Floretta melajukan mobilnya menyusuri jalanan kota yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. Meski hatinya gelisah dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia tetap menjaga kecepatan mobil pada batas wajar. Ia ingin segera sampai melihat dengan mata kepala sendiri puing-puing yang mungkin tersisa dari Montiss Bakery namun ia tahu, keselamatannya tak bisa dikorbankan oleh rasa panik.
Ada ayahnya.
Ada Zerrin.
Ada Bibi Elena.
Mereka semua menantikan kepulangannya. Ia tak bisa mengambil risiko sekecil apa pun.
Tangan Floretta mencengkeram kemudi erat, sementara pikirannya berkelana liar. Bukan hanya tentang toko, bukan hanya tentang Oma Sasya. Ada sesuatu yang lain. Sebuah perasaan tak nyaman yang diam-diam menyelinap masuk sejak Naina menyampaikan kabar kebakaran itu. Perasaan yang membuat hatinya berdegup lebih cepat dari logika.
Kecurigaan.
Wajah seseorang muncul di pikirannya. Seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa depannya dan kini jadi bayangan samar yang sulit ditebak arah niatnya.
Saat mobilnya berhenti di lampu merah, Floretta menoleh sejenak ke dashboard. Ia menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya dengan tangan kiri. Meski nomor itu tak pernah ia simpan, jemarinya tahu persis urutannya. Ia mengetiknya tanpa ragu. Angka-angka itu seperti tertanam di memorinya karena meski ia berusaha melupakan, rasa kecewa selalu mengingatkan.
Nomor itu berdering.
Sekali.
Dua kali.
Tiga.
Sambil menunggu sambungan, Floretta menaruh ponsel di slot dudukan yang terpasang di sebelah setir. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil hands-free nirkabel kecil dan memasangnya di telinga. Lampu di perempatan masih merah, tapi dadanya sudah berdebar seperti akan menghadapi sesuatu yang lebih dari sekadar percakapan biasa.
Klik.
Sambungan terangkat.
Senyap sejenak.
Lalu terdengar suara berat yang sudah lama tak mampir di hidupnya.
“Halo?”
Suara itu. Suara yang dulu bisa membuat hatinya tenang, kini justru menyulut bara yang membakar dada Floretta. Hening sepersekian detik terasa panjang seperti waktu sengaja melambat, memberi ruang bagi rasa kecewa dan marah yang selama ini hanya ia simpan rapi di dasar hatinya.
“Alex…” ucap Floretta akhirnya, suaranya pelan tapi dingin, menusuk seperti angin dingin di pagi berkabut.
Ada jeda singkat di seberang. “Flo?”
Ia mengabaikan nada terkejut itu. Tidak butuh sapaan basa-basi. Yang ia butuhkan hanya satu jawaban.
“Apa ini semua ulahmu?” ucapnya, nadanya naik satu oktaf, penuh tuduhan yang tak bisa ia tahan lagi.
Suara napasnya memburu. Jemarinya mencengkeram kemudi erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Hening tidak ada jawaban.
“Jika ini semua ulahmu,” katanya lantang, dengan amarah yang membara di balik matanya yang mulai berkaca, “aku bersumpah atas nama Zerrin, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Bahkan di kehidupan selanjutnya, aku akan tetap selalu membencimu.”
Kata-katanya mengalir dalam satu tarikan napas, keras, tajam, dan tulus dari luka yang sudah terlalu lama menumpuk. Suaranya bergetar, bukan karena ragu tapi karena begitu dalamnya luka yang ditorehkan seseorang yang pernah ia cintai.
Belum sempat suara di seberang merespons atau membela diri, Floretta dengan cepat menekan menekan Hands-Free yang tengah ia gunakan.
Klik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantastikLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
