Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mataku tidak beralih dari pemandangan jalan raya di balik kaca cafe ini sejak beberapa menit yang lalu.
Hingga akhirnya, muncul sosok familier yang mendaratkan motornya di parkiran.
Senyumku terbit dan tanganku seketika meraih ponsel untuk melihat pantulan diriku di layar. Sedikit merapikan rambutku agar terlihat sempurna.
"Lin." panggilnya.
Jeje muncul dan menempati kursi di depanku.
Dia terlihat wibu seperti biasanya. Tubuhnya terbungkus jaket abu-abu polos, punggungnya menggendong tas hitam besar yang isinya entah apa, dan kedua telinganya digantungi kacamata kotak serta masker hitam yang ada gambar giginya.
Sementara itu, aku sudah dandan maksimal menggunakan riasan dan dress terbaikku.
Kadang aku berharap Jeje memujiku cantik ketika aku sudah effort begini, tapi sampai detik ini, itu belum pernah terjadi. Kecuali saat aku bertanya duluan apakah aku cantik, baru dia akan menjawab iya.
"Kamu kok tau tempat ini sih, Liiin?" Dia membuka maskernya dan menampakkan hidungnya yang sedikit memerah.
"Tau lah, kesukaan kamu kan?"
Dia mengangguk antusias, "Duduk sebelah sana aja yuk?"
Jeje menunjuk ke tempat yang lebih dekat dengan komik-komik.
Aku mengiyakan saja dan mengikuti kemauannya.
Di cafe ini memang banyak sekali komik, namanya juga comic cafe. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar manga dan koleksi komiknya lumayan lengkap. Ada yang bisa dibaca di tempat dan ada juga yang bisa dibeli.
Kami naik ke lantai 2 dan duduk di lesehan yang ada bantalan tipisnya, Jeje menaruh tas dan mulai menjelajah rak-rak. Tak lama, ia kembali dengan membawa beberapa komik.
Ia membaca dengan serius dan antusias. Sialnya, gara-gara itu, aku malah dikacangi.
Aku kemudian mengambil satu komik dan coba membacanya, tapi aku tidak mengerti cerita tentang monster-monster begini.
Setengah jam pun berlalu, Jeje masih fokus dengan komik yang ia baca dan tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya.
Bahkan ia sampai tidak sadar aku sudah menaruh kepalaku di pundaknya dengan nyaman.
Ini tidak akan terjadi kalau dia sedang sadar. Biasanya kan dia selalu risih dan ketakutan tiap aku melakukan kontak fisik dengannya.
Aku mengangkat kepalaku, kemudian menutupi halaman komik yang sedang ia baca dengan telapak tanganku.
Dia pun menoleh, "Linaa."
"Je, peduliin akuu."
"Bentar, lagi baca."
"Kenapa sih kamu cuekin aku terus akhir-akhir ini? Aku pengen quality time sama kamu, ntar aja baca komiknya." kataku.
Aku bergeser lebih dekat, namun dia bergeser menjauh.