Deskripsi aku udh kasih peringatan ya di setiap chapter jga ada jdi jgn smpe cerita ini di report aws aja😤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—Renjun pov—
Aku duduk di taman rumah sakit, setelah tau kondisi Mark aku memutuskan untuk menyendiri. Di dalam masih ada Jeno, Jaemin dan Hyunjin, mereka menjaga Mark. Orang tua Mark sedang dalam perjalanan dan aku yakin mereka pasti akan sangat marah jika mengetahui penyebab Mark ikut balapan adalah aku.
Aku membuang rokok ku yang sisa setengah ke tanah. Pikiran ku kacau dan hatiku juga sakit.
Aku mencintai Mark.
Dia selalu ada untukku, dia selalu memberikan apapun yang aku inginkan bahkan tanpa aku minta. Dia benar-benar menjagaku dengan baik.
Luka di kepalanya tidak terlalu parah, tapi kedua kakinya terluka cukup serius. Jadi untuk sementara dia harus menggunakan kursi roda.
Itu adalah penjelasan dokter beberapa menit yang lalu. Mark lumpuh? Aku merasa sangat bersalah, seharusnya aku tidak melibatkan diriku dengan Haechan. Semua ini adalah salahku, Mark terluka karena diriku.
Haechan? Bajingan sialan itu punya senjata untuk menghancurkan ku. Aku tidak bisa melakukan selain mengikuti apapun yang dia katakan.
“Renjun?”
Aku menoleh mendengar namaku di panggil. Aku memutar bola mataku malas saat melihat siapa yang kini sudah berdiri di depanku.
“Bagaimana keadaan Mark?” tanyanya membuat mood ku menjadi buruk.
“Untuk apa kau menanyakannya?”
“Aku hanya ingin tau bagaimana keadaannya. Haechan juga terluka, aku harap lukanya lebih parah dari yang Haechan rasakan.”
“Apa maksudmu?”
Aku yang tadinya sedang duduk langsung berdiri dan menatapnya dengan tatapan marah.
“Mark kan yang sudah mengajak Haechan balapan? Jadi ini semua salahnya. Haechan itu lelaki baik-baik dan dia tidak mungkin ikut balapan seperti ini jika bukan Mark yang mengajaknya.”
Aku terkekeh pelan. Apa yang dia katakan? Haechan lelaki baik-baik? Aku ingin sekali tertawa dengan keras.
“Sepertinya kau belum terlalu mengenal Haechan. Ah, atau mungkin Haechan yang tidak ingin kau mengenalnya terlalu jauh.”
“Aku temannya, aku mengenalnya dengan baik.”
“Teman, ya? Tapi yang kulihat kau menginginkan lebih dari teman.”
“Ya. Dan kuharap kau menjaga jarak darinya.”
Aku tertawa mendengar ucapannya. “Katakan itu pada Haechan—Mu, katakan padanya untuk tidak datang mengangguku.”