First Step

409 53 13
                                    

Ada yang berbeda dari diri Naruto ketika dia baru menyadari kalau dia suka Hinata.

Hari ini dia terbangun dengan wajah penuh senyum. Mimpinya kemarin sungguh indah.

"Pagi ibuku yang cantik~" Kushina sampai keheranan karena tumben banget anaknya muji dia. Tapi Kushina maklum aja. Cinta. Aromanya gak bisa disembunyikan.

"Naruto. Kamu masih ingat kan kalau vegemite itu bukan coklat?" Tanyanya pada sang anak tunggal yang lagi ngunyah roti. Dia yang ditanya begitu auto keheranan sama Kushina.

"Masih. Makanya aku setiap hari cuma makan roti isi selai buah."

"Oh. Ya gak papa. Cuma takut aja kalau kamu lupa." Jawab ibunya sambil tersenyum misterius. Naruto gak mau mengambil pusing itu karena dia mau berangkat latihan.

Naruto bersenandung sesekali menggoyangkan badan ke kiri ke kanan. Melempar asal tas ransel ke jok penumpang dan meraih ponselnya, mengetik sesuatu disana.

Uzumaki Naruto

Hinata. Pagi :D

Dirinya tersenyum-senyum bahkan kalau bibi Chino ngeliat, mungkin dikirain tuan mudanya lagi gila.

Senyuman itu masih ada disana. Iya. Masih ada. Sebelum dia ngeliat lagi layar ponselnya, dan menemukan bahwa Hinata cuma ngebaca pesannya.

Naruto cengo ngeliat tulisan 'baca' di bawah pesan itu.

Satu hal yang dia baru sadari.

Hinata masih marah sama dia.

"Oh shit!" Dia frustasi. Membanting keningnya sendiri ke stir kemudi 2x. Kembali melihat layar ponsel itu dan gaada tanda-tanda bahwa Hinata akan balas pesannya. Kenyataannya, Hinata memang sudah membaca pesan Naruto itu. Jujur, dia udah gak masalah dengan kejadian kemarin. Sikapnya kemarin itu cuma sebagian dari inner child aja. Memang benar sih tadinya dia sedikit terkejut karena Naruto mengirim pesan. Maunya dibalas, tapi suara ketukan pada pintu menginterupsi.

"Kak Hinata. Ditungguin kak Neji di depan." Itu suara adiknya, Hanabi yang sekarang udah kelas 2 SMA. Hinata menyahut seadanya. Terus mengambil tas dan keluar untuk menemui Neji yang kata Hanabi lagi nungguin dia. Tetapi, bukan hanya Neji saja yang dia temukan. Melainkan ada Toneri juga di depan rumahnya.

"Toneri-kun?" Ia bersuara. Nadanya terdengar bingung sekaligus menyapa di waktu yang bersamaan. Pria itu tentu saja menoleh. Lengkap dengan senyuman yang kata anak-anak kantor kementerian sih....ganteng bingitsss. Mereka belum aja ketemu sama Sasuke. Hahaha :D

"Hai. Pagi."

"Pa-pagi." Sapa Hinata kembali dengan gugup. Soalnya Toneri tiba-tiba ada disini tanpa memberi kabar sebelumnya.

"Hinata. Sana berangkat." Semakin bingung pula waktu Neji nyuruh dia berangkat sama Toneri. Loh. Bukannya dia berangkat sama Neji?

Tapi Hinata mengerti. Ini pasti alasan saja. Tadinya Neji memang lagi nungguin dia. Terus tiba-tiba Toneri datang. Neji gak enak karena Toneri udah jauh-jauh jemput dia. Padahal Hinata kan gak minta.

"Ayo." Jadi yang bisa dilakukan Hinata adalah mengikuti Toneri saja meskipun dia canggung.

.....

BUG BUG BUG!

CKITTTT

"Mae. Mae!*"
*Depan!

Didn't Expect! IITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang