BAB 25

4.2K 380 17
                                        

Hola guys!(⁠✷⁠‿⁠✷⁠), sorry karna gak up ber bulan bulan. Maklum manusia sibuk(⁠✿⁠^⁠‿⁠^⁠).

Happy Reading 🕳️🕳️🕳️

Selama 15 tahun, Lerry paling takut pada ayahnya. Pemabuk, perokok, penyuka kekerasan, bajingan, dan brengsek, pria itu adalah sesuatu yang paling mengerikan dalam hidup Lerry.

Tapi kali ini dia tau seberapa luas dunia, di huni oleh banyak orang yang lebih ganas, lebih menyeramkan, dan menyerupai monster.

Usia orang itu jauh lebih muda dari ayahnya, tapi memberikan rasa kehadiran yang jauh lebih gelap dari ayahnya yang seorang bajingan tak kenal kasih.

" Kenapa... Kenapa kau sekuat ini?." Lerry bergumam samar, sebelum benar benar kehilangan kesadarannya.

Eder bangkit dari tubuh Lerry yang terkulai lemah dan berlumur darah. Tangannya masih memegang ponselnya yang juga dilumuri darah, menetes ke ubin. Benda itu sudah tak menyerupai bentuk aslinya dengan layar pecah dimana mana.

Ia menoleh pada tiga orang lainnya yang sudah pucat pasi. Mereka menempel di dinding seperti cicak dan tokek sambil berusaha mengecilkan kehadiran mereka sebisa mungkin.

Mereka kira pertikaian antara keduanya sudah berakhir beberapa saat yang lalu. Tapi seolah kerasukan, Eder bangkit dan kembali menghajar Lerry hingga tak bergerak lagi.

Bertatapan dengan mata yang sesuram kematian dan semerah darah, ketiga remaja itu gemetar tak terkendali.

" Agggh!, orang gila!." Tak tahan lagi dengan suasana yang mencekam itu, dia langsung berlari ke pintu dan mengedor ngedornya sekuat tenaga.

"KELUARKAN AKU DARI SINI!. A.. ADA YANG MENGGILA!!." Dia begitu ketakutan. Ini bukan kali pertama ada seorang tahanan yang menggila, berusaha menyakiti teman satu selnya. Dan setiap kali itu terjadi, yang paling ringan adalah patah tulang hingga menjatuhkan korban jiwa.

Di liputi ketakutan, dia tak menyadari Eder yang sudah berada di belakangnya.

BUGH!

Sepersekian detik kemudian, kepalanya terhantam ke pintu dengan keras.

BUGH!

BUGH!!

BUGH!

"Ughh.. ." Pintu itu berubah bentu dengan bercak merah yang menetes netes.

Tubuh pemuda itu merosot ketanah tak sadarkan diri. Namun, Eder hanya menatapnya sebentar.

Sebelum kembali menginjak nginjak tubuhnya, " Sial.. ."

Bugh!

Bugh!

"Aku begitu baik padanya, tapi dia malah menipuku." Eder mendongak, menyingkirkan helaian rambutnya yang menganggu.

Wajah rupawan itu tampak mengeras, suara kemarahan terdengar di sela sela giginya. Dengan wajah seperti itu, dia menatap dua orang yang masi sadar.

Dua orang malang itu bahkan segan untuk mendongak, hanya duduk di atas cairan kencing mereka.

"Katakan padaku, apakah aku seburuk itu?." Ucapnya, mengangkat dua sudut bibirnya dengan cara yang aneh, hingga terlihat menakutkan. Tapi orang yang cukup jeli, akan melihat kesedihan dan air mata yang akan jatuh dari kedua matanya.

®®®®®

Leon membuka matanya di lautan hitam yang seolah dapat melahapnya kapan saja. Tapi langitnya begitu cerah dan hangat.

New Soul Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang