Posisi matahari mulai meninggi, seseorang masih tergulung selimut di tempat tidur. Begitu tenang dan nyaman sampai ia baru saja terusik karena adanya getaran ponsel dibalik bantal.
Dengan mata yang menyipit ia melihat nama Nala❤️ di layar, ibujarinya langsung menggeser layar. Menerima telepon.
"Haloo.."
"Babe, lagi apa?" suara Nala di sana. Menanyakan keadaan kekasihnya.
"Hmm..aku..masih tiduran.."
"Tiduran? Kamu baru bangun? Tapi kamu udah sarapan belum? Minum obat buat pagi tadi sudah tapi?"
Raskal menjauhkan ponselnya dan melirik jam di ujung layar dengan mata masih menyipit. Waktu sudah memasukin pukul sebelas lewat dan ia baru saja terbangun. Kepalanya berputar, mengingat-ngingat dirinya sedang sakit. Tubuhnya masih sangat lemas dan malas untuk bergerak.
Kalau Nala tidak meneleponnya, mungkin saja Raskal masih tidur dan melewatkan makan siang dan obat lagi.
"Kamu nggak ke sini?" Suara Raskal begitu rendah. Nala yang mendengarnya langsung merinding. Memang bahaya kalau menelepon Raskal ketika pemuda itu baru tidur, Suaranya bikin orang minta dinikahi sekarang juga.
"Aku baru bisa menjengukmu besok. Nggak apa-apa yang, babe? Maaf aku kasih taunya dadakan. Tadi aku datang telat ke kelas Pak Arsad, jadinya aku dihukum ngerjain tambahan tugas darinya. Hari ini aku sudah harus selesaikan."
Raskal memejamkan matanya, perutnya mendadak nyeri lagi. Rasanya nggak enak sekali kena lambung luka. Nggak nyaman.
"Aku sudah minta Jian datang ke Apartemen kamu. Harusnya Jian sudah berangkat ke sana dari tadi. Jian mau bawain bubur ayam buat kamu makan siang. Buburnya harus kamu habisin ya. Jangan lupa diminum obatnya."
"Kamu nggak ke sini berarti?" Perlahan Raskal bangkit sambil memegang perut bawahnya. Lalu punggungnya menyender dinding. Wajahnya berengut menahan nyeri. Nggak disangka kalau kebanyakan minum kopi bisa berakibat seperti ini. Apalagi Raskal lagi suka konsumsi kopi ketika begadang dan terkadang Raskal meminumnya tanpa perut terisi makanan sedikitpun.
Raskal kapok. Raskal ingin sembuh dan nggak mau mengalaminya lagi. Sakit perutnya sangat menyiksa. Raskal akan jauhi kopi mulai hari ini.
Tapi nggak tahu kalau sudah sembuh.
"Maaf, aku belum bisa ke tempatmu sekarang. Aku baru bisa ke tempatmu besok. Nanti kamu sama Jian dulu ya, babe." Bujuk Nala pelan-pelan.
Raskal menggeliat di tempat tidur, "I already miss you. Obatku cuma butuh kamu di sini."
"I miss you too. Besok kita ketemu. Peluk aku sepuasmu."
"Besok jam berapa kamu ke sini?"
Nala berdengung di sana, "Siang, paling. Pokoknya balik dari kampus aku langsung ke tempatmu. Nanti aku bawain Burger ya kalau kamu sudah sembuhan dikit. Burger woodfire-nya baru buka hari ini, tadi teman-temannya banyak ke sana dan nyicipin. Katanya enak."
"Nggak mau Burger. Maunya kamu." Ujar Raskal pelan sambil memegang perutnya yang sakit.
"Duh manjanya pacal akoh! Aku janji besok aku ke Apartemenmu." Di sana Nala sedang menahan geraman gemasnya terhadap Raskal. Kalau lagi sakit, Raskal mendadak manja tanpa Raskal sadari.
"Aku mau kamu sekarang, babe."
"Ada Jian, babe. Sama Jian dulu ya."
"Aku nggak mau sama Jian. Bosan aku liat Jian mulu." Raskal memutar matanya malas. Nala tertawa di sana.
Tak lama suara kunci pintu Apartemen Raskal berbunyi, lalu terdengar teriakan Jian memanggil Raskal.
"Itu Jian sudah datang ya?"
Raskal tidak menjawab, di tempat tidurnya Raskal menatap Jian membuka pintu kamar dengan sekantong plastik makanan di sana.
