"Kamu bisa membawa Zerrin sekarang juga. Tapi ada satu hal yang aku inginkan sebagai gantinya."
Floretta menatap Alexander dengan tenang. Di luar rumah, sejumlah pria berbadan besar berdiri siaga orang-orang Alexander, mengepung rumah mungil yang bahkan tak cukup luas untuk menampung rasa takut yang kini menggantung di udara.
"Flo!" Vivi berseru keras, suaranya melengking penuh protes. Ia menggenggam lengan Dean, yang dengan sigap mencoba menenangkannya. Mereka baru saja tiba setelah Dean mendapat kabar tentang rencana Alexander, keduanya langsung meluncur ke rumah Floretta, berharap belum terlambat.
"Apa?" tanya Alexander singkat. Tatapannya tajam, penuh kecurigaan.
"Ibuku," jawab Floretta.
Kata itu menghentak semua orang di ruangan. Keheningan tiba-tiba membeku, seolah waktu berhenti berdetak. Vivi membelalak, Dean menegakkan tubuhnya, dan Alexander… hanya menatap tanpa berkedip.
"Alexander, meski ayah dan aku sudah memaafkanmu, bukan berarti kami lupa," ucap Floretta perlahan. "Luka itu tidak hilang hanya karena kau minta maaf."
"Apakah setelah mendapat pengampunan, semua dosamu terhapus begitu saja?" lanjutnya, dengan nada lebih tajam. Ia tahu betul betapa hancurnya ayahnya setelah kehilangan ibu. Ia pernah melihat pria tua itu diam berjam-jam menatap foto keluarga, bahkan diam-diam menangis saat mengusap wajah istrinya di dalam bingkai.
"Kamu bisa mengambil Zerrin. Aku tak akan menghalangi. Tapi hanya jika kamu bisa membersihkan tanganmu yang berlumuran darah."
Floretta menahan napas sejenak, lalu menatap Alexander lebih dalam.
"Karena seorang pembunuh… tidak berhak memiliki anakku."
Kata-kata itu terucap tegas. Tajam. Mungkin menyakitkan, tapi perlu. Floretta tahu, jika ia goyah sekarang, maka semuanya akan berakhir.
Mereka saling menatap. Diam. Tegang. Tak satu pun dari mereka yang bergerak.
Alexander mengepalkan kedua tangan, begitu kuat hingga sendi-jarinya tampak memutih. Tapi ia tetap diam, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Akhirnya, ia berbalik dan melangkah keluar. Tanpa suara. Tanpa perlawanan.
Ketika pintu tertutup di belakangnya, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu Floretta.
"Kau sangat berani, Floretta," ucap Dean, memecah sunyi yang menyesakkan. Pandangan semua orang kini tertuju padanya.
Vivi memelototi suaminya, memberi isyarat agar tidak memperkeruh suasana. Tapi Dean hanya menghela napas dan menatap Floretta dengan hormat.
"Menurutmu… apakah Alexander akan membawa ini ke pengadilan?" tanya Vivi pelan. Nada suaranya penuh kekhawatiran. "Kau tahu sendiri, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Lihat saja tadi—dia membawa lima puluh orang ke rumah sekecil ini."
"Tidak," jawab Floretta mantap. "Dia tidak akan melakukannya."
"Kenapa bisa yakin begitu?"
"Karena aku memanggilnya 'pembunuh'," ucap Floretta lirih, namun penuh keyakinan. Ia menurunkan tubuhnya ke kursi, lelah. Tenaganya terkuras sejak tadi. Ia menyandarkan punggung dan menatap langit-langit rumahnya yang sederhana.
"Dulu, saat kami kecil… Alexander sering menyalahkan dirinya atas kematian orang tuanya. Aku selalu ada di sana, meyakinkan bahwa itu bukan salahnya. Aku menenangkannya, membuatnya percaya bahwa dia bukan penyebab kehancuran itu."
Dean mengangguk pelan. Ia mengerti sekarang. Bukan kekerasan yang akan mengguncang Alexander, melainkan kebenaran yang selama ini coba ia kubur.
Dan mungkin, di suatu tempat, Alexander sedang berdiri sendirian—terguncang, terluka… dan kalah.
Atau tengah menyalurkan kemarahannya entah dengan cara apa.
Namun satu hal pasti: malam ini, Floretta menang.
Tapi ini belum akhir segalanya.
.
.
.
.
.
Langkah Alexander terdengar berat saat melangkah keluar dari rumah Floretta. Hujan tipis mulai turun, membasahi bahu jas hitamnya yang tetap ia kenakan meski udara tak lagi dingin. Pengawalnya buru-buru mendekat, menawarinya payung dan bertanya pelan, “Tuan, apakah kita bawa anak itu sekarang?”
Alexander tak menjawab. Hanya melirik tajam, dan semua orang langsung mundur teratur.
Ia masuk ke dalam mobil hitam di depannya, menutup pintu dengan satu hentakan. Begitu kaca tertutup rapat dan suara dunia luar meredup, barulah napasnya pecah—panjang dan berantakan. Ia membuka jasnya dengan gerakan kasar, melemparkannya ke kursi sebelah, lalu membungkuk dengan kedua tangan menutupi wajah.
Pembunuh.
Kata itu terngiang-ngiang di kepalanya, memukul sisi-sisi jiwanya yang selama ini sudah rapuh. Ia berusaha keras untuk tidak menjadi orang itu. Untuk tidak terjebak di masa lalu. Ia membangun kekuatan, kekuasaan, dan kekejaman bukan untuk menjadi monster—tapi untuk bertahan.
Floretta menelanjanginya dengan satu kalimat. Ia melihat ke cermin depan. Bayangan samar dirinya kembali menatap mata gelap, basah, dan penuh murka.
"Dia bilang aku pembunuh," gumamnya lirih di dalam mobil, seolah bicara pada bayangan sendiri.
Ia tahu Floretta berkata begitu untuk melindungi Zerrin. Tapi tetap saja, kata-kata itu masuk terlalu dalam menyentuh luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Bawa aku ke vila di pinggir danau,” ucapnya pada sopir, suaranya berat. “Suruh semua orang pergi malam ini. Aku ingin sendiri.”
“Baik, Tuan.”
Mobil pun melaju menembus hujan.
Vila di tepi danau berdiri dalam kesunyian saat mobil hitam Alexander berhenti di halaman berbatu. Langit masih kelabu, seakan enggan melepaskan sisa-sisa hujan yang menggantung sejak sore. Di atas permukaan danau, kabut tipis melayang pelan, menciptakan ilusi seolah waktu ikut membeku.
Alexander keluar dari mobil tanpa sepatah kata. Tak ada pelayan yang menyambut, tak ada suara langkah selain derik sepatunya di atas batu basah. Vila itu telah diperintahkan untuk dikosongkan sejak pagi—ia tahu dirinya butuh kesendirian malam ini. Bukan untuk merenung, tapi untuk menyusun ulang arah hidupnya yang retak.
Di dalam, ia menyalakan lampu-lampu gantung berwarna kekuningan yang menggantung rendah, membiarkan cahaya temaram mengisi ruang tamu yang dingin. Bayangan furnitur mahal terpantul samar di lantai kayu yang mengilat, tetapi tak satu pun benda itu memberinya kenyamanan.
Ia menuju rak minuman, mengambil botol tua berlabel kabur, menuang isinya ke dalam gelas kristal tanpa es. Satu tegukan panjang mengalir ke tenggorokannya pahit, tapi tak lebih pahit dari kenyataan yang baru saja ia hadapi.
Lalu ia duduk. Meja kayu besar di depannya, biasa dipakai untuk menyusun strategi bersama para penasihatnya, kini kosong. Hanya ada satu gelas dan pikirannya yang berserakan.
Ia menunduk. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa irama, seolah berharap ada jawaban yang akan muncul dari kayu tua itu. Di kepalanya, segala yang terjadi malam ini berputar dalam loop yang menyiksa.
“Karena seorang pembunuh tidak berhak memiliki anakku.”
Kalimat itu menikam lebih tajam daripada peluru. Ia bisa melawan seribu musuh, tapi tak tahu bagaimana menghadapi kalimat itu kalimat yang keluar dari seseorang yang dulu mempercayainya sepenuh hati.
Dengan tangan sedikit gemetar, Alexander mengambil ponsel dari sakunya. Ia membuka sebuah folder terenkripsi di dalamnya tersimpan dokumen-dokumen legal: surat adopsi, akta kelahiran Zerrin, data medis, bukti hak asuh yang diam-diam ia kumpulkan. Semua sudah siap. Dengan satu perintah, ia bisa membawa perkara ini ke pengadilan dan menang.
Tapi malam ini… bukan itu yang ia cari.
File itu tertutup rapat. Pandangannya kosong, seperti jiwa yang telah mengubur rasa. Namun di matanya menyala api dingin bukan amarah, tapi tekad yang tajam dan tak bisa ditawar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
