5#Bertemu

3.9K 473 39
                                        

Happy Reading

.
.
.
.

"Jadi dia seorang mahasiswa?"

Elena terkejut dengan kenyataan bahwa pria di sampingnya itu mengagumi orang lain selain dirinya, yang dimana adalah seorang mahasiswa di kampus sang empunya mengajar.

"Hm." Jeongwoo menyesap sigaretnya pelan, dia saja masih tidak menyangka sosok Ruby adalah salah satu mahasiswa nya.

Setelah bimbingan selesai, dia memutuskan untuk datang kembali ke sini menemui Elena. Namun bukan di dalam club, melainkan di luar jam kerja.

Keduanya berada di rooftop untuk berbincang karena semalam tidak bisa bertemu, juga Elena tidak di izinkan melayani pelanggan nya sampai masa haidnya selesai.

"Apa... Anda mulai menyukainya?" Satu hal ini adalah yang paling Elena ingin pastikan, bagaimana perasaan pria itu setelah bertemu sosok yang telah menggoyahkan hati prianya.

Pria-nya? Mungkin sebentar lagi bukan miliknya.

Salahnya yang berharap terlalu banyak pada seorang Justin, mungkin memang benar pria itu akan menanggung hidup anaknya hingga pendidikan nya selesai.

Tapi bukan berarti ingin hidup bersamanya, kan?

Jeongwoo memalingkan wajahnya menatap Elena yang memandang jauh ke arah sana, dia bingung pada perasaan nya sendiri.

Sebelum bertemu sosok Ruby, ia acap kali merasakan debaran yang menyenangkan setiap berada di dekat wanita itu.

Namun kini, debaran nyata itu mulai sedikit berkurang tak sehebat dulu.

"Hey, don't worry. Saya hanya mengagumi nya, tidak lebih." Jeongwoo mengatakan itu karena belum tau pasti tentang rasa yang dia miliki, dia tidak bisa menyimpulkan nya sekarang.

Lagipula, semua persiapan yang dia rencakan untuk menikahi Elena sudah hampir mencapai 80%.

Tinggal menunggu waktu, juga kapan Elena siap meninggalkan pekerjaan nya.

Elena tersenyum getir, dia tau hanya dengan melihat mata itu. Sorot mata mengagumi yang perlahan memudar, tidak sama lagi.

"Eum." Hanya itu, yang bisa dia ucapkan sembari mengelus jemari sang empunya yang berada dalam genggamannya.

Lalu, di cafe Haruto dan Dongpyo asik berbagi cerita tentang bagaimana dosen-dosen di kampus mereka terlalu mengikut campuri urusan mahasiswa/i.

Dongpyo bahkan sampai menggebrak meja di sana karena saking larut nya bercerita, "Bener-bener emang tuh dosen, dia gak tau aja kalau gue tau soal dia selingkuh sama dekan."

Haruto mengangguk pelan, dia juga tau hal itu dari Dongpyo. Segala macam berita yang tidak di ketahui mahasiswa/i, temannya itu tau segalanya.

Karena Dongpyo, tipe yang gampang mendapatkan informasi meski itu rahasia sekalipun.

"Gue juga heran, kayak gak ada kerjaan banget tuh ibu-ibu ngurusin hidup kita. Ngebiayain gak, tapi ikut ngurusin." Kompor Haruto, dia juga sebal pada dosen nya yang satu itu.

"Tah etah! Harusnya mah dia sebagai dosen ngebantu lah ya sedikit mahasiswa nya, ini gak sama sekali. Andai aja waktu itu lo gak tahan gue di ruang sidang, udah gue bongkar tuh aibnya di depan anak-anak."

Kesal Dongpyo tuh, hanya perkara dia tidak menyapa sang dosen ketika berpas-pasan dia di anggap tidak mempunyai sopan santun.

Hingga merembet ke arah hal pribadi nya, sang dosen acap kali ikut campur jika dia mempunyai masalah dengan seseorang di luar kampus.

Bahkan sang dosen sampai mengompori kedua orangtua nya, dan hampir membuat dia di pindah kan karena di cap sebagai mahasiswa tidak sopan.


.
.
.


Pukul sembilan malam, Haruto kembali ke club karena mendapat panggilan dari Mommy bahwa ada pelanggan dari kalangan atas yang datang menginginkan nya.

Dia sedikit berlari kecil untuk segera sampai pada kamar pegawai untuk mengganti pakainya nya.

Bugghh!

"Akhh, maaf." Haruto meminta maaf karena telah menabrak bahu orang itu, dia benar-benar di buru oleh waktu sekarang.

Ketika ingin kembali melangkah, lengan nya di tarik oleh seseorang. "Haruto?"

Mata Haruto mengerjap cepat, mencoba mencerna sedemikian rupa. "Kamu ngapain di sini bukannya ngerjain tugas akhir?"

Satu.

Dua.

"B-bapak! Ngapain di sini!?"

Jeongwoo memutar malas bola matanya, membawa Haruto menjauh dari banyaknya orang yang asik berjoget di sana mengikuti irama lagu.

"Di tanya malah nanya balik, saya tanya kamu ngapain jam segini masih di sini." Dia sedikit geram melihat Haruto yang terlihat gelisah di tempatnya.

Seperti seseorang yang tengah di kejar, padahal tidak ada siapa-siapa di belakang nya.

"I-itu... Saya ada janji sama orang di sini! Iya, di sini." Balasnya. Dia gugup, bahkan jantungnya serasa ingin copot melihat manik itu menatapnya tajam seolah ingin menghunusnya.

Pandangan keduanya yang sekilas terfokus satu sama lain berganti alih menatap ponsel Haruto yang berdering, panggilan atas nama 'Mommy Sky Garden' .

Yang tak lain adalah nama club ini, juga Jeongwoo tidak asing dengan panggilan itu di sini.

Haruto panik, telapak tangannya berkeringat banyak karena panggilan tersebut dan sorot tajam mata sang dosen padanya.

"Angkat." Titahnya. Bodohnya Haruto menurut dengan tangan bergetar mengangkat panggilan itu di depan Jeongwoo.

"Halo, Mom..."

Haruto melirik ke arah Jeongwoo yang setia memperhatikan nya tanpa melepaskan pandangan sedikitpun.

Dan rasanya semua berjalan begitu lambat, jantungnya berpacu cepat ketika ucapan di sebrang sana terdengar oleh Jeongwoo.

"Where are you? The client is waiting for you now, dear."

Jeongwoo mendengar dengan jelas bahwa pemilik club ini mengatakan jika seseorang tengah menunggu Haruto sekarang, bukan dia tidak tau maksudnya.

Dia hanya berpura-pura tidak tau.

"O-oke, Mom. Wait..."

"Maaf, Pak. Saya harus segera pergi, sekali lagi saya minta maaf." Tak lupa Haruto membungkuk berpamitan dari sana. Dia tidak boleh telat barang semenit pun dari waktu yang di tentukan.

"Besok, besok saya mau kamu bimbingan di ruangan saya pukul sebelas." Setelah mengatakan itu, Jeongwoo berlalu dari sana terlebih dahulu tanpa mendengar jawaban Haruto yang telah mencak-mencak di tempatnya.

.

.

.

Tbc

Masih ada yg nungguin ini gak?
Votment ya ges kalo mau lanjut

Terimakasih sudah singgah membaca♡

One BillionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang