Chapter 01. Bagian yang Tertinggal

185 36 17
                                        

Sinar mentari menyapa bumi, menghiasi semesta yang penuh dengan lara

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sinar mentari menyapa bumi, menghiasi semesta yang penuh dengan lara. Keluh kesah para siswa SMAN 3 JAGADITHA mulai memenuhi lapangan sekolah. Dengan atribut yang lengkap, mereka berbaris rapi di teriknya paparan sinar matahari.

Hari senin, pasti banyak dari anak sekolah yang tidak menyukai hari senin. Termasuk seorang gadis yang bernama Ida Dewa Ayu Harmony Pameswari yang saat ini tengah berdiri menghadap tiang bendera. Dengan hormat sembari melantunkan lagu kebangsaan Indonesia.

"Duh, pegel banget tangan ku. Mana benderanya lama banget lagi sampe ke atas." Decak Harmony seraya menyeka keringat yang timbul di pori-pori tangannya.

Melody yang mendengar sahabatnya mengeluh seperti itu, lantas berdehem memberi kode agar menutup mulutnya.

Netra Harmony perlahan sayu, kepalanya terasa berat. Perlahan semuanya mulai menggelap kian ia menarik napasnya. Ia yang memang memiliki daya tahan tubuh yang lemah, seketika ambruk di tempat.

Setengah dari siswa yang berbaris paling belakang mengalihkan perhatiannya pada gadis yang jatuh pingsan. Melody panik memangku kepala Harmony, karena tak ada satu pun PMR yang mendatangi mereka. Hingga akhirnya, laki-laki yang berada di belakang mereka beranjak membantu memboyong tubuh Harmony.

"Udah, biar aku yang bawa ke UKS..."

Setelah mengucapkan itu, ia memboyong Harmony dengan gagahnya. Para murid kebingungan, kenapa tidak ada satu pun PMR yang datang. Jangankan para murid, guru-guru yang berdiri di bawah rindangnya pohon pun kebingungan akan ricuh desahan di barisan para murid.

Beberapa saat setelah itu, semuanya kembali senyap. Mendengarkan amanat dari sang kepala sekolah.

Sementara itu di sisi lain, Negara tengah asyik memainkan handphone-nya setelah selesai merebahkan tubuh Harmony di atas brankar UKS. Sesekali ia memperhatikan wajah Harmony dengan cukup serius.

Kek pernah liat, tapi di mana ya?

Oh ya, kita kan satu sekolah. Cuma beda kelas...

Tidak lama, gadis yang ia tunggu kesadarannya itu pun perlahan mulai mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya mentari yang memasuki pupil matanya.

Negara yang melihat gadis itu telah tersadar, dengan cepat kembali memasukkan handphone-nya ke dalam saku celana. Ia memberikan segelas air minum yang berada di atas nakas.

Merasa tenggorokannya kering, Harmony meraih segelas air itu dari tangan Negara. Namun sebelum itu ia membenarkan posisinya.

"Eeeeee..., kamu sing ade mape, kan? ( kamu gapapa, kan?)"

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang