Alisa Johannes. Gadis kecil yang baru berusia 12 tahun, gadis yang memiliki rambut pirang pendek dan mata biru yang indah, sama seperti Leon dia juga memiliki tanda lahir kecil di bawah matanya.
Sayangnya Alisa hanya dapat berusia dua belas, selamanya.
Alisa adalah gadis menarik dengan tingkah tengil, ceria, manis, dan penuh kenakalan. Matanya berwarna biru seperti permata, seindah langit di musim dingin.
Gadis kecil itu pernah menjadi teman sekaligus orang tidak disukai bagi Drio.
Di balkon klub, Drio memandang langit malam. Bintang-bintang berkilauan indah, seakan menjadikan kegelapan sebagai panggung mereka.
Tanpa Drio inginkan, sebuah kenangan kembali membanjirinya.
Alisa, berdiri diantara langit malam dan hamparan rumput, senyumnya begitu indah dan manis.
"Drio, selagi tidak ada orang dewasa ayo merokok!."
.
"Tipeku? Hmm... aku suka anak nakal. Nanti kami akan punya anak nakal juga HAHAHAH."
.
"Jangan pukul mereka! Drio, jangan jadi orang jahat, oke?."
.
"Drio, kenapa mereka mengataiku pecundang? Aku bukan pecundang, kan?."
.
"Drio, selain anak nakal, aku juga suka anak baik."
.
Perlahan gambar gambar tersenyum itu menudar, di ganti dengan kesedihan tak tertahankan.
" Kenapa kamu tidak mempercayai ku?."
.
Drio menutup matanya, Suara yang tidak disukainya kembali terdengar dalam benaknya. Langit itu membangkitkan kenangan yang telah tertelan cukup lama.
Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, nikotin membakar paru-parunya, seakan mencoba menenggelamkan kenangan itu. Tapi meskipun tahu suara itu akan selalu datang, ia tetap menatap langit seolah matanya tak bisa berpaling.
"Gadis yang baik, terlalu baik."
Suara anak laki laki yang khas, terdengar dari sampingnya.
Aigen bersandar di pagar pembatas, bergelayut santai sambil ikut menatap langit.
"Jangan sebut namanya." Suara Drio terdengar dingin, bersamaan dengan asap rokok yang ia hembuskan.
Aigen terkekeh. "Itu hak semua orang. Kamu tidak bisa membuat aturan seenaknya."
"Mau mati?."
"Tidak ada orang pintar yang meminta mati, Drio" Aigen mengangkat bahu acuh tak acuh.
Lalu, dengan nada yang lebih serius, ia berkata, "Ngomong-ngomong soal mati... apa kamu masih merasa bersalah?."
Drio menghentikan gerakannya sesaat.
Aigen tersenyum miring, menikmati bagaimana Drio bereaksi, "Melupakan itu kejam, Drio. Matteo itu ada benarnya, apa salahnya berbelas kasih pada seorang pecundang yang sudah mati?"
Aigen terus berceloteh dengan cara yang menyebalkan, rahang Drio mengeras. Ia menurunkan kepalan tangannya sebelum refleks meninju wajah androgini milik Aigen.
"Pergilah, sebelum aku benar-benar membunuhmu."
Aigen tersenyum, mendekatkan mulutnya ke telinga Drio.
"Kau yang seperti ini, membuat ingin menyuarakan isi hatimu."
Aigen menirukan suara lirih dengan nada mengejek, "Aku merasa bersalah~ Oh tidak, aku membunuhnya~, oh cahaya bulan putihku~ Jangan pergi~ Aku benci diriku yang bajingan ini~. Tapi andai saja dia lebih pintar, dia tak akan mati seperti itu!-
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasía(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
