🍀🍀🍀
Dengan kesedihan yang menyelimutinya, Nayla pulang dengan supir yang diperintahkan mamanya. Ia tak menyangka Mama yang selama ini sayang padanya berubah menjadi monster mengerikan.
Wanita yang dulu sangat ia idolakan karena kesabarannya dalam mendidik dirinya dan abangnya, sekarang hilang dan berubah menjadi wanita yang memberikan goresan trauma di hatinya
Pelukan yang biasanya ia terima saat pulang dari sekolah dari sosok Aidan -Abang Nayla-, nyatanya sekarang juga ikut hilang. Pelukan hangat berubah menjadi cekikan dileher yang menyesakkan. Air mata yang tadinya sudah surut sekarang kembali mengalir deras dengan nafas yang sulit.
Aidan mendorong tubuh Nayla ke belakang hingga kepalanya mengenai dinding yang ada di belakangnya. Merasakan pusing dan nyeri di bagian belakang kepalanya.
"Lo udah bunuh papa gue! lo itu pembunuh!" ucap Aidan marah. Matanya memerah seperti iblis yang ingin melahap manusia dengan tangan yang masih setia di leher Nayla.
"A-akh.. sakit Bang, Nay nggak bunuh papa, Nay bukan pembunuh." Nayla berusaha melepaskan tangan Aidan dengan tenaganya yang lemah.
Tenaganya sudah habis karena menangis sedari tadi, di tambah dengan kesusahan untuk bernafas. Namun Aidan yang marah semakin menguatkan cekikan itu tanpa mendengar rintihan kesakitan Adiknya.
"B-bang Ai l-lepasin, Nay nggak bisa n-nafas."
"Lo udah bikin gue kehilangan Papa gue, gara-gara lo Papa gue pergi untuk selamanya, lo itu cuman beban di sini."
"Astaga, non Nayla!" teriak salah satu pembantu yang ada di rumah itu, ia terlihat kaget melihat Aidan yang mencekik Nayla, segera berlari berusaha melepaskan tangan itu.
"Den lepas den, bibi mohon lepasin den, non Nayla udah kesakitan, jangan begini den," pinta Bi Uti.
Setelah melepaskan cekikan itu, bukan nya pergi dari sana Aidan malah menarik rambut Nayla hingga kepalanya mendongak ke atas. Kulit kepala Nayla serasa lepas dari tengkoraknya.
"Kenapa nggak lo aja yang mati? Kenapa harus Papa?" Tanya Aidan.
"A-akh... maafin Nay Bang, b-bukan Nay yang bunuh Papa, Papa meninggal karena tertabrak, bukan karena Nay," lirih Nayla menahan sakit di puncak kepalanya.
"Diem, gue nggak ada nyuruh lo buat ngomong, gue nggak sudi punya Adek kayak lo."
"Dan gue pastiin lo bakal tersiksa tinggal di sini!" ucap Aidan sebelum pergi.
Sejak hari dimana semua orang menyalahkan Nayla kecil, setiap malam ia selalu menerima pukulan dan tamparan dari Mama dan Abangnya.
"Papa... Nay takut sendiri Pa, Mama dan Abang benci sama Nay, sekarang Nay sendirian Pa."
"Ajak Nay pergi Pa, Nay nggak mau di sini, Mama sering pukul Nay, Nay takut Pa," racau Nayla setiap malam setelah disiksa Siska dan Aidan.
Ia terlalu kecil untuk merasakan hal seperti itu. Anak yang baru berusia 10 tahun sudah di paksa menerima kekerasan itu.
Tak hanya kekerasan fisik saja yang Nayla dapatkan, kekerasan mental juga ia dapat setiap hari. Bentakan dan cacian tak pernah absen ia dapatkan. Bahkan untuk keluar kamar saja ia tidak berani.
Nayla tidak selalu diam saja diperlakukan seperti itu. Pernah beberapa kali ia melawan Mama dan Abangnya. Tapi hal itu sia-sia saja, malah ia mendapatkan tamparan hingga hampir pingsan.
Kini ia sudah berusia 17 tahun, selama itu lah ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Tidak ada siapapun tempat untuk mengadu keluh kesahnya selain kepada Bi Uti- pembantunya.
