Enjoy reading ⑅
_____________________
Dua hari lalu, Daryan dan Nek Ami sudah pindah. Lalu sorenya, Nek Ami dan Ayah mereka pergi ke makam Irma untuk mengunjungi. Sebenarnya Azalia juga akan pergi. Namun ternyata ia malah demam, jadi ia tinggal di rumah dengan Daryan.
Dan sore ini, kedua anak Irma tersebut akan pergi mengunjungi nya.
Saat berangkat cuacanya sangat terik. Namun, kini malah menjadi sedikit redup.
Azalia hanya membuntuti Daryan yang berjalan di depan nya untuk menunjukan makam Bunda mereka. Azalia langsung terduduk saat berada di makam itu. Ia menabur bunga yang sempat dibeli di perjalanan kemari.
" Ini bunda ya kak?"
Daryan hanya berdehem untuk menjawabi.
" Bunda, liat bun sekarang Aza udah bisa liat."
Hati Daryan terasa sakit melihat adik nya mengatakan hal tersebut. Ia pun perlahan merendah untuk mengelus surai lebut Azalia yang sedang menangis.
Azalia yang sedang menangis tiba tiba melihat sebuah makan dengan nisan bertuliskan ' Leana indi.'
Tanpa sadar, mulutnya kembali mengucap.
" Ternyata dunia sesempit ini ya."
" Pendonor mata gue itu, orang yang jaga kakak dan bunda gue. Bahkan ibu nya yang mempertemukan gue sama kalian lagi kak," ucapnya.
" Za-"
" Lo tau kak? Pas gue liat berita tentang korban bis itu. Rasanya gue pengen cepet cepet ke lokasi buat liat kalian. Tapi, kalimat berikutnya bikin gue nangis sejadi jadinya."
" Fakta kalau penumpang bis itu-"
" Ga ada yang selamat."
Tangis nya semakin menjadi jadi di kala mengingat hal yang terjadi di saat itu.
" Waktu ayah pulang dari nyari tau, gue makin nangis, gue bingung. Ayah bilang, kalian ga ada di tempat kejadian."
" Aku semakin takut, kalian kemana," lanjut nya.
" Dan sekarang gue sadar kalo gue bodoh. Kakak gue ada didepan mata, dan gue malah gak tau itu."
" Kalo gitu, berarti gue juga bodoh. Gue yang pertama kali bikin interaksi sama lo dari nemuin name tag lo waktu smp."
" Tapi gue gak sadar, kalo lo, adek gue."
Azalia pun mulai mengusap air matanya setelah Daryan menyelesaikan kalimat nya. Ia mulai bangkit dan duduk di makam yang berada di sebelah makam bundanya.
Ia mulai menaburkan bunga yang tersisa.
" Terima kasih orang baik, berkat kamu, aku bisa liat dunia. Terimakasih banyak," ucapnya lalu mengangkat tangan untuk mendoakan Lea.
" Udah?" Tanya Daryan.
" Mau main? Kita agak canggung setelah hari itu," tawar Daryan.
" Emm, boleh," jawab Azalia setuju.
" Kemana?"
" Sungai deket taman anggrek, gimana? Kayak nya seger sore sore kesana."
" Ayoo berangkat!" Seru Daryan sambil membantu Azalia untuk berdiri.
Ia sedikit merasa sedih melihat mata sembab adik nya itu. Sungguh, ia benar benar melihat gadis itu tak berhenti menangis selama beberapa hari ini.
Terlebih saat ia demam hari itu. Bahkan dalam tidurnya pun, air mata masih menetes membasahi bantal yang dijadikan alas kepalanya untuk tidur.
Ia juga merasa percakapan nya sedikit canggung hari hari ini. Namun tak jarang Adellyna datang membuat keduanya bisa lebih banyak berbicara bersama.
Fakta tentang Azalia adalah adik Daryan mungkin sudah di dengar oleh teman teman dekat keduanya. Emm... Bukan mungkin, tapi memang sudah.
✧✧✧
" Ada mau sesuatu?" Tanya Daryan begitu sampai.
" Enggak, sana aja, deket sungai ya?" Tawar Azalia.
Daryan hanya mengangguk, lalu mengikuti Azalia yang sudah berlari menuju arah pinggiran sungai yang ada di depan mata.
Keduanya pun berhenti tepat di bawah pohon besar di pinggiran sungai. Setelah menyewa tikar di tempat persewaan, Daryan pun kangsung menggelarnya di bawah pohon tersebut.
Kuduanya duduk menghadap ke barat sambil melihat matahari yang tampak semakin turun. Cahayanya yang sangat terik seolah mengucapkan kalimat sampai jumpa esok pagi. Cahaya jingga menyinari bumi dengan indahnya. Ahh, pencinta senja pasti sangat menyukai momen ini.
Keduanya masih nampak canggung, daryan beberapa kali membuka ponselnya meskipun hanya untuk menggeser-geser saja, atau membalas pesan dari teman nya.
Ia mencoba memikirkan topik pembicaraan untuk nya dan adiknya. Beberapa kalimat dipikirkan nya gak berani untuk dilontarkan karena takut melukai sang adik.
Di sisi lain, Azalia ternyata juga sedikit terganggu dengan suasana hening tersebut. Ia juga ingin mencoba untuk memulai pembicaraan tapi bingung.
" Za, makasih untuk usaha lo sama Ayah cari gue dan Bunda kita selama ini. Gue harap, ga akan ada lagi perpisahan perpisahan lain lagi selain kematian," tutur Daryan begitu saja.
" Bisa kita mulai lagi lembaran barunya? " Lanjut nya.
Azalia yang mendengar lontaran dari kakak nya itu tentu saja terkejut. Setelah beberapa saat yang cukup lama dilanda keheningan. Tiba-tiba topik itu langsung keluar dari mulutnya.
Ia pun perlahan mengarahkan tubuh nya untuk menghadap sang kakak.
" Aku bersyukur sama Tuhan karna udah bawa kakak kembali ke kita, meskipun bunda justru diminta untuk pulang kepada-Nya," Balas Azalia.
" Terimakasih sudah kembali, kak."
Bersamaan itu pula, matahari pun kini tak terlihat lagi bentuknya. Bulan sudah menjadi penguasa langit untuk saat ini. Bintang bintang di sisinya membuat langit semakin cerah.
Rasanya Azalia tidak percaya, ia kini sedang duduk bersama kakak nya. Ia bahagia sampai tak bisa mendeskripsikan rasa bahagia itu sendiri.
Penantian yang begitu lama akhirnya membuahkan hasil, kini Beti memiliki satu majikan baru untuk dilayaninya.
Malam itu, rasanya jauh lebih cerah dari malam biasanya. Semilir angin nya jauh lebih segar dari biasanya. Suasana ramai di taman tersebut kini rasanya sangat menenangkan.
Setelah segala kalimat yang terlontar tadi. Daryan mengajak Azalia untuk pulang, karena takut ayah dan Nek Ami akan mencari mereka.
Ya, setidaknya ia bisa merasakan night ride meskipun bersama kakak nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat datang di 3 bab terakhir sebelum benar benar selesai.
Semoga, cerita ini bisa tamat sebelum ramadhan yeeee!!!!
Makasi udah baca, jangan lupa votmen nya yaa!!
Babayy, lup yuu ( ◜‿◝ )♡
KAMU SEDANG MEMBACA
EUDAIMONIA
Novela JuvenilSebuah Kisah pertemuan antara seorang gadis bernama Azalia Ghianara, dengan seseorang yang rupanya selama ini ia cari. Kisah kehidupan yang selama ini ia jalani, hanya dengan ayah nya. Juga dengan menyimpan rasa rindu terhadap bunda dan kakak nya. ...