Jian sudah biasa mondar-mandir ke Apartemen Raskal, sehingga pemuda itu juga sudah hapal berapa nomor kata sandi yang Raskal pasang di pintu otomatisnya.
"Nih aku udah bawain bubur ayam lengkap sama sate-satenya. Habisin! Nanti aku dimarah Nala. Oh iya, aku pinjam PS mu ya, kemarin belum aku kelarin permainanku." Ujar Jian meletakkan plastik makanan di meja nakas. Jian belum tahu kalau Raskal sedang telponan sama Nala. Sehingga tanpa sengaja suara besar Jian terdengar Nala.
"Nah, Jian udah datang ya. Jangan lupa makan dan diminum obatnya ya."
"Minum obat nggak ya?" Raskal mengatakannya begitu datar, tapi percayalah Raskal cuma ingin menggoda Nala.
"Kok ngomongnya gitu?" Nala kepancing. Raskal menyeringai.
"Kamu nggak ada di sini soalnya." Ucapnya enteng sambil mengendikkan bahu.
"Ih-jangan gitu, babe. Kamu gitu aku marah loh!" ancam Nala tapi Raskal ingin kembali menggodanya.
"Marah aja."
Keisengan Raskal didengar Jian. Bagaimana nggak dengar Jian asik main PS malah terdistraksi sama obrolan Raskal yang mendadak ngambek sama Nala karena Nala nggak bisa datang menjenguk.
Norak sekali Raskal ini! Jian menatap Raskal sinis.
"Nggak mau tau aku, pokoknya besok aku akan hitung jumlah butiran obat yang udah dikasih Dokter kemarin. Kemarin aku sudah hitung total butiran obat yang Dokter kasih ada 12. Semalam sudah kamu minum 2 butir. Lalu pagi ini kamu harusnya sudah minum 2 butir lagi. Belum obat sirupnya, harusnya sisa setengah. Ayo kita video call biar aku lihat jumlah obat-obatmu sekarang. Seharusnya sisa 8 butir obat sekarang."
Raskal menganga dan terkekeh pelan mendengar tuturan kekasihnya itu.
"Aku seperti pacaran sama a pshyco."
"Makanya nurut! Kan demi kesehatanmu juga! Aku beneran marah kalau kamu nggak makan dan minum obat."
Raskal terkekeh lagi, "iya sayang. Nanti aku minum obatnya."
"Awas aja pas besok aku ke Apartemen mu obat mu nggak habis. Hukumannya kamu nggak dapat cuddle dan cium-cium selama sebulan!"
"Iya sayang."
"Dah, ya, aku mau ngerjain laprak dulu. Nanti aku hubungi kamu lagi. Aku matiin teleponnya. I love you, babe."
Nala mematikan telepon sepihak sementara Raskal mengerjap menatap layar ponsel lalu menghela napas. Raskal bahkan belum sempat membalas ucapan Nala. Raskal meletakkan ponselnya ke nakas lalu menatap Jian bermain PS.
"Baik banget kamu ke sini karena disuruh Nala." Raskal mengintip bubur ayam yang dibawakan Jian. Buburnya masih hangat tapi Raskal masih belummau memakannya. Mulutnya tiba-tiba terasa pahit.
"Iya gimana, kan Nala minta tolong. Mumpung aku belum tamatin game ku ya udah aku ke sini. Nggak ada kerjaan juga."
Raskal tertawa.
"Kasian kamu, Jian. Cari pacar gih biar ada kerjaan."
Jian menoleh dan langsung melempar bantal di dekatnya ke arah Raskal. Meskis edang sakit, beruntung Raskal masih ada sisa tenaga buat menangkap lemparan Jian. Raskal tertawa melihat kekesalan Jian.
"Awas lu, jangan iri kalau aku udah punya pacar."
"Malah aku nantinya bingung kok ada yang mau pacaran sama kamu." Raskal tertawa lagi sambil memegangi perutnya yang masih nyeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Admirer II
Teen FictionSPIN-OFF SECRET ADMIRER. WAJIB BACA SECRET ADMIRER PERTAMA LEBIH DULU. Berisi lanjutan kisah manis milik Raskal dan Nala. Ada Santa, Jian, Kak Tama, Ibu, Kak Sandi, dan orang-orang baru yang berperan di kehidupan mereka. Di kehidupan Nala dan Rask...