Bi Uti lah yang selalu mengobati luka- luka akibat mama dan abangnya. Ia yang selalu merawat Nayla. Bi uti memang tidak mempunyai anak, ia menganggap Nayla seperti anaknya sendiri. Suaminya juga bekerja di rumah Nayla sebagai supir pribadi Siska.
Pernah beberapa kali Nayla mencoba untuk bunuh diri, namun selalu gagal, sepertinya tuhan belum mengizinkannya mati. Mulai dari minum cairan pembersih lantai hingga racun tikus pun pernah ia minum, tapi tak ada yang membuatnya pergi dari dunia ini.
Meskipun Siska benci kepada Nayla, ia masih memberikan uang untuk sekolah. Siska tak ingin suaminya marah di sana karena ia tak menyekolahkan Nayla. Namun hanya untuk uang sekolah saja, tidak untuk uang jajan. Sering kali Nayla tidak jajan di sekolah nya karena tidak ada uang.
"Non, Bibi boleh masuk nggak?" tanya Bi Uti dari balik pintu.
"Masuk aja Bi, nggak dikunci kok," balas Nayla dengan suara parau.
"Non belum makan dari siang kan, ini Bibi bawain buat Non Nayla." Terlihat Nayla yang tengah duduk bersandar di atas ranjangnya.
Bi uti meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk pauk di atas nakas samping ranjang, lalu beranjak untuk mengambil kotak P3K yang berada di ajak meja belajar Nayla.
"Sini biar bibi bersihin dulu lukanya sebelum makan, biar makannya lebih nyaman."
Nayla hanya diam sambil memperhatikan bi Uti membersihkan luka akibat Aidan. Terdapat luka di sudut bibirnya, lebam di pipinya dan beberapa luka di tangan dan kakinya. Ia sangat lelah untuk berbicara.
Tadi sepulang sekolah aidan tampak kesal. Nayla yang kebetulan berada di dapur langsung mendapatkan tarikan di rambutnya. Sepetinya Aidan sedang ada masalah dengan pacarnya, lalu melampiaskan emosi nya kepada Nayla.
Ya, seperti itu lah biasanya awal mula Nayla mendapatkan kekerasan. Masalahnya dengan orang lain, pelampiasannya selalu kepada Nayla.
"Non Nayla kalau udah capek boleh kok istirahat sebentar, jangan paksain ya. Kalau Non mau nangis jangan di tahan, lepasin aja," ucap Bi Uti sembari membersihkan luka di tangan Nayla.
Mendengar ucapan itu, bulir bening jatuh dari mata Nayla. Ia ingin menangis saat ini. Ia ingin mencurahkan kegelisahan hatinya saat ini.
"Aku dah capek Bi, boleh nggak aku menyerah," ucap Nayla disela tangisannya.
"Non boleh istirahat tapi jangan menyerah. Non pernah bilang kalau Non mau mereka semua ngerasain seperti yang Non rasain sekarang kan. Tunjukkin sama mereka kalau Non itu kuat dan tunjukkin kalau Non bukan perempuan lemah." Bi Uti mengelus punggung Nayla.
Benar kata Bi Uti, ia akan menunjukkan pada dunia jika dia tidak lemah, dia anak yang kuat. Ia juga ingin membuktikan pada orang-orang kalau selama ini tuduhan yang dilayangkan padanya itu salah, ia bukan pembunuh.
Selama ini dia diam bukan berarti ia takut untuk melawan. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membalas semua ini. Ia tidak boleh lemah, ia tak boleh menyerah, ia tidak boleh kehilangan nyawanya. Ia harus bisa beri tahu semua orang jika dia kuat.
Saat ini satu tujuan Nayla, yaitu keluar dari rumah ini dan memulai kehidupan yang bahagia dari awal. Mungkin terdengar simple dan mudah untuk sebagian orang. Tapi tidak untuk nayla.
______________
🍁🍁🍁
Jangan lupa pencet ⭐
Bye 👋
KAMU SEDANG MEMBACA
UNFORGIVEN [END]
FantasiKarya KUMOKAAA✨️ __________ Beberapa part sudah dihapus, kalo pengen baca utuhnya bisa langsung ke 👇👇👇 https://www.epustakaindonesia.com/N_ShowDetails.aspx?qBookID=EI2055# ☝️☝️☝️ "Lo bisa liat gue kan, tolong bantu gue" "Hah? Gue ini dokter buka...
![UNFORGIVEN [END]](https://img.wattpad.com/cover/300681420-64-k828382.jpg)