Eleanor berseru, "PANGERAN ESSAM!"
Aku dan Eleanor berlarian menghampiri Pangeran Essam yang baru saja terjun dari langit, sama seperti yang aku dan Eleanor lakukan sebelumnya.
"Bagaimana mungkin?" Aku bertanya dengan nada rendah. Bukankah Pangeran Essam tidak dapat ditemui dimanapun? Namun sekarang kenapa dia ikut terjun ke sini? Sebenarnya Pangeran Essam dari mana?
Pangeran Essam beringsut duduk, dia membersihkan pakaiannya lantas berdiri, memandangi aku dan Eleanor dengan pandangan datar.
"Sudah aku duga." Eleanor bersedekap dada. Aku agak terkejut mendengar suara Eleanor yang cukup angkuh jika dilayangkan untuk seorang Pangeran Kerajaan. Bagaimana jika Eleanor dihukum?
"Aku selalu merasa aku tidak sendiri di sana." Eleanor menunjuk ke atas langit, tempat kami sebelumnya. "Sebelum ada Vienne, aku merasa ada seseorang yang mengawasi, dan ternyata itu adalah seorang Pangeran Kerajaan yang terhormat."
Aku menatap wajah Pangeran Essam yang datar tanpa ekspresi. Itu membuatku sulit menebak apakah Pangeran Essam sedang marah atau menyesal.
Tiba-tiba Pangeran Essam berjalan mendekati Eleanor, menjulurkan tangannya.
"Maafkan aku, sudah mengikutimu." Pangeran Essam berkata pelan, menatap Eleanor yang kesal.
Aku diam, masih tidak mengerti maksud kekesalan Eleanor, dan kenapa pula Pangeran Essam meminta maaf?
"El?" Aku menyikut lengan Eleanor.
Dengan sedikit malas, Eleanor membalas uluran tangan Pangeran Essam, mereka berjabat tangan.
"Untuk seorang laki-laki, kamu terlalu pengecut untuk tetap bersembunyi di belakang seorang perempuan. Kamu tidak bisa bertindak sendiri, hanya bisa mengambil kesempatan emas dari apa yang aku perjuangkan."
Pangeran Essam mengangguk. "Ya, itu benar. Tapi, aku melakukan ini bukan tanpa sebab, aku mempunyai maksud," kata Pangeran Essam. Aku terdiam dengan mata tak berkedip. Pangeran ini, Pangeran yang aku juluki sebagai Pangeran bisu ternyata memiliki suara luar biasa menawan, membuatku terpana selama beberapa saat.
"Maka dari itu, izinkan aku menjelaskan inti dari masalah ini."
****
Aku, Eleanor, dan Pangeran Essam duduk melingkar di tengah hutan yang tidak kami ketahui letak persisnya di mana.
"Tempat ini adalah hutan terlarang yang sebenarnya." Pangeran Essam mengeluarkan suaranya.
Mataku melebar, ini hutan terlarang? Aku telah tiba di hutan terlarang? Dan Eleanor, gadis itu tampak mengangguk-angguk, sepertinya dia sudah tau.
"Sebenarnya aku telah tiba di jurang itu satu hari sebelum Eleanor tiba. Aku sudah menunggu di sana, memikirkan cara untuk memasuki hutan terlarang yang sesungguhnya. Hingga, aku melihat Eleanor seorang diri jatuh dari atas jurang. Aku mengenalnya, lebih tepatnya aku tahu dia adalah salah satu anak dari pekerja di kerajaan." Pangeran Essam diam sejenak.
"Pengetahuanku mengenai hutan terlarang berhenti sampai di sana, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa, hingga aku memutuskan untuk bersembunyi, memantau Eleanor dari jauh, apalagi aku melihat dia membawa kertas penting milik kerajaan. Itu yang membuatku yakin jika Eleanor pasti menemukan hutan terlarang."
"Temannya datang, dan itu adalah kamu?" Pangeran Essam menatapku. Aku mengangguk takzim. "Namaku Vienne, Pangeran."
"Baiklah, Vienne. Maafkan aku sudah mengikuti kalian berdua, memanfaatkan lebih tepatnya."
"Tapi, kenapa Pangeran lebih memilih untuk bersembunyi? Bukankah Pangeran harusnya jujur saja dari awal? Dan kita bisa menemukan letak hutan terlarang itu bersama-sama," kataku. Pangeran Essam berpikir sejenak.
"Itu juga yang aku pikirkan dari awal. Namun, itu pasti tidak berjalan dengan lancar. Aku tau, Eleanor bersikeras untuk menemukanku di dalam hutan terlarang. Jika aku menunjukkan diri dari awal, perjalanan ini mungkin saja batal, dan kita kembali ke wilayah kerajaan, karena tujuannya telah terlaksana, menemukanku."
Eleanor memotong, menggeleng cepat. "Aku tidak ingin mencarimu, Pangeran. Aku mencari hutan terlarang bukan untuk dirimu. Jadi, jangan terlalu percaya diri."
Aku menepuk dahi, tidak bisakah Eleanor sedikit saja berhati-hati dalam berbicara pada Pangeran kerajaan? Bagaimana jika Pangeran Essam tersinggung? Lantas terjadi keributan.
Namun, dugaanku salah. Pangeran Essam malah tertawa pelan. "Tapi tetap saja, kamu menggunakan namaku untuk membujuk ayah memberikan catatan penting milik kerajaan itu."
Mulut Eleanor tertutup rapat. Tidak bisa membantah ucapan Pangeran Essam.
"Dari yang aku lihat, hutan ini terletak persis di bawah hutan yang kita kunjungi sebelumnya. Hutan ini tidak berada di permukaan, namun di bawah tanah. Semuanya serupa dengan hutan di atas sana, itu sengaja dibuat agar kita terkecoh dan merasa gagal menemukan hutan terlarang, mereka membawa kita seolah-olah hanya berputar disatu tempat. Dan cara memasukinya hanya satu, melewati retakan berbentuk lingkaran, yang beruntung kalian temukan. Tidak semua orang seteliti kalian, kebanyakan dari mereka tidak tau jika hutan terlarang yang asli harus melewati sebuah portal, dan muncul dalam perut bumi."
"Tapi, ini semua tampak seperti di permukaan." Aku menelisik sekitar. Lihatlah, hutan ini sama persis dengan hutan sebelumnya. Dan tanah yang aku pijak sekarang, sama dengan tanah retak melingkar di atas sana, bedanya tidak ada retakan di sini. Aku juga menoleh ke atas, aku berpikir jika berada di perut bumi, maka di atas kami adalah tanah-tanah, tapi sekarang, ini adalah langit, langit yang benar-benar nyata.
"Sihir bisa melakukan apapun, Vie." Eleanor mendengkus, lantas duduk, meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Benar, hutan ini adalah sihir. Kita berada di tempat jauh sekali, tidak bisa di pantau oleh siapapun." Pangeran Essam bantu menjawab.
Aku masih melongo di tempatku berdiri sekarang. Ya, jika kekuatan semacam api yang keluar dari tanganku, teleportasi, dan angin dari tubuh Eleanor, meskipun tidak masuk akal, aku masih bisa menerima dan percaya. Tapi hutan ini, sebesar ini? Yang benar saja!
"Jadi apakah hutan ini adalah buatan seseorang?"
Pangeran Essam manggut-manggut, "Bisa dibilang begitu. Dia membuat hutan terlarang untuk pertahanan diri, jauh dari jangkauan siapapun. Rintangan yang kita hadapi sebelumnya, aku yakin sekali itu karena ulahnya. Di sini, di hutan terlarang ini dia bersembunyi. Dan, tujuan aku mencari hutan terlarang ingin menghentikan orang tersebut."
Aku terkesiap, pun dengan Eleanor yang sebelumnya masih kesal dengan Pangeran Essam.
"Eh Pangeran kerajaan terhormat, kamu tau siapa orang itu?" Eleanor melotot, dia terlihat tidak sabaran.
"Tentu saja. Tapi kamu harus melakukan satu hal untukku," kata Pangeran Essam pada Eleanor.
Alis Eleanor bertaut. Aku juga penasaran dengan maksud kalimat Pangeran Essam.
"Melakukan apa?" Eleanor bertanya bingung.
"Memaafkan kesalahanku."
****
To be continued...
KAMU SEDANG MEMBACA
FORBIDDEN FOREST [COMPLETED]
Fantasi[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Vienne mengambil keputusan paling buruk dalam hidupnya, yakni menyusul Eleanor, temannya yang pergi dengan tujuan mencari Pangeran Essam yang dikabarkan menghilang tiba-tiba di tempat paling mengerikan wilayah Kerajaan Etter...
![FORBIDDEN FOREST [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/333164947-64-k790684.jpg)