" Hah brengsek, kenapa mereka ada di sini..." Leon bergumam sambil mendengus.
" Kamu mengatakan sesuatu, Leon?" Deo tersenyum cerah sambil menggenggam tangan adiknya, Leon.
" Kau mengumpat?," Deyan melirik Leon dengan tajam, tatapan tegas dan otoriter yang selalu di layangkannya pada Leon.
Leon yang diapit oleh dua anak kembar ini hanya bisa menghela napas, entah apa yang terjadi dengan sirkuit otak mereka hingga menjadi memperhatikan nya sekarang. Bukankah mereka tidak peduli padanya?, tidak peduli pada Leon?.
"Mobil kalian rusak?." tanya Leon dengan wajah tibet nya.
" Tidak, kami hanya ingin mengantarmu ke sekolah. Benar kan, Deyan-"
" Ya, mobil ku rusak. kalau tidak aku tidak akan repot seperti ini." Deyan memotong dengan nada tak acuh.
Perjalanan menuju sekolah terasa sangat lama dan lambat, karena dibumbui dialog tak bermakna dari Deo dan tatapan Deyan. Tapi untung saja, itu hanya 20 menit.
"Sudah sampai, Tuan Muda," ucap Riko saat mereka tiba di depan sekolah Leon.
"Ya, terima kasih." Leon membuka pintu mobil, namun saat ingin keluar, Deo menarik tasnya membuat Leon kehilangan keseimbangan dan jatuh di pangkuan pemuda itu.
"Hah.. ." Leon menghelah nafas gusar, memandang pemuda itu dengan pasrah.
Deo tidak mengatakan apa-apa, hanya menunjuk pipinya sebagai isyarat.
Dia awalnya mengerutkan alisnya, tapi kalau di ingat ingat ini sering terjadi antara Deo dan Leon. Deo memang terkadang bersikap cukup baik pada 'Leon'.
" Ahh..., ini yang terakhir." Leon menatap Deo dengan jijik, dia bahkan belum mencium seorang gadis seumur hidupnya sekarang dia harus mencium laki laki.
C u uuup~~
Sebuah kecupan manis dilayangkan ke pipi tirus Deo.
Leon menutup bibirnya dengan punggung tangannya, warna merah menyebar di leher dan telinganya.
" Kamu menyebalkan... ." Gerutunya, lalu menutup pintu mobil dengan keras.
Di sisi lain Deyan menggenggam kursi mobil sangat erat hingga busanya terlihat, membuang muka dengan perasaan dongkol. Berbeda dengan saudaranya, Deo terlihat sangat puas.
" Dia malu.. dia, kenapa begitu manis." Menatap sosok Leon yang sudah menghilang memasuki gerbang.
"Kau menyebalkan," ketus Deyan, kerutan di dahinya sedikit terlihat.
Deo tertawa. "Kalian mirip."
Sesaat kemudian, mobil kembali berkendara menuju Phoenix High School, SMA tempat Deo dan Deyan menempuh pendidikan. Perlu di tau, kedua sekolah itu dibangun oleh lembaga yang sama, jadi nama keduanya cukup mirip.
" Apakah kamu mendengar seseorang memanggil kita?."
"Shut up." Balas Deyan, menatap ke jendela tanpa menoleh.
Deo yang melihat adiknya merajuk merasa sangat terhibur. Bersenandung sambil menikmati pemandangan diluar kaca mobil.
®®®®
Di sisi lain, seorang gadis kecil dengan surai coklat yang terurai indah, menatap mobil hitam yang semakin menjauh dengan mata bulatnya yang berkaca kaca.
Sekolah khusus perempuan Indria dengan Phoenix Junior hight School memang berdekatan, hampir seperti tetangga yang berhadap hadapan.
Indria yang juga baru keluar dari mobil langsung melihat siluet kakak kembarnya di dalam mobil Leon, namun seberapa keras dia memanggil, mereka bahkan tak meliriknya. "Kakak..."
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasy(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
