"Heh!, anak muda sudah bisa bicara kasar, negara ini benar-benar kehilangan moralnya."
"Orang paling tidak bermoral bicara tentang moral." Leon menatap pria didepan nya seolah melihat seonggok kotoran, pandangan jijiknya tak bisa ditahan.
"HAHAHHAHA, anak yang berani!," Pria itu melirik teman temannya, lalu mereka tertawa bersamaan.
"Nak, mulutmu itu akan lebih bagus dipakai untuk menghisap sesuatu." Mereka semakin tertawa, melemparkan kata kata yang tak seharusnya pada bocah yang bahkan bisa menjadi putra mereka.
"Bagaimana? Air ludahku lebih bagus, kan?." Leon mengusap bibir merahnya, saat dengan santai meludahi pakaian mahal pria mesum itu.
Aksinya memancing para pria besar itu untuk menghabisinya, membuat para penonton di sekitarnya mengangkat jempol mereka.
Sementara itu, pelayan perempuan itu berdiri dengan kaki bergetar, jelas rasa takutnya tidak berubah.. Meski Leon membelanya, dia tetap merasa tidak aman, apalagi pelindungnya hanya anak yang mungkin belum bisa mencari celana dalamnya sendiri!.
"D-Dik... t-tidak usah sampai begitu..." ucapnya dengan wajah ketakutan.
"Diam saja di belakang, Nona," perintah Leon tanpa menoleh, sekarang pelayan itu yakin bahwa Leon hanya anak naif yang hanya mau bermain hero heroan.
"Bagaimana kalau malah semakin membuat ku dalam masalah!." Gumamnya, Pelayan itu tidak punya pilihan selain merasa dia terjebak dalam jurang.
"Lihat, kawan! Anak cantik ini ingin bermain menjadi superman. " Komplotan pria itu tertawa lagi, lalu menatap Leon dengan senyum jahat.
Tatapan mesum dan niat buruk mereka membuat Leon muak. Dia berharap keberuntungannya tidak rusak karna di pandang oleh orang seperti mereka.
"Dia harus tau rasa sakit agar patuh!."
Ucapan menjijikkan itu terdengar di telinga para penonton, jelas mereka bukan hanya penjahat seksual yang mengerikan tapi yang terburuk.
"Anak itu akan habis, Kasihan sekali." Bartender itu menggeleng, seolah sudah bisa menentukan akhir anak tak berdosa itu kedepannya.
"Aku akan menolongnya." Reiz, pria yang duduk di meja bar, berdiri sejenak. Namun, dia lalu kembali duduk.
"Kenapa? Anda takut?" Bartender itu menuangkan jus jeruk ke gelas Reiz.
"Tidak."
Reiz menatap deretan ruangan VIP di lantai dua. selain menyangkut anak anak penjudi, kedatangannya disini juga menyangkut pengedaran dan hal lain di ruangan VIP. "Seharusnya aku memanfaatkan kekacauan ini untuk menyusup ke sana...."
"Anak itu akan mati, lawannya empat preman bertubuh babi!."
"Tapi... Aku akan nonton dulu satu menit?" Gumamnya sambil duduk patuh seperti anak sekolah dasar, tertarik dengan tontonan di hadapannya. Sekarang dia tak ada bedanya dengan para penjudi yang dia buru.
Tidak di pungkiri dia berniat menyelematkan anak itu, tapi hal seperti perkelahian sangat menarik untuk nya. Dan mengenai tugasnya, mari kita pikirkan itu nanti.
Semua orang di klub sudah yakin siapa yang akan kalah, siapa yang akan terkapar bersimbah darah. Mereka tak ingin ikut campur, lagi pula itu bukan urusan mereka!.
" HAHAHA HABISI ANAK ITU!."
Saat salah satu dari mereka maju, dengan satu gerakan kecil ke samping, anak itu menghindar. Tangan kanannya bergerak lembut, menepuk lengan lawannya, mengarahkannya ke bawah sambil sedikit menariknya. Pria itu kehilangan keseimbangan, tubuhnya terdorong ke depan. Dengan sedikit bantuan dari gerakan kaki Raka, pria besar itu jatuh tersungkur ke tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasía(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
