BAB 24

5.3K 435 37
                                        

"Ugh... sialan! Apa maksudmu!?" Leon terguncang, tangannya mencengkeram perutnya yang kini basah oleh merah yang berbau menyengat. Rasa nyeri menjalar tanpa ampun, membuat tubuhnya hampir tumbang.

Dia mundur beberapa langkah, sambil meringis.

Di depannya, Aigen berdiri dengan pisau yang berlumur darah.

Dan tanpa peringatan, Aigen menendang dada Leon keras. Tubuh kurus itu terpental dan jatuh mencium tanah.

"Agh..." Leon mengeram kesakitan. menutup perutnya dengan tangan, berusaha agar darahnya tak merembes semakin banyak.

"Dia benar benar berniat membunuhku. Seharusnya aku tak datang!, bodoh sekali!." Leon mengutuk dirinya sendiri ribuan kali.

Aigen mendekat dengan langkah ringan, lalu berjongkok tepat di hadapan Leon yang tersungkur. Dia menggenggam pisau berlumur darah itu dengan keras hingga kuku kukunya memutih.

CKREK!

Suara basah yang tajam terdengar saat pisau menembus punggung tangan Leon dan tertancap ke tanah.

"AGGH-." Teriakannya tertahan di tenggorokan, dia refleks memegang tangannya yang terluka. tapi tangan sang pelaku sudah lebih dulu mencengkram tangannya yang lain, benar benar hendak meremukan setiap tulang di tangannya.

Netra biru Leon bertenu dengan mata rusa Aigen. Kedua mata itu menatapnya dengan sangat dalam dan tajam, dan untuk pertama kalinya selama beberapa bulan terakhir, Leon merasa terintimidasi oleh Aigen.

" Aku harus kabur... Bagaimana, bagaimana caranya."Leon merasa tak berdaya.tubuhnya kehilangan banyak darah hingga sulit melawan, bahkan untuk bergerak saja membuat dagingnya terasa terkoyak lebih lebar.

"Hentikan.... ." Menatap Aigen dengan suara lirih.

Sluurrrt..

Dibutuhkan dua menit lebih agar Aigen akhirnya mencabut pisaunya.

Setelahnya, dia masih berjongkok, menikmati wajah kesakitan dan ringisan Leon. Dengan pisau yang meneteskan darah di tangan kirinya,
" Leon, katakan, apakah sejak awal kau... Sudah berencana menipu kami?."

Leon tak dapat menjawab untuk beberapa saat, dia berusaha menjaga kesadarannya tetap utuh sambil mencegar darahnya merembes, "Aku tidak tau apa-."

Sebelum berhasil menyelesaikan ucapannya, Aigen sudah menarik rambut belakang nya dengan keras. Dia dapat mendengar suara gigi gigi anak itu bergesekan.

"Kalau kau jujur, aku berjanji. jasadmu masih bisa dikenali, dan ditemukan dengan utuh." Anak itu berujar dengan cara mengintimidasi, dan menekan.

".... Aku tidak melakukannya."

Sebelum Aigen berhasil menyerangnya dengan pisau, Leon dengan sisa sisa tenaganya memukul titik buta Aigen dengan kepalan tangannya.

Aigen sontak mengeram, menyentuh jangkung nya sambil terbatuk batuk.

Memanfaatkan kelengahan itu. Leon langsung menyerang bagian dalam sikunya, mengacaukan Saraf ulnarisnya, hingga pisau itu akhirnya berhasil direbut oleh Leon dengan susah payah.

Dengan tangan agak bergetar karna rasa sakit dan darah yang senantiasa keluar dari daging dagingnya yang terkoyak, Leon mengnggam pisau dan tangan lainnya memegang perut. Rasanya sangat menyakitkan, dia bahkan berdoa agar ususnya tidak tiba tiba keluar.

Dan dengan berat menyeret tubuhnya menjauh dari Aigen.

" Oh jerk, I should've fucking killed you sooner!!." Aigen bangkit dengan marah, dan dengan cepat sampai kembali di depan Leon dan kembali mendorongnya jatuh.

New Soul Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang