KINI anak kecil itu berada dalam rumah mewah tingkat dua dengan halaman yang sangat luas. Ia tengah duduk di ruang tengah dimana terdapat sofa duduk yang nyaman melingkari seisi ruangan.
Anak itu disambut baik oleh pelayan rumah. Ia disuguhkan minuman teh melati yang sangat harum baunya, ditambah sepiring roti lezat hangat yang baru keluar dari oven.
Tak lama kemudian, Bapak Tua yang tadi menemukannya di jalan menemuinya di ruang tengah. Sudah cukup lama Bapak Tua itu tidak terlihat sedari ia tiba di rumah ini.
"Kamu namanya siapa?" tanya sang Bapak ramah. Bapak itu terduduk di hadapan Aisha sembari membakar cerutu di bibirnya.
"A-aisha." ujar Aisha gagap.
"Nama yang bagus." ucap sang Bapak singkat.
Bapak itupun keluar dari ruangan itu. Pertemuan yang sangat singkat. Aisha yang bingung dengan kejadian tadi hanya menyaksikan Bapak itu pergi dari hadapannya.
Sekarang tepat pukul 09.00 malam. Aisha dipersilahkan tidur oleh si pelayan wanita yang tadi menghidanginya roti dan teh. Sebelum tidur, ia dimandikan oleh sang pelayan dan luka-lukanya diberi obat dan perban.
"Besok akan saya bangunkan tepat pukul 06.00. Tuan yang tadi sudah mendaftarkan sekolah terbaik untuk kamu. Segala yang diperlukan untuk kebutuhan sekolah sudah saya siapkan. Besok, kamu akan sekolah dan diantarkan oleh saya, mengerti?" ujar sang pelayan runut dan jelas. Anak kecil itupun mengangguk walaupun sebenarnya ia tak mengerti tentang apa yang dibicarakan.
Sang pelayan pun menutup pintu kamar tidur tersebut dan setelah itu Aisha mengitari kamar yang disiapkan untuknya. Seumur-umur, ia belum pernah memiliki kamar tidur seperti ini.
"Kamarnya besar sekali." gumamnya. Ia sedang memperhatikan meja belajar dan rak buku yang berada agak jauh di depan ranjang tidurnya. Ia melihat banyak buku dan alat tulis yang sepertinya sudah disiapkan dengan baik. Ia juga melihat tas gendong yang tidak begitu besar bermotif karakter kartun kesukaan anak-anak.
Karena Aisha telah mengantuk, ia pun kembali ke ranjang tidurnya dan tertidur tak lama setelahnya.
****
Keesokan paginya, Aisha bersiap untuk pergi ke sekolah baru. Ia sudah dimandikan oleh sang pelayan, dipakaikan baju sekolah dan sarapan. Ia juga diantarkan ke sekolah barunya menggunakan mobil.
"Nanti pulang pukul setengah tiga siang. Kamu tunggu di hall, mengerti? Saya akan menjemput kamu. Sekarang belajar dengan baik, ya?" jelas Riney, sang pelayan wanita itu. Aisha manggut-manggut lalu menyalimi Riney.
Riney yang disalimi sedikit terkejut lalu tersenyum sedikit. Ia pun menerima uluran tangan Aisha. Anak perempuan itupun keluar dari mobil dan mendadahi mobil setelah keluar. Ia pun disambut oleh guru yang telah menunggunya di depan hall.
"Aisha, ya? Perkenalkan saya miss Hellen. Mulai sekarang kamu siswa disini. Saya antarkan ke kelas, ya?" sapa miss Hellen. Aisha kembali mengangguk.
Ia pun kemudian diantarkan menuju ke lantai tiga dimana siswa kelas dua SD belajar di sekolah ini.
Sesampainya di kelas, ia begitu takjub dengan kelas barunya. Berbeda sekali dengan sekolah lamanya. Mejanya terlihat sangat modern dan kokoh. Begitu juga dengan kursinya.
Guru yang ada di kelas itupun kemudian menyambut Aisha dan miss Hellen. Miss Hellen pun menitipkan sang anak pada guru yang tengah mengajar di kelas tersebut.
Aisha pun berjalan ke depan kelas dan diminta untuk memperkenalkan diri. Ia pun dengan malu-malu memperkenalkan dirinya.
"Kalau belum bisa, gapapa perkenalan dengan bahasa Indonesia, oke?" bisik sang guru. Aisha pun mengangguk takzim. Pantas saja dia banyak mendengarkan bahasa aneh yang tidak dimengertinya sama sekali sejak ia tiba di sekolah ini.
"H-halo. Perkenalkan nama aku Aisha. Aisha Athira. Salam kenal." ujar Aisha singkat. Teman-teman barunya pun bertepuk tangan dan menyambutnya dengan senang.
"Baik, Aisha. Kamu boleh duduk. Disana, ya?" ucap miss Hill sembari menunjuk ke arah kursi kolom empat baris ketiga. Anak perempuan itupun berjalan menuju arah kursi yang dimaksud.
Dengan selesainya perkenalan singkat Aisha, pelajaran pun dimulai. Anak-anak yang ada di sana pun mengeluarkan buku pelajaran yang dimaksud oleh miss Hill. Aisha pun juga mengeluarkan buku dari tasnya dan mengambil buku yang akan dipakai untuk belajar.
Meskipun sudah bisa membaca, Aisha tidak mengerti sama sekali bahasa yang dihaturkan oleh guru barunya itu. Bahasanya begitu asing. Namun Aisha tetap menyimak pelajaran tersebut walaupun tidak mengerti.
Sekitar jam sepuluh siang, bel sekolah berbunyi. Sekarang waktunya istirahat. Aisha mengeluarkan kotak bekal yang telah disiapkan Riney, si pelayan yang mengantarkannya sekolah pada pagi hari ini. Ia juga diberi uang saku yang lumayan banyak untuk anak seusianya.
Aisha mulai menyendokkan makanan ke mulutnya. Lezat. Pikir anak perempuan lugu itu. Ia kembali menyendokkan satu suap besar makanan ke dalam mulutnya. Ia makan dengan lahap.
"Halo." sapa satu anak di kelasnya. Anak itu duduk cukup jauh dari kursinya berada sekarang.
"H-halo." jawab Aisha gugup. Ia pun menghentikan sejenak acara makan siangnya. Anak-anak sekelasnya mengitari meja Aisha.
"Salam kenal, Aisha. Aku Shahna. Dia Ruben, dan yang di samping kiri aku Anastasya." ujar gadis cilik dengan rambut diikat dua itu ramah.
"Salam kenal juga..." jawab Aisha sopan.
"Apakah kamu tidak ingin ke kantin?" tanya Ruben.
Aisha bingung. Ia penasaran sekali dengan sekolah ini, namun ia mesti menghabiskan makanannya dulu.
"Mungkin nanti. Aku ingin menghabiskan makananku dulu." jawab Aisha kemudian. Perkataan Aisha kemudian diikuti oleh anggukan kepala dari ketiga anak lucu nan menggemaskan itu.
"Baik. Kami bertiga duluan ke kantin, okay? Selamat menikmati makan siang kamu." ucap Ruben. Anak laki-laki itu menggemaskan sekali. Akhirnya mereka bertiga pun berjalan menuju kantin sekolah itu tanpa kehadiran Aisha.
Aisha pun kembali melanjutkan makan siangnya. Ia makan dengan khidmat. Seusai makan siangnya tandas, ia pun mengambil botol minumnya.
Selesai minum, ia kembali membaca buku yang tadi dipelajarinya. Ia sungguh tidak mengerti dengan seluruh kalimat yang berada disana. Bagaimana ini? Apa ia harus bilang pada Mrs. Riney?
Gadis cilik itupun memutuskan untuk membicarakan ini dengan Mrs. Riney. Akan tetapi... bukankah biaya untuk menyekolahkannya saja di sekolah ini sudah mahal? Bagaimana jika ia dipukuli lagi?
Gadis cilik itu akhirnya memilih untuk tidak membicarakannya dan berusaha untuk mempelajari pelajaran ini sendirian.
Sampai bel pelajaran berbunyi, akhirnya mata pelajaran berganti sampai tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 14.30 siang.
.
.
Selamat datang di cerita baru aku, gimana menurut kalian bab 1 part 1 ini?
Semoga suka, ya. Vote, comment, dan jangan lupa masukin ke library kalian. Enjoy this part!

KAMU SEDANG MEMBACA
I Found You
Teen FictionAisha, gadis miskin yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung memiliki berjuta mimpi. Awalnya ia tidak pernah bermimpi, toh... apa gunanya bermimpi baginya? Tapi karena pengalaman hidup yang pahit dan ia terus dituntut untuk hidup. Ia memutuskan harus...