Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Cahaya lembutnya menyusup di sela-sela gorden, menerpa wajah seorang pemuda berkulit putih pucat dengan titik coklat di bawah matanya.
" Sssttt." Leon menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, memijat pelan pelipisnya yang berdenyut.
"Ah, sakit sekali."
" Dimana ini?."Menyapu pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak asing. Sebuah kamar dengan luas 14-16 meter persegi.
" Sial apa aku di culik?."
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, sentuhan hangat terasa di kulitnya. Tangan yang lebih besar dari tangannya sendiri menggenggam jemarinya dengan erat.
Di sebelahnya, seorang anak lelaki tampan tengah tertidur menghadap ke arahnya.
"Eder?." Leon mengangkat alisnya dengan bingung.
Dia tak ingat bertemu Eder, bahkan sekarang dia takut Eder akan menghajarnya sampai mati.
"Sial, seharusnya aku tidak minum"
Leon menutup wajahnya yang memerah. Walaupun dia tak ingat apa yang terjadi setelahnya, tapi tak ada orang mabuk yang berprilaku baik.
Belum sempat meredakan rasa panas di wajahnya, perutnya juga ikut panas dan keroncong. Kalau dipikir-pikir dia belum makan apapun sejak kemarin siang selain takoyaki busuk yang dijual di klub.
Leon sekarang berusaha melepaskan genggaman tangan Eder. Namun, bukannya terlepas, genggaman itu justru semakin kuat hingga membuat tangannya kesemutan.
"Apa dia ini pesumo? ," gerutunya sambil menatap Eder yang tampak tak terganggu.
Semakin lama ia memperhatikan wajah Eder, semakin ia merasa bahwa anak itu memiliki sedikit kemiripan dengannya: Bentuk bibir, alis, hidung... , kecuali wajah Eder yang lebih berorientasi pada tegas dan kuat dari pada dirinya yang sering dikira anak sekolah dasar.
"Ibu..."
Leon mengerutkan kening. " Dia bermimpi buruk?."
Melihat ekspresi Eder yang awalnya damai berubah menjadi menyedihkan seolah kesakitan, Leon jadi bingung, bukankah anak ini bilang dia tak bisa bermimpi?.
Entah kenapa, tangannya bergerak sendiri, mengusap kepala Eder dengan lembut. Hatinya seperti digelitik sesuatu, memaksanya untuk memandang pangeran tidur itu.
Seolah tau bahwa dia tak sendiri, ekspresi Eder perlahan membaik.
" Kapan dia akan bangun?." Gumamnya sambil mengusap kepala Eder dengan bosan.
Ia bisa saja membangunkan Eder dan pergi mencari makanan. Namun, ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya enggan bergerak.
Sreek
Tubuh tinggi Eder berbalik memeluk pinggang Leon, mengusapkan wajahnya disana.
"?."
Tingkah Eder itu entah kenapa membuat dada Leon menghangat. Rasa yang asing, tapi anehnya dia samasekali tak terganggu.
"... Aneh sekali."
Sihir macam apa yang bisa membuatnya merasakan hal hal aneh ini?, ini samasekali tak cocok dengan sisi lain dirinya.
Leon yang sekarang sangat asing dengan perasaan emosional antara manusia selain rasa hormat dan kasihan, namun sesuatu yang terpendam dalam hatinya memberinya perasaan yang jauh berbeda. Keduanya tercampur aduk hingga membuatnya mual.
"Sebenarnya siapa aku?." Saat dia diam, otaknya memunculkan ratusan hingga ribuan memori yang samasekali tak berhubungan, berputar putar seperti blender.
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasy(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
