[L] 15. Am I Pretty to U?

101 19 11
                                        

Matahari sangat terik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari sangat terik. Aku dan Sherin memutuskan untuk membeli es doger yang berjualan di depan sekolah.

Antriannya berjubel, anak SMP dan SD jadi satu, berebut ingin dilayani duluan.

Wildan dan Jeka tiba-tiba muncul dari kerumunan sambil membawa es doger yang sudah jadi.

Dahi dan hidung mereka penuh dengan percikan keringat.

"Lin, Jeje sakit loh? Gak masuk empat hari. Kamu gak pengen nengokin?" tanya Wildan sambil menyendok potongan kecil roti tawar yang menjadi topping es dogernya.

"Sakit?"

"Kok gak tahu sih Lin? Belum jadi chat dia ya kamu?"

"Aku aja juga sakit Wil, dua hari habis persami kemarin, gak kuat pegang hp. Dia sakit apa? Kok sampai empat hari?"

"Kepalanya pusing gak sembuh-sembuh Lin. Kata temenku yang bisa lihat, ada 'anak kecil' dari tempat persami yang ngikut. Terus anak kecilnya gelayutin kepalanya."

"Hah?! Serius?!"

"Iya, tanya aja Jeka. Iya kan, Ka?" Wildan menyikut lengan anak laki-laki berpipi chubby yang berdiri di sebelahnya. Jeka kemudian mengiyakan.

"Masa sih? Terus, dipanggilin orang pinter buat ngusir anak kecilnya?"

"Mommy sama Daddy-nya kan gak percaya gituan Lin. Jadinya cuma diperiksain ke dokter."

Jeka menyahut. "Jadinya dipanggilin orang pinter kok. Semacam ustadz yang bisa nyembuhin gitu. Katanya habis dibacain doa-doa si Jeje langsung muntah. Setannya keluar semua. Nih, orangnya udah bisa bales chat."

Jeka kemudian menunjukkan layar ponselnya.

"Huft, syukur deh."

Antrian es doger belum surut juga, malahan semakin ramai saja.

"NONO!!!!"

Wildan tiba-tiba memanggil anak kecil berseragam SD yang wajahnya familiar. Dia hanya berdiri di atas trotoar sambil mematung bersama dua anak lainnya. Pandangan mata mereka ke arah tukang es doger.

Jantungku berdegup kencang ketika menyadari mereka bertiga adalah Nono, Jojo, dan Vivi. Yang tak lain merupakan adik Jeje yang bersekolah di SD samping SMP kami.

"Kak Wildan! Kak Jeka!" seru Nono.

"Kalian kenapa bengong? Gak pulang?"

"Kita mau beli es doger Kak. But, uang kita kurang."

Wildan menoleh kepadaku dan tersenyum. Aku tidak tahu apa maksudnya.

"Yaudah sini kalau mau beli."

"Emang Kak Wildan mau beliin?"

"Bukan aku, tapi kakak ini." Wildan menunjukku. Tanpa berkompromi lebih dahulu. "Namanya Kak Lina, dia punya banyak uang, kalian bisa minta apa aja!"

Mereka bertiga mendekat mengerubungiku. Yang bernama Nono bahkan menggandeng tanganku. Bocah yang tingginya hanya sepundakku ini mendongak dan tersenyum lebar, membuat bola matanya tidak terlihat.

8th Grade [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang