Tiga Belas

26 3 0
                                        

Hannie menatap ke luar jendela tepat ke sebuah rumah besar dengan banyak warna cokelat dan hijau di luarnya. Dindingnya terbuat dari kayu, memiliki dua lantai, ada banyak pepohonan di sekitarnya, kolam kecil yang dikelilingi tanaman hias, dan cerobong asap yang terbuat dari bata merah. Kediaman keluarga Covey terlihat seperti rumah hobbit.

Sean keluar lebih dulu dari dalam mobil. Wajah Hannie sedikit memerah membayangkan Sean menggandeng lengannya, tapi tentunya itu tidak akan pernah terjadi. Pintu garasi yang terbuka menunjukkan dua mobil sedan berwarna silver dan hitam. Sepertinya keluarga Covey benar-benar hidup sangat berkecukupan.

"Hanya ada Ibuku di rumah,"  Sean memutar tubuhnya ke belakang, "Ayahku ada jadwal operasi."

"Benarkah?! Ayahku juga memiliki janji kunjungan untuk pasien operasi. Apa itu pasien Ayahmu?!"  Sean mengangkat bahu.

Pintu rumahnya juga berwarna kecokelatan. Pintunya jauh lebih canggih dari pintu rumah Hannie di Beverly dulu. Sean harus memasukkan beberapa angka di pegangan pintu sebelum terdengar bunyi 'beep' pelan dan pintu terbuka begitu saja. Seharusnya Hannie memperhatikan berapa angka yang Sean masukkan tadi dan menghapalnya. Berjaga-jaga kalau suatu waktu Sean memintanya untuk datang. Membayangkannya membuat wajah Hannie kembali memerah.

Aroma masakan yang sangat nikmat membelai indera penciuman. Mrs. Covey atau asisten keluarga Covey pasti sedang memasak sekarang. Sean berhenti tepat di depan tangga yang pegangannya terbuat dari besi hitam mengkilat.

"Sepertinya Mum sedang memasak... Ayo..."

Rumah keluarga Covey benar-benar sangat terang di bagian dalam. Seluruh dindingnya berwarna putih, dan terkadang di beberapa sudut dihiasi sesuatu yang berwarna cokelat atau hijau. Seperti tanaman hias dalam pot cokelat yang digantung di dekat tangga, figura besar berwarna cokelat yang di dalamnya ada banyak sekali kumpulan foto keluarga Covey, rak TV yang sangat besar berwarna cokelat, dan masih banyak yang lainnya. Hannie membatin apakah itu semua selera Mrs. Covey... Karena perpaduan warnanya benar-benar membuat penglihatannya terasa nyaman.

Foto-foto di dalam figura besar menarik perhatian Hannie. Ada foto pernikahan yang warnanya sudah agak memudar. Mr. dan Mrs. Covey benar-benar cantik di foto itu. Ada foto mereka ketika berlibur... Sepertinya itu diambil setelah mereka melangsungkan pernikahan. Ada foto Mrs. Covey berada di atas kapal kecil mengangkat seekor ikan besar. Ada juga foto Mrs. Covey di sebuah kamar rawat sambil menggendong seorang bayi kemerahan. Sepertinya itu Sean. Bahkan sejak bayi pun lesung pipinya sudah terlihat jelas. Sean kecil hanya terlihat sedikit lebih besar dari sebongkah roti tawar.

Sean tidak membiarkan Hannie berlama-lama memandangi semua foto keluarganya. Dia menarik lengan Hannie dan mereka melewati lorong kecil yang di kanan dan kirinya juga dihiasi bata merah.

Mrs. Covey bersenandung pelan ketika keduanya memasuki dapur. Dia memakai apron berwarna abu-abu dan rambutnya yang hitam digelung tinggi. Dia memakai kemeja putih dan celana jins dan itu membuat Hannie merasa iri. Bagaimana bisa seseorang terlihat begitu modis ketika sedang berhadapan dengan wajan dan spatula?! Sementara Hannie merasa tampilannya selalu terlihat menyeramkan ketika dia berada di dapur.

Mrs. Covey mengangkat kepala. Senyumnya sangat lebar meskipun dia terlihat sedikit terkejut. "Hannie, kan?!"  Tanyanya ragu.

Hannie mengangguk dan memberinya salam. Mrs. Covey mematikan kompor dan mengangkat wajan. Dia membersihkan telapak tangannya ke handuk kecil yang digantung di dekat westafel kemudian memeluk Hannie.

"Waktu Sean bilang temannya akan datang, aku tidak tahu kalau yang dimaksud itu kau... Bagaimana kabar Yves?!"

"Dad baik..."

Langsung saja Hannie bicara banyak hal dengan Mrs. Covey sementara Sean memilih untuk duduk diam mendengarkan. Dia mengambil beberapa pai buah dan memasukkannya bulat-bulat ke dalam mulutnya.

Mrs. Covey benar-benar seorang wanita yang menyenangkan. Hannie pikir Mrs. Covey akan mencekokinya dengan ribuan kalimat tentang anatomi manusia, atau bercerita tentang pengalamannya sebagai seorang dokter, atau penghargaan yang mungkin pernah dia terima. Tapi ternyata dia membicarakan trend mode terkini dan Hannie diam mendengarkan. Dia tidak memiliki banyak pengalaman tentang fashion. Fashionnya hanya sebatas celana panjang dan kemeja atau parka. Tidak ada yang hebat dari itu semua.

Sean mengajaknya berkeliling setelah Mrs. Covey menawarinya pai apel berukuran besar. Itu pai apel yang sangat nikmat seperti buatan Mum dulu.

Kamar Sean berada di lantai dua. Pintu kamarnya berwarna hitam. Sean menekan gagang pintu sementara Hannie mengintip dari balik punggungnya, bertanya-tanya dalam hati apa yang dia miliki di dalam kamar berukuran cukup luas itu.

Ranjang berukuran sedang dengan penutup berwarna abu-abu, tiga rak susun yang digantung di dinding, kumpulan kaset dan sebuah pemutar CD di atas meja kecil, komputer keluaran terbaru, lemari pakaian tiga pintu, sofa panjang, dan satu lemari kecil lainnya terbuat dari kaca tempat Sean meletakkan tas-tasnya. Kamarnya jauh lebih besar dari kamar Hannie. Jendela besar ada di sudut ruangan. Sean membiarkan jendelanya terbuka membawa hawa dingin masuk ke dalam kamar.

"Wow... Kamarmu benar-benar hebat."  Hannie tidak bisa menahan diri.

Tatapan Hannie jatuh pada meja kecil tempat pemutar CD berada. Sean mendengarkan musik rock dan ada banyak Arctic Monkeys di sana.

"Dimana kau menyimpan buku-bukumu?"

"Di lemari buku yang ada di lantai bawah, aku menyimpannya dengan jurnal-jurnal kesehatan milik orangtuaku."

Ada banyak hal yang mereka lakukan setelahnya. Membantu Mrs. Covey mengganti tanah tanaman-tanamannya yang berharga, mencoba ayam tawar buatan Mrs. Covey untuk makan siang, menangkap ikan di kolam buatan belakang rumah keluarga Covey, dan terakhir ikut menonton berita di TV bersama Mrs. Covey sementara Sean harus membetulkan perapian elektrik di ruang tamu.

Mr. Covey kembali pukul empat sore. Hannie berpapasan dengannya saat akan masuk ke dalam mobil Sean. Dia mengerutkan kening seolah berusaha mengingat dan kemudian menepuk pundak Hannie beberapa kali. Dia menitipkan salam untuk Mr. Yves sebelum berlalu masuk ke dalam rumah.

Sean mengantar Hannie sampai depan rumah. Wajah Mr. Yves bersinar seolah natal datang lebih cepat. Kumisnya bergerak-gerak ketika dia tersenyum.

Hannie memutuskan untuk merebahkan tubuh dan memandang langit-langit kamar. Semuanya terasa seperti mimpi. Dalam waktu lebih dari satu bulan, dia berada di West Coast dan mendapatkan beberapa teman baru. Dan salah satu teman barunya itu adalah cowok paling populer di sekolah. Hannie harus menampar kedua pipinya sendiri dan membenamkan wajah ke bantal untuk meredam teriakan bahagianya.

PRETTY YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang