

"Sakura gak tahu."

"Apanya yang gak tahu?" Sakura kaget. Lupa kalau dia gak sendirian di bilik ini. Sadar karena dia ngomong sendiri, Sakura gugup.

"Hehe. Gak kok. Bukan apa-apa." Balasnya. Orang yang lagi bareng sama Sakura itu adalah Gaara. Dia ngeliat Sakura lagi selama beberapa detik, terus lanjut minum kopi.

Kopi americano.

Kopi kesukaannya Sasuke.

"Apa? Mau?" Tanya Gaara lagi sambil nyodorin cangkirnya.

"Ih! Gak mau! Bekasnya Gaara!" Langsung ditolak sama Sakura.

"Oh? Kirain. Ngeliatin terus sih." Ditanggepin begitu cuma bisa buat Sakura diem aja. Karena Sakura gak menyahut, Gaara kembali nyeruput kopinya. Sambil ngeliatin Sakura yang kembali ngerjain kertas-kertas di meja. Sakura menyadari itu, makanya dia berhenti sebentar.

"Kenapa kok ngeliatin gitu? ada sesuatu di wajah Sakura?"

"Nanti jalan yuk."

"Hah?" Kalau aja Gaara bisa mendeskripsikan gimana ekspresi Sakura sekarang, mungkin Gaara bakal bilang lihat wajahmu tuh! Tapi Gaara cuma senyum geli aja ngeliat Sakura yang cengo.

"Kok tumben?" Dia bertanya-tanya. Soalnya selama ini yang selalu ngajakin keluar tuh Sakura. Lebih sering Ino dan Tenten juga sih. Gaara cuma jadi pawang. Itupun Gaara pasti ogah-ogahan walaupun ujung-ujungnya tetep nganter.

"Emang mau kemana?"

"Kemana aja kek. Taman yuk. Hanami gitu sebelum Sakuranya hilang." Jawabnya. Kembali mereka bertatapan terus dengan cepat Gaara kembali berbicara "Bunganya maksudku."

Didn't Expect! IITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang