Confetti

14.2K 874 17
                                        

Floretta terkejut saat membuka pintu kamarnya. Matanya membelalak melihat ayahnya berdiri di tengah ruangan dengan senyum lebar, mengenakan topi ulang tahun berbentuk kerucut berwarna merah cerah. Di tangannya tergenggam sebuah paper party popper, dan dalam sekejap—pop! semburan confetti warna-warni meledak ke udara, menari-nari dalam cahaya pagi yang menembus tirai jendela.

Di samping Jared, berdiri Bibi Elena dengan senyum hangat, memegang sepotong cheesecake di atas piring kecil. Sebuah lilin mungil berwarna merah muda menyala di tengah kue itu, nyalanya bergoyang pelan tertiup angin kipas.

Happy Birthday, Flo!” seru Jared dengan suara riang yang menggema di seluruh kamar. Ia langsung melanjutkan dengan menyanyikan lagu ulang tahun dengan penuh semangat, suaranya sedikit fals tapi penuh cinta.

Zerrin, bayi mungil yang sedang berada di gendongan Floretta, ikut tertawa melihat semua kegaduhan ceria itu. Tangannya yang kecil mengepak ke udara, seolah ikut menangkap confetti yang masih melayang turun perlahan. Floretta menatap mereka semua ayah, bibi Elena, dan bayinya dengan mata berkaca-kaca, hatinya penuh kehangatan dan kebahagiaan.

Rumah kecil itu mendadak terasa sesak oleh kehangatan dan kehilangan yang datang bersamaan. Di balik semua tawa dan keceriaan, ada kerinduan yang diam-diam menyesakkan dada. Kerinduan pada sang ibu yang tak lagi bersama mereka, dan pada Alexander yang dulu akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat, sebelum segalanya berubah.

Floretta menarik napas panjang, mencoba menahan gelombang emosi yang hendak pecah. Ia tahu hidup terus berjalan, tapi pagi ini, untuk sesaat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan karena di sanalah, semua yang ia cintai dulu masih utuh.

Namun suasana haru itu mendadak pecah saat dering nyaring ponsel terdengar dari dalam kamar Floretta yang lain. Suaranya mengiris keheningan dengan nada digital yang terasa begitu asing di tengah momen penuh kenangan itu seperti dunia nyata yang tiba-tiba menuntut kembali perhatian.

Dengan napas berat dan gerakan enggan, Floretta menoleh pada ayahnya. "Ayah, bisa pegang Zerrin sebentar?" bisiknya pelan. Jared segera mengulurkan tangan, menyambut cucunya dengan kelembutan. Zerrin langsung merebahkan kepalanya di dada Jared, masih tertawa kecil, tak menyadari perubahan suasana hati ibunya.

Floretta melangkah pergi dari ruang utama, meninggalkan aroma cheesecake dan sisa-sisa confetti yang perlahan jatuh ke lantai. Langkahnya melewati lorong pendek menuju kamarnya.

Dering ponsel masih terus terdengar, memantul di dinding kamar. Ia masuk dan langsung disambut bayangan lembut cahaya pagi yang menyusup lewat tirai tipis. Pandangannya menyapu ruangan dengan cepat, mencari sumber suara.

Ponselnya ternyata tergeletak begitu saja di atas karpet dekat ranjang, sebagian tertutup selimut yang terjuntai. Layarnya menyala, bergetar pelan seiring dering yang belum berhenti.

Nama Naina tertera jelas di layar ponsel, berkedip-kedip seiring getaran yang melemah. Floretta mengernyit, alisnya berkerut pelan.

Panggilan dari Naina di pagi seperti ini terasa tak biasa. Tanpa pikir panjang, ia menggeser ikon hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, lalu duduk perlahan di tepi kasurnya. Suhu ranjang masih menyimpan hangat tubuhnya dari semalam, kontras dengan hawa dingin yang mendadak merayapi tengkuknya.

“Hallo, Na?” ucap Floretta pelan, suaranya masih sarat dengan sisa haru dari kejutan ulang tahun tadi.

Namun yang terdengar dari seberang bukan sapaan balik, melainkan suara tarikan napas berat, tercekat, dan gemetar. Lalu, isakan. Tangis yang ditahan, tetapi terlalu berat untuk disembunyikan.

“Na?” Floretta menegakkan tubuhnya, firasat buruk langsung mencengkeram dadanya. “Ada apa?”

“Toko kita, maksudku... Montiss Bakery…” suara Naina terdengar patah-patah, di sela tangis yang mulai pecah sepenuhnya. “Flo, toko kita… kebakaran. Semuanya… habis…”

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang