Seorang Apoteker tersenyum ramah, pada seseorang yang baru saja memasuki pintu apoteknya.
Orang itu adalah seorang anak yang masih mengenakan seragam SMP nya. Wajahnya di penuhi lebam dan luka disana sini, bahkan tangan juga lehernya ditutupi perban.
" HAH.. anak zaman sekarang sangat liar, tidak tau aturan. Mereka bahkan berani mewarnai rambut walau masih pelajar." Sang apoteker membatin, lalu berujar ramah.
" Selamat sore dik, ada yang bisa saya bantu?." Leon menyisir rambut yang menghalangi pandangan nya.
" Tolong berikan Antiseptik, salep, perban, dan parasetamol ." Jawabnya acuh tak acuh.
" Ah.. baik, tunggu sebentar."
.
.
Leon duduk pada kursi di luar Apoteker, plastik pembungkus obat masih tersegel di sisinya.
" HAHH!." dia menghembuskan nafas kasar, bertumpu pada kedua tangannya lalu menatap langit biru cerah di atasnya.
" Seolah olah aku ini kutukan berjalan. " Leon mencibir nasibnya yang buruk.
Dia pernah menjadi Mara, seorang anak yatim piatu yang di jebak dan di paksa berguling guling di atas kobaran api kehidupan, dan disirami kotoran oleh sesama manusia. Dan saat dia berhasil menata hidup, mempersiapkan tabungan masa tua, dia mati dan malah terbangun ke tubuh anak yang sama terkutuknya.
Leon anak yang tidak dia kenali, dan bahkan lingkungan nya sangat asing baginya. Normalnya, dia akan membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan semuanya. Namun entah kenapa, lingkungan nya, orang oranganya, terasa begitu familiar seolah dia sudah tinggal bertahun-tahun di tempat ini.
Mau tidak mau, Leon membatin lagi. " Apakah 49% dari Leon masih ada?."
Leon memikirkan segala kemungkinan dari fenomena Trasmigratod yang bodoh ini. sebelum teriakan melengking mendadak memecah ketenangannya.
"T-TOLONG!"
Leon menoleh. Di seberang jalan, dua pria berpenampilan kasar tengah mencoba merampas tas seorang wanita berambut hitam panjang yang berpakaian lusuh.
"Lepaskan!, tolong lepaskan!." Suaranya gemetar, tubuhnya yang ramping dan kurus sangat kontras dengan tubuh berisi pria botak yang menarik tasnya dengan kasar.
"Jalang, serahkan saja!" si botak menggeram, tangannya mengayun, menampar wajah wanita itu dengan keras.
PLAK!
Wanita itu meringis, pipinya memerah akibat tamparan itu. Air mata menggenang di matanya, tetapi ia tetap mempertahankan tasnya erat-erat.
Namun karna cengkramannya melemah, preman itu dengan mudah menarik tasnya.
Preman brewok tertawa sinis. "Gitu dong dari tadi, kalau nurut kan nggak perlu ada kekerasan."
Sebelum ia sempat berbalik untuk melarikan diri, sesuatu melayang cepat ke arahnya.
DUAGH!
Sepatu Leon menghantam kepala si botak dengan akurat. Kepala licinnya berdenyut merah, tatapan marahnya tertuju pada Leon, yang berdiri dengan santai di depan mereka.
"Bocah sialan! Mau mati kau?!"
Leon tidak menjawab. Dalam sekejap, tubuh kecilnya melesat, kakinya menendang dengan gerakan cepat dan terlatih. Preman botak dan brewok tidak punya kesempatan melawan.
BUKH! BUKH! PLAK!
"ARGH! Ampun!"
"Kenapa anak SMP bisa sekuat ini?! Sialan!."
KAMU SEDANG MEMBACA
New Soul
Fantasy(Saya merevisi banyak hal, banyak, sungguh. Dan jika berkenan kalian bisa membaca ulang.) ®®®® Anak yatim pintu yang harus berguling guling di lumpur hanya untuk hidup keesokan harinya. Dan dengan usaha dan kerja keras tiada henti, dia berada di pun...
