Jangan lupa vote dan comment ya, biar makin semangat!
Kedepannya aku mungkin akan update cepat, but will see ya. Aku lagi ada target soalnya hehe.
Only accepting respectful manner of suggestion and criticism.
Selamat membaca!
***
Dalam perjalanan pulang, Thea dicegat oleh beberapa serigala. "Gue nggak ada urusan sama kalian."
"Bangsa vampire akan selalu berurusan dengan bangsa serigala." Ujar salah seorang dari mereka.
Thea berdecak. Benar. Permusuhan itu sudah mengakar, dan menuai benci. Perdamaian hanyalah sebuah angan semu yang entah kapan dapat terealisasikan.
Thea mengepalkan kedua tangan di depan dada. "Maju."
Satu persatu maju dan berhasil dilumpuhkan. Perkelahian itu terus terjadi.
Beberapa serigala yang terjatuh kembali bangkit dan menyerang di saat yang bersamaan.
"Jangan keroyokan." Seru Thea sambil menangkis yang satu dan memukul yang lain.
Bruk
Suara jatuh itu mengalihkan atensi Thea untuk sejenak. Ia mengerutkan alisnya. Seorang laki-laki membantunya. Ia pernah melihat laki-laki itu sebelumnya.
Perkelahian itu terus berlanjut. Beberapa serigala yang awalnya menyerang Thea, kini melarikan diri.
Laki-laki itu menghampiri Thea. "Lo aman kan?"
Thea mengangguk. Ia tampak berpikir. "Lo yang waktu itu nemuin gelang gue bukan sih?"
David mengangguk mantap. "Iya." Ia mengulurkan tangannya. "Nama gue David."
Thea ingat. Waktu lalu, Thea tidak menyambut uluran tangan itu. "Gue Thea." Kini ia menyambut uluran tangan itu.
David tersenyum. "Salam kenal."
"Iya, thank you juga udah bantuin tadi." Ujar Thea tersenyum canggung.
"Santai aja. Sama-sama. Eh, ini lo udah mau balik?" Tanya David pada Thea.
Thea mengerutkan alisnya. "Iya."
Laki-laki dihadapannya ini. Sepertinya serigala. Tapi aromanya aneh. Bukan seperti serigala pada umumnya. Thea ragu sebelum akhirnya berucap. "Eh, kalo gue boleh tau, kenapa lo bantuin gue?" Tanya Thea.
David terdiam sejenak. "Oh, cuma sekedar nolongin aja sih. Mungkin, gue nggak suka aja kalo mereka nyerang sembarangan. Apalagi lo perempuan."
"Tapi kan lo serigala. Harusnya lo bantuin mereka buat nyerang gue?" Tanya Thea penasaran. Thea baru mengenal laki-laki dihadapannya ini, jadi wajar jika Thea heran. Apalagi bangsa vampire dan serigala tidak pernah akur. Thea dan David juga bukan teman, jadi bukankah tidak ada alasan bagi David untuk menolongnya?
Thea dan David baru saling kenal. Sejauh ini, Thea belum pernah dibantu oleh orang asing seperti ini. Ia beberapa kali dibantu oleh bangsa serigala, tapi setidaknya ia mengenal mereka atau para serigala itu berteman dengan Galang, atau mengenalnya sebagai putri angkat Lestat. Sementara David? Ini baru kedua kalinya Thea melihatnya. Jadi, keheranan Thea ini berdasar.
David tampak berpikir. "Lo tau darimana gue serigala?" Tanya David.
Thea mengerutkan alisnya. "Ya aroma lo. Meskipun aroma lo beda sih sama aroma serigala pada umumnya. Aroma lo beda. Aroma lo samar." Jujur Thea.
KAMU SEDANG MEMBACA
AGAINST US
FantasíaJika kebencian abadi terpatri dalam sanubari, apakah menyerah pada keadaan adalah solusi? Untuk kita dan mereka yang saling mencintai, namun terhalang oleh pengabdian abadi. Seberapa jauh cinta mampu menepis perbedaan dan meruntuhkan sekat yang be...
