Ruangan itu sunyi, tapi rasanya sangat bising dan berdengung. Semua mata tertuju padanya. Bukan dengan kagum, Bukan dengan kasihan, atau memancarkan kasih sayang yang lembut. Tapi… dingin, dan acuh tak acuh.
" Kenapa... ." Dia pikir semuanya akan berjalan lancar, tapi lagi lagi semuanya terasa buruk dan pahit.
" Indria, apa tujuan mu bertingkah sejauh ini?." Ian berbicara dengan nada tenang, duduk tegak di kursinya, masih mengenakan setelan formal yang belum dilepas. Sikap santainya justru memperkuat kesan acuh tak acuh yang melekat secara alami.
Pria di awal usia dua puluh itu tak menyangka, dua adik bungsunya bisa sedemikian rumit saat melewati masa pemberontakan, bahkan lebih buruk daripada Deyan. Mereka berdua seolah hidup untuk menciptakan drama, dan dia tidak cukup peduli untuk bereaksi terlalu banyak.
Tapi kali ini berbeda.
Indria telah melangkah terlalu jauh.
Ia merusak kalung peninggalan ibu mereka, sebuah barang yang penuh kenangan, itu barang yang paling ibunya sukai.
" Aku.. tidak-." Tenggorokan gadis itu seperti tersumbat sesuatu. Ini sangat menakutkan, dia sangat ingin berlari sejauh mungkin, tapi tubuhnya sangat kaku.
" A-aku hanya takut, kalian tak membutuhkan kan ku hiks. A aku hanya hiks." Suara nya begitu lemah hingga bergetar memancing siapapun untuk memandangnya dengan iba. Namun mereka sudah terlalu sering melihat Indria menangis, hingga rasanya cukup memuakan.
Robert menatapnya lebih dingin, samasekali tak tersentuh," Kamu bisa pergi ke kamarmu. Pelayan akan membantumu berkemas."
Wajah kecil gadis berubah dari merah ke putih, dia memandang ayah angkatnya dengan pandangan kosong. Kemudian matanya mengeluarkan lebih banyak air mata.
" A aku tidak sengaja ayah. Tolong ja jangan usir aku ayah hu hu ." Indria menjatuhkan lututnya di atas karpet, menggosok kedua tangannya dengan menyedihkan.
Robert hanya memandangi gadis yang mirip istrinya dengan dingin, " Aku tetap akan mensponsori mu hingga lulus kuliah, memasukanmu ke SMA dan universitas yang sama dengan Leon. Tapi kamu tak bisa tinggal di sini lagi."
walaupun berjanji tetap menyokongnya. Dekrit Robert seperti sebuah tembok yang dibangun antara dirinya dan mereka, membuat Indria sangat takut.
" Ayah hu hu, aku tidak ingin jauh dari mu Hiks." Indria menutup wajahnya yang sudah berlumur air mata yang tak ada habisnya.
" Bawa dia." Setelah Ian mengucapkan itu, seorang pelayan segera membawanya pergi. Menyisakan lima orang yang semuanya laki laki.
" Hah.. ." Deyan menghela nafas kasar untuk meredakan kekecewaan di hatinya. Dia tak pernah berpikir akan mengusir Indria seperti ini.
" Apa kalian puas?." Robert menatap anak anak kembarnya dan Leon, dengan ekspresi sulit di jelaskan.
" Sudahlah ayah. dia anak yang sangat berani, akan berbahaya untuk menampungnya terlalu lama." Ian begitu acuh tak acuh, bahkan untuk Deo dan yang lain dia adalah kakak yang sedingin es dan se keras batu. Bagaimana mungkin orang seperti itu menggab serius anak asuh?.
Disisi lain, Deo tak bersuara hingga akhir hanya mengusapi tangan Leon, sambil menonton Indria dengan sedikit rasa prihatin. Lagi pula Indria meninggalkan kesan tersendiri untuk nya, dia gadis yang cukup menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasy(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
