BAB 4

13.7K 1.2K 34
                                        

Leon melangkah masuk ke kelas dengan hoodie putih nya, menarik perhatian hampir semua murid di sana. Kebisingan khas anak-anak puber yang bercanda, tertawa atau sekedar bermain tiktok di pojokan. Leon, yang tidak terbiasa dengan suasana berisik seperti ini, memasang earphone di telinganya, mencoba menciptakan dunia kecilnya sendiri.

Kehadiran Leon selalu membawa sensasi tersendiri. Pandangan para murid langsung tertuju padanya, seolah dia adalah magnet. Dengan langkah tenang, Leon berjalan menuju tempat duduk di pojok, dekat jendela yang terbuka. Rambut peraknya berkibar lembut tertiup angin, memantulkan kilauan matahari yang masuk melalui celah jendela.

Bermacam macam tatapan tertuju pada Leon. Mulai dari siswa siswa yang iri hingga siswi siswi yang terpana.

" Ah.. dia tebar pesona lagi." Seorang siswa mendengus kesal.

" Ya. dia pikir dia MC!." Sahut temannya yang duduk bersila di atas meja.

Ketiga siswa itu duduk sambil menatap Leon dengan iri. Mereka tidak terima yang menjadi pusat perhatian adalah anak yang dulu culun dan lemah bukan salah satu dari mereka.

" Apa bagusnya dia. Dia hanya budak Eder."

" Tapi menurutku, dia memang imut." Ketiganya langsung menoleh pada orang di belakang mereka, tubuhnya kurus dan kemeja kekuningan. siswa ini sangat berbeda dengan anak anak lain yang cenderung memakai barang barang bagus, tapi dia adalah siswa dengan nilai akademik dan non akademik yang paling bagus.

" Sudah miskin, homo lagi." Gumam ketiganya, berekpresi sinis.

Di sisi lain kelas, Lena, salah satu siswi tak mampu mengalihkan pandangannya dari Leon. "Andai semua cowok kayak dia, hidupku pasti bahagia banget," ujarnya sambil menopang dagu dengan tangan, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.

"Dua minggu lalu kamu bilang dia itu cowok cupu internasional loh." Seorang siswi berkaca mata, memutar bola matanya dengan malas.

Lena cemberut, terlihat sedikit kesal. "Ya beda lah, Ri. Dulu dia pendiam, berantakan, dan nggak punya masa depan. Siapa yang suka coba?" Kembali mengarahkannya ke arah Leon, yang terus memandangi keluar jendela dengan ekspresi tabahnya.

" Aku pengen makan pipinya. iiih gemec!." Lena berucap penuh semangat, menatap lapar ke arah Leon.

"Kalau memang suka, kenapa nggak langsung deketin aja?" Rica bersender di meja, memandang malas ke arah temannya.

Lena tertawa sejenak, meletakan tangannya di pinggulnya yang montok." oh astaga, Okay~."

Dengan penuh percaya diri, dia bangkit dan berjalan mendekati Leon, meninggalkan Rica yang hanya bisa mendesah. Lena siswi baru yang mendapat gelar siswi ter centil seantero sekolah, walau dia juga menjadi yang tercantik kedua di saat bersamaan.

Sambil memainkan rambut merah panjangnya, Lena berhenti di depan meja Leon. "Ehem, Leon." Suaranya dibuat semanis mungkin. "Aku mau minta maaf soal sikapku dulu."

Leon, yang sejak tadi tak memperhatikan, akhirnya menoleh dengan tatapan sayu dan mengantuk. Lena tersenyum malu-malu, mengira dirinya berhasil menarik perhatian.

Namun, alih-alih balasan manis, Leon hanya berkata dengan nada dingin, " minta maaf?"

" Ya ya!."

" No, thanks." Leon kembali memasukkan earphone ke lubang telinganya.

Wajah Lena memerah malu, tapi tetap menjaga nada genitnya. Sambil menggoyang kan tangan Leon dengan manja, dia berujar."Leon, kok gitu? Aku kan cuma mau-"

Leon menghempaskan tangan Lena dengan kasar. "Menggelikan."

Lena yang biasanya percaya diri dan angkuh langsung kehilangan kata-kata hanya dengan satu kata. Dengan air mata yang mulai mengalir, dia berlari keluar kelas, meninggalkan semua orang terdiam.

Rica menatap Leon tajam sebelum menyusul Lena. "Bajingan!, dia hanya ingin minta maaf." teriaknya, membuat suasana kelas semakin tegang.

Sedangkan siswa laki laki yang sudah menjadikan Lena ratu mereka,ikut menatap sinis ke arah Leon.

" Kamu kelewatan, bro."

"Setidaknya kalau gak mau maafin, gak usah ngejek! ."

" Tchi, pecundang."

"Maafin aja sih, susah banget."

Mereka mencibir Leon terang terangan. Mereka lupa bagaimana Lena memperlakukan Leon sebelumnya, mereka hanya tau laki laki yang menyakiti perempuan adalah pecundang.

Leon hanya menghela napas dan kembali menatap keluar jendela. Dalam hati, dia berpikir, Kenapa aku harus peduli pada orang yang selalu merendahkan orang lain?.

Tapi saat memikirkan seorang gadis kecil menangis karna dia, hati Leon juga merasa tak enak.

" Aku kelewatan?."

©®©

Di luar kelas, Lena duduk menangis di sudut tangga. Rica, yang berdiri di sampingnya, hanya bisa menghela napas panjang. "Len, udah dong. Nangis gitu malah bikin maskara kamu luntur."

" Aku cuman minta maaf!, kenapa dia ngomong gitu-hiks." Lena memegangi wajahnya yang mulai memerah, mencoba menyeka air matanya yang terus mengalir. Dia adalah anak perempuan satu satunya, orang di sekelilingnya selalu berbicara baik dengannya. Ini adalah kali pertamanya dihina seperti itu!, apa lagi dari pemuda yang dia sukai!.

" Kamu juga sering bully dia kan." Rica menyodorkan tisu dengan malas.

Belum sempat Lena membalas, suara langkah kaki terdengar mendekat. Mereka berdua menoleh dan mendapati dua murid laki-laki tampan berdiri di ujung koridor. dengan lambang di kerah baju mereka, yang menunjukan angka IX(9). Walaupun jelas mereka ada di angkatan yang sama, Lena dan Rica merasa berhadapan dengan orang yang lebih tua.

Salah satu dari mereka ber rambut hitam agak berantakan dan aura dingin, bertanya, "Kalian tahu di mana pika-... Leon?"

Rica merasa jantungnya berdegup kencang. Wajah kedua pemuda itu begitu sempurna, tapi mereka adalah orang orang yang paling di takuti oleh semua murid yang ada di sekolah ini.

Dengan gugup. "Dia... di kelas 9-D."

salah satu dari mereka sambil mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang. "Bos, Pikachu di 9-D. lantai dua di gedung C."

Lena, yang dari tadi terpaku, tiba-tiba berbicara dengan suara manja. "Kak, kalian ini... Ganteng banget, ya."

Salah satu dari mereka yang tampan namun juga terlihat cantik, menatapnya dengan lembut membuat Lena semakin percaya diri.

" Oh ya?."

" Humn, benget! ." Gadis itu mengangguk antusias.

"Kamu juga cantik. seperti kambing." Belas pemuda itu diiringi kekahan mengejek.

Lena terdiam kaku memasang wajah berkaca kaca siap kembali menangis. Ini kedua kalinya dia di ejek oleh si tampan.

©®©

Leon menatap tiga siswa di depannya. Mereka dengan mudah mendapatkan izin guru untuk menariknya ke lorong di sudut sekolah yang sepi dan sunyi.

Saat melihat wajah yang berbekas di ingatan nya, jemarinya tanpa sadar sedikit bergetar.

"Jadi, kamu sudah mengingatku, Pikachu?" Salah satu dari mereka meraih dagunya, dengan kasar menariknya mendekat.

Leon bertatapan dengan netra merah darah yang dalam dan dingin, begitu dingin hingga bisa membuat orang merasa tertekan tapi juga terpana.

Leon meraih tangan pemuda itu dengan jemarinya yang lebih kecil. Dengan memasang wajah tibetnya, "Tanganmu bau rokok. Jangan dekat-dekat."

To Be Continued.

New Soul Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang