Enjoy reading ⑅
Sejak pagi hujan sudah turun membasahi bumi. Cuacanya yang amat dingin membuat siapapun akan malas bangkit dari kasur mereka. Suara gemercik air nya menambah kesan nyaman untuk tidur.
Sama hal nya dengan Azalia yang kini malah merapatkan kembali selimutnya. Namun, tak berselang lama kemudian gedoran pintu mulai terasa mengganggu pendengaran nya.
" AZA, KAMU GAK SEKOLAH? UJIAN LOH!" seru ayah nya di sebalik pintu, sambil menggedor berulangkali pintu kamar anak nya itu.
" AYAH UDAH BANGUNIN LOH YA, KALO KAMU GAMAU BANGUN TERUS NANTI TELAT, JANGAN SALAHIN AYAH!"
Mendengar ancaman tersebut, Azalia pun dengan perlahan mencoba membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk menghilangkan sensasi lengket yang membuat mata itu tak mau terbuka lebar.
Perlahan ia singkirkan selimut tebal itu dari tubuh nya. Dimulai dengan menyalakan lampu lalu membuka jendela, barulah membuka pintu untuk berangkat mandi.
" Hoaamm, ngantuk nyaa," ujar nya malas.
Semalaman penuh ia gunakan untuk belajar, mempersiapkan ujian yang akan ia hadapi hari ini. Sekitar pukul dua dini hari, barulah ia mulai memejam kan matanya.
Selesai mandi, ia kembali ke kamarnya untuk menyiapkan barang barang yang ia akan bawa ke sekolah. Barulah ia turun lagi untuk menyapa ayah nya dan sarapan.
" Ayah anterin ya hari ini?" Tawar ayah nya.
" Ya gimana lagi yah, kan motor aku di bengkel," jawab nya dengan menghela napas.
Kalian ingat? Saat kemarin ia mendapatkan kembali kucing nya, ia dengan tidak sadar kurang benar menurunkan standard motornya. Namun, karena terlalu bersemangat menemui ayah nya, ia bahkan tidak sadar sepedahnya roboh. Saat tau, sepedah itu sudah tak bisa menyala. Akhirnya pun dibawa ke bengkel.
" Tapi nanti pulang nya sama Rio ya," pinta ayah nya kemudian beranjak dari meja makan dan berjalan keluar.
Azalia mengangguk singkat lalu mengikuti langkah ayahnya yang menuju ke luar rumah. Ia pun berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan ia hanya menghafal materi yang ia pelajari semalam, juga mengingat-ingat apabila ada barangnya yang tertinggal.
Suasana sekolah kali ini sangat berbeda, sekolah yang biasanya amat riuh bak ayam bertelur. Kini menjadi sepi sunyi.
Siswa siswi nya bahkan tak menghiraukan yang di sekitar mereka. Berbagai penjuru sekolah berisikan gerombolan siswa siswi yang sedang membaca buku dengan circle nya masing masing.
Ia memasuki kelas, suasana nya sedikit berbeda. Berbeda dengan murid yang diluar, dimana mereka fokus dengan bukunya masing masing. Anak kelas Azalia malah fokus dengan makanan nya masing masing.
" Gue gak kaget kok," gumam nya sambil terkekeh kecil.
" Napa Za?" Tanya Kiara saat melihat Azalia terkekeh sendirian di ambang pintu.
" Aneh lo," sahut Kesia.
" Dih ngikut aja lo kayak jelangkung," balasnya sewot.
Ia pun kembali berjalan menuju mejanya. Ia duduk di meja banjar tiga saff dua. Tak sebegitu jauh dengan bangku Jingga.
" Mapel agama di hari pertama tuh maksudnya, biar kita berserah diri pada yang di atas dari awal gitu ya?" Celetuk Zafa tiba tiba.
Beberapa diantara mereka pun spontan tertawa, mendengar kalimat yang dicetuskan oleh Zava beberapa detik lalu.
" Astaga Zaf, Zaf, ada ada aja lo," ujarnya dengan tawa sembari memukuli pundak Rio yang baru saja meletakan tas di bangku sebelahnya.
" Aduh, ya gausah sambil nabok nabok juga kali Za," ucap Rio kesal.
" Dah masuk noh, cepet duduk, gue mau pimpin doa," ujar salah satu murid yang menjabat sebagai ketua kelas.
✧✧✧
Saat istirahat ia dan jingga memutuskan untuk pergi ke kantin, perutnya terasa lapar. Ia terus saja mengucapkan hal yang sama selama ujian masih berlangsung.
" Gue laper, jadi gabisa mikir." Lima kata itu terus saja ia ucapkan sampai bel istirahat pun akhirnya berbunyi.
Keduanya pun mencari tempat duduk seusai memesan. Seorang gadis melambalikan tangan nya disetai teriakan.
" AZA! JINGGA! SINII!" Panggil nya lantang.
Keduanya pun menurut dan mendekati meja gadis itu. Satu meja panjang itu di penuhi oleh enam orang yaitu, Adellyna, Taria, Rendra, Rean, Daryan dan Eldio dengan empat meja tersisa.
Baru saja akan duduk, namanya sudah dipanggil untuk mengambil pesanan, akhirnya ia pun berbalik untuk mengambil pesanan nya, sedangkan jingga sudah duduk manis bersama yang lain nya.
" Dasar lu, bukanya bantuin," protes Azalia.
Yang dimarahi pun hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.
" Impas Za. gue pesen, lo ambil, haha."
" Gak sama Kiara?" Tanya Eldio begitu keduanya sudah duduk tenang.
" Bentar kagi juga kesini kak, udah gue kab-" ucapan nya terputus ketika sorang gadis dengan rambut terkuncir kuda menyapa mereka semua.
" Hai, Sorry, suruh nemenin ke bk bentar tadi hehe," ucap Kiara.
" Ngapain ke bk? Kamu buat masalah?" Tanya Eldio.
" Gak, cuma ngumpulin absen."
" Kak Eldio kalo sama Kiara pakenya aku- kamu, sweet banget ga sih," bisik Jingga lirih tepat di telinga Azalia.
" Duduk depan gue situ Ki."
Kiara pun mengangguk, kemudian memutari meja tersebut untuk duduk di depan Azalia.
" Jadi deal ya? Habis ujian?" Tanya Adellyna di sela sela makan mereka.
" Gue sih oke aja kak," jawab Azalia.
" Gue juga," sahut Jingga dan Kiara serempak.
Tiba tiba suara menjadi bising, ternyata hujan kembali turun. Para siswa yang makan di kantin pun jadi berlarian untuk kembali ke kelas. Namun, tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk tetap tinggal dan makan dengan tenang.
Cuaca menjadi dingin, hujan sering turun akhir akhir ini. Bahkan tak jarang turun hujan pagi pagi sekali.
Tak lama setelah nya, bel masuk pun terdengar. Waktu untuk mengisi energi otak telah habis, kini saat nya bergelut kembali dengan soal soal ujian itu. Azalia, Jingga dan Kiara pun berlarian kembali ke kelas.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ngomong ngomong soal ujian, aku habis ini banyak ujian jugaa. Semangat buat kalian kelas kelas akhir 🤟🏻
Babayy lup yuu ( ◜‿◝ )♡
KAMU SEDANG MEMBACA
EUDAIMONIA
Fiksi RemajaSebuah Kisah pertemuan antara seorang gadis bernama Azalia Ghianara, dengan seseorang yang rupanya selama ini ia cari. Kisah kehidupan yang selama ini ia jalani, hanya dengan ayah nya. Juga dengan menyimpan rasa rindu terhadap bunda dan kakak nya. ...
