Leon keluar dari lift menuju meja makan, mengenakan seragam sekolah lengkap, tapi kali ini dia tidak memakai hoodie namun sweeter rajut abu-abu dengan motif argyle di satu sisi, Celana panjang gelap membingkai penampilannya dengan sempurna, serta ransel hitam di pundak kirinya.
Tanpa menyapa siapa pun, ia langsung duduk di tempat biasanya.
Seperti yang sudah diduga, Ian tidak ada di sana. Si sulung nampaknya selalu sibuk dengan perusahaan nya sendiri.
Bahkan Robertpun kadang terlihat dan kadang tidak, hanya sesekali tampil saat sarapan atau makan malam.
"Katanya kemarin kamu demam dan tanganmu terluka," ucap Robert sambil memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.
"Iya," jawab Leon singkat, tanpa ekspresi.
" Kalau begitu tidak usah sekolah hari ini," lanjut Robert, kali ini lebih seperti perintah daripada pertanyaan.
Leon melirik pria awal 40an itu sekilas. Ini aneh. Dia pikir sosok ayah seperti ini tak akan peduli bahkan jika anak nya terjun bebas dari atas gunung.
"Tidak hari ini," jawab Leon santai, tetapi kalimat itu cukup untuk membuat Robert menghentikan gerakan garpu dan pisaunya.
"Akhir akhir ini kamu terlihat kurang patuh."
Leon hanya mengusap bibirnya dengan tisu, lalu beranjak dari kursinya. "Terima kasih atas sarapannya," katanya, kemudian pergi dari meja makan itu tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Robert menghela napas. Dia mungkin harus beradaptasi dengan kepribadian anak bungsunya yang sekarang.
Dulu, Leon bahkan tidak bisa mengatakan 'tidak' pada pelayan, sulit rasanya melihat dia tiba tiba suka membangkang.
Namun, itu lebih baik dari pada Leon yang kurang tegas, yang bahkan pelayan rendahan pun bisa mengganggunya. Tentang pelayan itu, entah kenapa Leon malah memintanya untuk tidak memecatnya..
"Kenapa kalian tidak menghentikannya?" tanyanya pada dua anak kembarnya yang duduk di sisi kiri meja.
Deyan menyesap kopi luaknya dengan santai sebelum menjawab, "Dia ingin bertemu seseorang, Katanya itu penting."
"Oh ya, Ayah. Bagaimana aku harus menghukum gadis kecil kita?," ucap Deo tiba-tiba. Ngomong ngomong tentang Indria, gadis itu tidak terlihat sejak tadi, dia mengurung dirinya di kamar dan pelayan mengatakan bahwa dia terserang demam.
Robert menatap putranya yang satu itu. "Pembohong memang harus dihukum, tapi ingat dia masih kecil."
Mungkin terdengar tidak adil,
Jika Leon mengingatkannya pada masa-masa buruk dimana istrinya berselingkuh dan meninggal, maka Indria adalah simbol kebahagiaan yang tersisa di hatinya yang beku.
®®®®
" Kamu tidak usah menjemput ku hari ini, aku akan pulang dengan seorang teman ." Ucap leon sambil memandang jalan raya lewat jendela mobil.
"Baik, tuan muda." Walaupun riko merasa janggal, dia hanya mengiyakan lagi pula dia masih bisa memata matai tuan bungsu ini diam diam.
Memasuki gerbang Phoenix Middle School, mobil itu berhenti .
Leon menatap gedung sekolah dengan ekspresi datar. Siapa sangka ia harus kembali ke kehidupan sekolah seperti ini? Tempat terburuk di masa lalu Mara.
Mara.. terkadang dia mengingat indentitasnya sebagai Mara, tapi ada saat dimana 'Mara' menjadi nama asing yang tiba tiba hinggap di benaknya.
Dia tau fakta bahwa sejak tragedi mengenaskan dimana pesawat menuju Tokyo jatuh, Mara sudah mati, benar benar mati. Namun entah bagaimana dan ritual sesat apa yang dilakukan 'Leon' dia menarik sebagian dari 'Mara' untuk merasuki raganya. Dan kemungkinan lain adalah sebagian dari 'Leon' masih ada untuk melengkapinya, itu lah yang membuat Migrain nya muncul dan hilang begitu saja dan disaat bersamaan membuat nya bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasy(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
