Deskripsi aku udh kasih peringatan ya di setiap chapter jga ada jdi jgn smpe cerita ini di report aws aja😤 .. .. ..
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.. .. ..
Renjun berjalan perlahan mendekati tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Tangannya bergetar saat ingin menyentuh wajah yang sudah sangat pucat itu.
“Tidak!!”
Renjun mulai menangis, dia membawa tubuh yang sudah tidak bernyawa itu kedalam pelukannya.
“TIDAK!! KAU TIDAK BISA MATI SEPERTI INI! KAU HARUS BANGUN DAN TEBUS SEMUA KESALAHANMU PADAKU, MARK!!”
Kalian tidak salah membaca, orang yang baru saja tertembak itu adalah Mark. Kejadian itu terjadi begitu saja, saat Mark melihat Haechan dan Renjun berpelukan membuatnya marah. Dia bangun dan mengambil pistol yang ada di lantai, dia tidak tau itu pistol milik siapa. Namun saat dia akan menembak Haechan tiba-tiba saja Ryujin datang dan langsung menembaknya berulang kali.
Haechan masih terdiam di tempatnya, dia menatap Ryujin yang sudah terduduk di lantai dengan tangan yang bergetar. Dia tidak tau kenapa Ryujin bisa ada di sini, tapi jika tidak ada Ryujin mungkin Haechan yang akan menjadi korban.
“Bangun Mark!! Bukan perpisahan seperti ini yang aku maksud, aku meminta mu menjauh tapi bukan menjauh seperti ini.”
Renjun menangis dengan keras, pelukan nya di juga semakin erat.
“Renjun..bangun dulu, aku sudah menghubungi ambulan.” ucap Haechan sambil mengelus kepala Renjun.
Renjun tidak mendengarkan Haechan, dia menatap Ryujin dengan tatapan kosong. Tanpa di duga dia mengambil pistol yang ada di tangan Mark lalu mengarahkannya pada Ryujin.
“Renjun letakkan pistol itu.”
Seolah tuli, Renjun tidak mendengarkan ucapan Haechan. Dia melangkahkan kakinya kearah Ryujin yang sedang menangis.
“Kau...perempuan jahat, bagaimana bisa kau membunuh nya?”
“Maafkan aku, Ryujin. Jika aku tidak melakukan itu mungkin Haechan yang akan menjadi korban.”
“Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Ryujin.”
Setelah mengatakan itu Renjun jatuh pingsan, untung saja Haechan langsung menahan tubuhnya.
“Haechan Renjun berdarah!!” teriak Ryujin saat melihat darah mengalir di kaki Renjun.
Haechan panik, dia langsung menggendong Renjun dan berlari keluar. Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Renjun.