BAB 26

4K 374 46
                                        

Seorang pemuda dengan tinggi 1,85 meter keluar dari mobil hitamnya. Pakaian santai dan celana selutut tak mampu menyembunyikan otot-otot yang tercetak jelas di balik kaus putihnya. Hormon maskulin seolah terpancar ke segala arah, cukup untuk membuat beberapa mata genit di sekitar tempat parkir melirik penuh rasa ingin tahu.

Deyan mendongak menatap gedung rumah sakit, memasukkan tangannya ke saku, lalu melangkah masuk.

Sudah empat hari ia keluar-masuk kantor polisi dan rumah sakit, memarahi orang, dan kehilangan tidur setiap malam. Tapi anak yang membuatnya seperti ini… masih belum juga sadar.

"Selamat siang, Tuan Muda."
Deyan melirik dua pria besar yang berjaga di depan ruangan adiknya.

"Ada masalah?"

Mereka menjawab dengan hormat, "Tidak, Tuan Muda. Dokter memeriksa Tuan Muda ketiga dua jam yang lalu. Beliau mengatakan Tuan Muda ketiga akan segera sadar."

Wajah datar Deyan menegang sejenak sebelum akhirnya melunak. Sebuah senyum kecil muncul di bibirnya. Tanpa menghiraukan dua penjaga itu, ia langsung membuka pintu dan masuk.

Langkahnya terhenti.

Di atas ranjang rumah sakit, seorang pemuda dengan gaun pasien berwarna biru bergaris putih duduk diam. Tubuhnya tampak rapuh, seolah angin sedikit saja bisa membuatnya lenyap. Mata bulatnya sayu, menatap pepohonan di luar jendela.

Adiknya yang menyebalkan itu akhirnya terbangun.

"Leon."

Mata setenang laut itu beralih ke arahnya. Sebuah senyum manis, lembut, dan hangat mekar di bibir bocah itu. Senyum yang bisa membuat bunga tumbuh dan menyinari malam.

"Kakak… kau akhirnya datang."

Deyan menelan ludah melihat senyum itu ditujukan padanya. Ia melangkah cepat menghampiri Leon.

Leon mendongak, menatap sang kakak, "Kenapa lama sekali?."

Deyan berdehem keras, mencoba menekan emosi yang naik-turun di dadanya, lalu kembali memasang wajah galaknya.
"Jangan mengeluh, dasar bocah! Kau yang membuat masalah, masih sempat protes?."

Ia melipat tangan di dada, suaranya meninggi.
"Apakah kau akan mati kalau menuruti omongan kakakmu? Atau perlu aku potong kakimu biar kau diam di tempat, hah!?."

Leon menunduk, tampak menyesal, lalu menatap kakaknya dengan mata sayu. "Maaf, Kak."

"Bagus. Akhirnya kau tahu kau salah."

Deyan mengalihkan pandangannya, dia merasa jika melihat Leon lebih lama dia akan melupakan apa yang dilakukan bocah ini dan buru buru memanjakan nya. Tidak bisa!, liat apa yang terjadi saat dia memanjakan nya, bocah itu berkeliaran seolah tak mengenal dunia dan akhirnya mendapat petaka.

Mengingat kondisi Leon saat ditemukan, amarah Deyan kembali naik seperti gelombang pasang.
"SIAL! Seharusnya aku merantai si bodoh ini dengan benar! Sebenarnya apa yang terjadi saat aku cuma memalingkan pandangan sedikit, hah!?."

Leon memejamkan mata saat percikan ludah Deyan hampir mengenainya. Tepat saat ia mengira telinganya akan pecah, suara lain memotong.

"Dia baru saja lepas dari kematian dan kau sudah meneriakinya?."
Teguran itu datang dari Deo, yang menentang banyak tote bag.

Deyan menghembuskan napas kesal, lalu berjalan ke jendela dan membelakangi mereka, merajuk dalam diam.

Deo tidak menggubrisnya. Ia langsung menghampiri dan memeluk Leon dengan erat. Wajahnya tenggelam di leher adiknya, suaranya sedikit bergetar saat berunjar,
"Akhirnya kau bangun... Kau tidak tahu seberapa hancurnya kami saat melihatmu berlumuran darah."

New Soul Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang