22 (end)

4K 238 17
                                        

...

"Gaga"

Raka meracau dalam tidurnya, nafasnya terdengar memburu . Taka yang baru masuk hendak melihat kondisi Arga terkejut dengan keberadaan Raka yang tertidur pulas dengan posisi duduk dan menggenggam tangan Arga yang masih terlelap. Taka mengenyit kala mendengar suara racauan Raka yang terus memanggil nama Arga.

Karena takut adiknya kenapa-napa dia mulai lah menggoyangkan tubuh Raka kekanan dan kiri. Merasa tetap tak direspon dia mulai memutar otaknya , bagaimana cara membangunkan Raka yang tidurnya kebo gini. 

Ahaaa

Dia mendekatkan mulutnya di telinga kanan adiknya lalu berbisik,

"Gaga bangun" ucapnya pelan namun penuh penekanan yang mana berhasil membuat kedua kelopak mata Raka terbuka .

Raka menatap wajah Lamat Arga, lalu menatap sebal Wajak kakaknya yang non akhlakes. Ini bukan yang pertama kali dia dibangunkan dengan cara seperti ini ya.

"Kakak" ucapnya penuh intimidasi

Tanpa sadar Taka meneguk ludahnya kasar mendengar suara Raka yang penuh tekanan. Sial, bagaimana bisa dia lupa sejak kejadian hilangnya Arga , Raka nampak seperti orang yang berbeda dari biasanya.

Raka jadi orang yang emosional.

Cklekk

Raka dan Taka menatap kedua orangtuanya yang baru masuk ke dalam ruang rawat Arga, yaa kalian tidak salah baca.

Arga memang sudah dipindahkan ke ruang rawat tentunya dengan standar VVIP.

Bahkan, Arga juga telah melakukan cuci darah untuk membersihkan racun dalam tubuhnya dan berhasil.
Tubuh Arga mengalami kemajuan pesat, hanya saja ntah kenapa sampai ini masih belum juga mau membuka matanya.

Mereka semua khususnya Raka sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa bersama Arga lagi walau nantinya akan ada efek samping dari luka luka ditubuh Arga.
Mereka berjanji akan menjaga Arga lebih baik lagi, dan tak akan membiarkan Arga lepas sedikitpun dari jangkauan mereka.

Ayah mengusap kepala Raka juga Taka , tak lupa pula Arga yang masih terlelap dengan nafas teratur.
Ntah mengapa ayah jadi suka menatap dada putra bungsunya itu, dia suka menatap gerak naik turun beraturan itu. Rasanya bahkan jika dia mengalihkan pandangannya walau hanya sejenak detak itu akan kembali hilang.

Bunda pun sama.

"Kakak sama Abang sudah makan siang belum nak? Kalau belum buruan makan gih kekantin dulu takut nanti kalian malah jadi ikut sakit lagi" ucap bunda lembut sambil natap putra putranya.

Taka mengangguk tanda sudah

Sedangkan Raka malah menatap Arga, trus jawab.

"Emang kalau aku makan sekarang, Arga bakal bangun Bun? Gaga juga belum makankan Bun? Bahkan udah hampir sebulan kerjaannya hanya tidur Mulu" ucapnya dengan nada kesal diakhir.

Ayah bunda tersenyum sendu, seperti inilah selalu respon Raka jika disuruh makan atau istirahat. Selalu saja harus di paksa jika tidak dia akan seolah lupa kesehatannya sendiri.

Ayah ngusap pundak Raka lembut,

"Emang Raka mau, nanti Gaga -nya sedih liat Raka yang jadi kurusan gini saat dia bangun? Bukannya adek seneng banget ya liat pipi mbul kamu" ucap ayah dengan kekehan kecilnya.

Raka mberengut , mukanya masam.
Dia tidak suka dipanggil mbul kalau bukan Arga yang memanggil. rasanya imagenya seolah jatuh .

Raka mengangguk pasrah kalau begini. Diakan ga mau Arga sedih nantinya.

Comeback (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang