BAB 5

13.8K 1.2K 13
                                        

Jika kau pernah dirundung, kau pasti tahu betapa, mengerikannya perundungan itu.

Saat kau berhadapan dengan seseorang yang tak bisa diajak bicara, saat kau merasa putus asa, saat kau tak tahu harus berbuat apa : tak ada tempat mengadu, tak ada tangan yang terulur, hanya kesunyian mencekam yang membuatmu sulit bernapas.

Rasa takut itu... cukup untuk membuat siapa pun menyerah.

Dan itulah yang dirasakan Leon saat berdiri di hadapan mereka.

"Coba bilang 'pika-pika-pika~ cuhh.'"

Eder tersenyum lebar, jemarinya menggenggam tali kekang dengan erat. Di hadapannya, seorang remaja berlutut di tanah seperti anjing peliharaan.

"Ayo dong, Pikachu!" nada suaranya ceria, ujung matanya melengkung. Sangat kontras dengan orang di bawahnya.

Leon, remaja yang terikat seperti binatang itu, mengepalkan jemarinya yang penuh luka. Wajahnya kotor, darah mengalir dari ujung hidungnya.

"Do it Pikachu, Do it!!."
Eder menarik tali itu dengan keras.

Tubuh kecil Leon tersentak. Dia gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah. Karena benci. Karena kecewa pada dirinya sendiri. Sudah berapa lama sejak terakhir kali dia diperlakukan seperti ini?

Lima tahun yang lalu? Tiga tahun lalu? Atau mungkin saat itu, saat dia masih merangkak dan menjilat seseorang yang bahkan tidak memandangnya.

Kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa!.

Pupil matanya mengecil dan bergetar. ini yang terakhir, tidak, saat itu adalah yang terakhir.

"Agghh... ." Dia meringis pelan, meremas rambutnya sendiri. Kenangan menyakitkan itu kembali menghantui nya membuat nya merasa tenggelam dan tak bisa melakukan apapun.

Dulu dia (mara) menghadapi nya dengan mudah, tapi sekarang dia seperti kembali berhadapan dengan monster masa lalunya secara langsung.

Sepatu bercorak hitam-putih mendarat di kepalanya, semakin menambah debu di rambutnya.

BRUK!!

Tubuhnya terhempas ke samping, dan terjatuh mengenaskan ke tanah. Rasa sakit semakin bertumpuk di atas kepalanya

Saat dia mengangkat pupilnya, dia bertemu dengan pupil gelap, ganas, dan liar. Leon dapat merasakan kegilaan hanya dengan melihatnya.

"Tidak menangis?" desisnya. "Bocah ini bener-bener tidak tahu diri."

Dengan rokok masih di bibirnya, Drio meraih rambut Leon dan menjambaknya kasar, memaksa bocah itu menatapnya.

"Kenapa kau diam saja, bodoh?."

Leon tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke punggung tangannya yang terkepal.

"Bagaimana ini bos, dia bisu!." Drio melirik ke atas, melihat Eder yang menampilkan ekspresi datar khasnya. Dia tidak peduli, bahkan jika anak itu memarahinya.

Kegilaan yang tersembunyi di jiwanya tak bisa dihentikan saat melihat Leon.

Drio mengangkat rokoknya, lalu tanpa ragu, dia menekan puntungnya ke pipi Leon.

Mengeraskan cengkraman nya di rambut Leon, menariknya mendekat.

"Aku benci wajahmu," bisiknya, suara penuh kebencian. "Mata biru itu, bibir mungil itu, senyum manis yang seolah punya pabrik gula. aku ingin menghancurkan semuanya."

Leon masih diam. Wajahnya datar, dan tatapan nya kosong seolah hanya raganya yang bernafas di tempat ini.

Drio menggertakkan giginya. " Sial, kau menggangguku."

New Soul Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang