Papa Bunny

15.4K 1K 14
                                        

Buat yang masih baca dan nunggu cerita ini, Terima kasih banget luvv uuu.

.
.
.
.
.

"Ini hembusan napasmu yang ke-20 dalam satu jam kita duduk di sini, Ana," ujar Isaac, menatap kesal ke arah Floretta yang masih terpaku pada Zerrin yang duduk tenang di kursi bayi.

Floretta melirik sekilas. "Kau benar-benar dipecat oleh ayahmu? Sampai-sampai sepagi ini kau sudah berada di rumahku?"

Isaac mendesah dan memutar matanya. "Aku ini teman yang peduli. Jadi, begitu Vivi bilang kau sedang dalam masalah, aku langsung ke sini."

Dean dan Vivi akhirnya kembali ke kota Yupei. Mereka berdua sadar bahwa mereka tak bisa meninggalkan George terlalu lama. Sebelum pergi, Dean sempat berjanji kepada Floretta bahwa ia akan terus memantau pergerakan Alexander dari kejauhan. Janji itu, meski sederhana, cukup membuat hati Floretta sedikit lebih tenang. Ia tahu Dean bukan orang yang mengucap janji dengan mudah dan sekali ia berjanji, ia akan menepatinya.

Vivi, di sisi lain, masih diliputi rasa cemas. Ia sangat khawatir akan kondisi Floretta yang kini harus menghadapi segalanya nyaris seorang diri. Meski Floretta berusaha terlihat kuat, Vivi tahu betul bahwa sahabatnya itu tengah menanggung beban yang berat. Karena itulah, sebelum kembali ke Yupei, Vivi memaksa Isaac untuk menemani Floretta.

"Zerrin, lihat aku. Katakan 'Papa'," ucap Isaac sambil berlutut di hadapan gadis kecil itu. Tatapannya lembut, penuh harap, seolah satu kata dari bibir mungil Zerrin bisa menjadi penegasan dari dunia yang ia bayangkan.

Zerrin memandangi wajah Isaac beberapa detik. Mata bulatnya menyiratkan ketidak tertarikan, mungkin juga malas meladeni. Namun, yang keluar dari mulutnya hanya satu kata sederhana dan jelas
"No, no, no."

Di atas sofa, Floretta menyilangkan tangan di depan dada sambil menggeleng pelan. Ia nyaris kehilangan kata-kata menyaksikan temannya itu terus mencoba ‘meracuni’ anak kecil itu dengan mimpi yang tidak nyata.

Lelaki itu tidak pernah ingin menikah, selalu menghindari komitmen panjang, namun kini bertingkah seolah Zerrin adalah anak kandungnya sendiri. Ia memanggilnya seakan peran sebagai seorang ayah adalah haknya, bukan sekadar khayalan.

"Berani-beraninya kau ingin dipanggil Papa. Mengganti popok Zerrin saja tidak pernah," semprot Floretta, suaranya mengandung campuran kesal dan tak percaya.

Ia masih ingat dengan jelas kejadian beberapa minggu lalu. Saat itu ia harus bertemu klien penting dan tak punya pilihan selain menitipkan Zerrin pada Isaac meski dengan sedikit ragu. Mereka duduk di Kafe, Floretta di meja ujung sibuk dengan dokumen dan presentasi, sementara Isaac dan Zerrin berada di meja lain, hanya beberapa langkah darinya.

Segalanya tampak baik-baik saja sampai pertemuan usai dan ia kembali ke meja mereka. Isaac duduk dengan wajah pucat pasi, napasnya pendek, ekspresi wajahnya seperti baru pulang dari medan perang.

"Anakmu... poop," katanya waktu itu, lirih, nyaris trauma. Ia menunjuk Zerrin dengan tatapan panik, seakan gadis kecil itu adalah granat yang belum meledak.

Floretta nyaris tertawa waktu itu, tapi lebih memilih untuk menarik napas panjang dan segera mengganti popok Zerrin di kamar mandi. Sementara itu, Isaac hanya duduk terpaku, masih dalam mode "shock", seolah peristiwa itu telah mengguncang eksistensinya sebagai manusia dewasa.

Kembali ke masa sekarang, Floretta melipat tangan, menatap Isaac yang kembali mencoba membujuk Zerrin untuk memanggilnya “Papa”.
"Kalau kau mau dipanggil Papa," lanjutnya tajam, "Setidaknya pelajari dulu cara pasang popok. Atau... hadapi satu tinja tanpa gemetar seperti habis lihat film horor."

Isaac menyeringai, separuh malu, separuh tak tahu diri. "Aku sedang membangun hubungan emosional dulu. Popok bisa menyusul."

"Hubungan emosionalmu bahkan kalah sama boneka kelinci Zerrin," balas Floretta cepat.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang