Hening dan Sunya (21)

87 13 0
                                        

Enam bulan kemudian ...

Wajah si perempuan cantik dipahat oleh gurat-gurat kecemasan dan lelah. Matanya akan tetapi, membara layaknya dendam yang membanjir. Garis-garis kegilaan mengepung air mukanya yang ganjil, bibirnya seakan berbisa dan mematikan, sepucat bibir ular derik, suaranya mirip ular pula, terus mendesiskan benci tak terbendung. Bahkan ketika kelak tubuh berkalang tanah pun, kedengkian punyanya, berurat dawai berakar darah, mustahil tercabut. Nama perempuan itu diambil dari kata "sunyi", namun perkataannya nyaring dengan caci makian tak senonoh. Percuma saja namanya "sunyi."

Barangkali orang yang melahirkannya menyangka, dengan kata "sunyi" yang dipelesetkan, si perempuan akan tenteram seumur hidupnya, dengan hidupnya yang sederhana dan bahagia, berdampingan dengan pasangan sehati yang menyayanginya. Perempuan bernama sunyi itu mestinya menimang banyak anak, buah hati yang membesarkan kebanggaannya sebagai ibu dan perempuan utuh.

Nyatanya, ia sendirian saja di bangunan biru pucat ini. Cukup kerap ia dikunjungi seorang perempuan lain berambut panjang, sangat sangat cantik, seakan ia diciptakan untuk dunia yang berbeda dari manusia, maka si perempuan gila kian dengki, setidaknya sorot matanya mengakui itu. Ia begitu ingin mencabik si wanita molek, untuk membuktikan ia tak sekadar gila, tapi punya juga keinginan keras untuk mendendam.

"Rupanya ini rencanamu sejak awal. Kamu berpura-pura pingsan, untuk menjebloskanku dalam hukuman. Kamu juga yang mengatur agar aku masuk rumah sinting ini, seumur hidup tanpa mungkin dapat pengampunan apa pun. Kamu memang busuk, kamulah yang gila sesungguhnya, bukan aku!"

"Tolong tenang sedikit, Sunya. Kamu sia-sia berkata kotor dan sadis. Tak ada manfaatnya buatmu. Mohon kamu bekerjasamalah dengan kami." Si perempuan berbusana serba putih dengan simpati menatapnya tak mengedip.

"Hehe, kami ya? Hening, berapa orang yang berkubu di pihakmu, Dik? Bisa kamu ceritakan, selain si Topan pacarmu siapa saja yang termakan keluguanmu yang palsu itu?"

"Aku bukan Hening, Sunya. Aku Ellin, Ellin Sugono, psikiatermu sekarang. Kita sudah sering ketemu, kan?"

"Jangan kira sandiwaramu yang murahan bisa mengabui mataku. Kamu Hening, pasti. Keahlianmu berakting luar biasa. Aku saja yang ketua teater SMA bukan tandinganmu. Kamu mampu jadi siapa saja yang kamu mau. Betul?"

"Tampaknya obat-obatanmu itu tidak ada gunanya, Sunya. Kalau begitu akan kuresepkan yang lebih mutakhir, supaya kamu jangan meracau sembarang lagi."

"Kamu selalu ahli berpura-pura pingsan. Setelah membunuh ayah ibu, kamu berpura-pura tak sadar diri di TKP. Tadinya aku kira kamu gila. Tapi ternyata itu rencanamu agar aku yang dihukum. Sekarang semua bukti mengarah ke aku. Aku. Aku ini kambing hitam buatmu kan, adikku Hening? Puas kamu?"

"Sunya, sekali lagi aku tegaskan, aku bukan Hening!"

"PUAS KAMU??? PUAS?? PUASKAH KAMU SEKARANG???" Sunya memuntahkan gelegak perutnya sekuat ia bisa berteriak.

Ellin pun menyerah juga. Sebelumnya ia jarang gagal berhadapan dengan pasien mental. Sunya adalah pasiennya yang paling buruk, malah ketibaannya di institusi mental ini memburukkan keadaan kejiwaannya. Padahal pengobatannya sudah diusahakan yang terbaik, paripurna malah, berbonus sesi khusus konseling tambahan dari Ellin, yang melakukannya atas "harga teman" demi Topan, juga demi Hening yang segera jadi pendamping sehidup semati sahabatnya itu.

Hasilnya apa? Sunya menjadi-jadi bahkan. Semua perempuan cantik berambut panjang disapanya Hening. Semua pria berambut krukat dan lumayan jangkung dimakinya Topan. Apalagi kekasih selingkuhannya, pria yang sudah beristri dan kedapatan berpraktik ilegal sebagai dokter jiwa, memilih bunuh diri di lapas dengan mencekik leher sendiri menggunakan kantung keresek. Kejadian terakhir itu paling mengguncang Sunya. Harun mati, dia mati, katanya berulang-ulang.

Hening Cipta TopanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang