SEPULANG sekolah, kini Kieva benar-benar mengajukan seribu pertanyaan pada Sira di dekat taman sekolahnya. Meskipun agak kesal, Sira mencoba memahami sikap Kieva yang menurutnya sudah agak posesif.
"Jadi, bisakah aku jelasin kenapa?" ujar Sira begitu Kieva selesai bertanya. Kieva mendeham.
"Iya. Bisa." jawab Kieva singkat sambil mencembungkan bibirnya. Dilihat-lihat agaknya Kieva menggemaskan juga.
"Aku ada urusan darurat yang enggak bisa aku ceritain ke kamu. Dan urusan itu agak berat. Jadi... maafin aku ya kalau kemarin enggak ngabarin sama sekali?" pinta Sira. Kieva terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Jadi, sekarang bisa ngobrol-ngobrol dulu sebentar? Aku masih kangen." ucapnya. Sira mengangguk.
Namun, di dalam hati Sira merasa tidak enak jika terus-menerus menutupi sesuatu hal pada Kieva. Apa dia cerita saja, ya?
"Va," panggil Sira.
"Ya?" jawabnya singkat.
"Kalau menurut kamu—'kan aku ada tugas, nih. Aku disuruh buat usaha kecil-kecilan sebagai salah satu bentuk penilaian. Dan, sebenernya usahanya enggak perlu berhasil. Menurut kamu, aku harus ngebuat jenis usaha seperti apa?" tanya Sira memberanikan diri. Ia menelan ludah, gugup.
Kieva menimbang sebentar. "Udah riset pasar?" tanya Kieva memastikan.
"Udah, cuma belum menyeluruh." jawab Sira kemudian.
"Kalo begitu, coba riset secara menyeluruh aja dulu. Cari apa yang paling banyak dibutuhin orang-orang dan paling laku di pasaran. Kalo udah, baru lanjutin step berikutnya." jawab Kieva detail. Rupanya tak salah ia bertanya pada laki-laki itu. Ayahnya saja pengusaha berpengalaman.
"Va," panggil Sira lagi. Kali ini suaranya agak bergetar.
"Ya?" sahut Kieva. Anak laki-laki yang memerhatikannya itu menyadari jikalau Sira tengah khawatir akan sesuatu hal.
"Va. Aku enggak tau yang aku lakukan ini benar atau salah. Cuma, sepertinya aku terlalu banyak nutupin segala hal sejak pertemuan pertama kita. Padahal kita udah ga ketemu selama bertahun-tahun,"
"Aku takut, Va. Aku takut kehilangan orang lagi kalau aku bersikap lemah." ujar Sira. Airmata mulai menggenangi kelopak matanya. Kieva dengan sigap mengusap kelopak mata Sira yang basah.
"Ra." panggil Kieva lembut. Sira menoleh. Anak laki-laki itupun menyentuh kedua pipi Sira bersamaan.
"It's okay. Kamu enggak harus cerita semuanya. Enggak semua hal mesti diceritain, okay?"
"I really don't care about where you came from. Kamu disini, berada di hadapan aku aja udah lebih dari cukup, okay?" Ucapan Kieva menghangatkan satu sudut kecil di relung hati anak perempuan itu. Sira pun mengangguk.
Meski Sira tidak menceritakan apa yang menjadi inti masalahnya, gadis itu sudah merasa plong. Setidaknya Kieva memercayainya.
Bukankah itu sudah lebih dari cukup?
****
Sepulang sekolah, Sira izin untuk tidak menghadiri sesi bela dirinya pada sore hari ini. Gadis itu memutuskan untuk beristirahat di rumahnya. Ia ingin menikmati semilir angin di balkon rumah.
Saat ini tepat pukul 15.30. Waktu dimana azan ashar berkumandang dan saling bersahut-sahutan. Sira menatap lantai parkir rumahnya dari balkonnya sembari terduduk.
Sudah berapa lama ia tidak menikmati lantunan azan yang semenenangkan ini?
Gadis itu sudah cukup lama meninggalkan tuhannya. Walaupun terlahir sebagai muslim, tak jarang ia selalu menanyakan keberadaan tuhan dalam hidupnya.
Adakah tuhan membantu dirinya saat ia lemah? Adakah tuhan membantunya saat ia sekarat karena dipukuli dan hampir mati karenanya? Adakah tuhan disisinya?
Dimana tuhan saat ibunya memohon ampun agar tak dipukuli ayahnya? Dimana tuhan saat ia dan adik-adiknya hampir mati karena kelaparan? Dimana keberadaan tuhan saat ia membutuhkannya?
Akankah tuhan hanya imaji hierarki yang disembah manusia karena manusia adalah makhluk yang nestapa dan celaka? Atau tuhan hanyalah sekumpulan gambar pigura yang dipuja-puja?
Dimana tuhan saat ia membutuhkannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti membuat hidupnya memiliki babak baru. Sialnya, bahkan saat ini ia sangat merindukan koneksi terkasih dengan tuhannya.
Akankah ia bisa kembali?
Kembali dan mengisyaratkan tuhan bahwa ia siap kembali menjadi seorang hamba. Kembali menyerahkan totalitas dari keseluruhan hidupnya untuk mengabdi dan manjadi orang baik.
Akankah ia dapat melakukannya?
Pertanyaan itu kadang menggelitik pikiran Sira. Mana mungkin ia bisa kembali ketika ia sudah berkubang lama dalam kotoran menjijikkan nan menenggelamkan ini?
Sira larut dalam lantunan suara suci itu. Dalam sanubarinya, seperti ada secercah raungan yang meminta untuk dibebaskan. Namun, dia masih tak mengerti raungan apa itu.
"Sha." Tiba-tiba ada yang memanggil anak perempuan itu. Sira yang tadinya termenung langsung terhenyak karena dipanggil. Ia kemudian menoleh ke sumber suara.
"Ya?" sahutnya.
"Makanan udah siap. Mau saya ambilkan atau nona ingin makan di meja makan?" tanya Riney.
"Biar aku yang ke meja makan. Sebentar lagi aku kesana." jawab Sira. Riney mengangguk kemudian ia kembali menuju ke dapur.
Sira menghela napas pendek untuk menyiapkan dirinya. Segera ia menuju ke dapur untuk menyantap makan siangnya yang sudah terlalu sore.
.
.
.
Aku update lagi!
Hope you guys enjoy this story!

KAMU SEDANG MEMBACA
I Found You
Teen FictionAisha, gadis miskin yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung memiliki berjuta mimpi. Awalnya ia tidak pernah bermimpi, toh... apa gunanya bermimpi baginya? Tapi karena pengalaman hidup yang pahit dan ia terus dituntut untuk hidup. Ia memutuskan harus...