Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kita hanyalah suksma yang tercipta... Untuk menikmati lara yang ada...
****○•○•○•○****
Dibawah nabastala yang didominasi oleh gulita. Hamparan lautan bintang menemani gundah gulana hati yang terluka. Harsa yang semulanya tercipta sejak memasuki aula tadi, seketika berubah menjadi lara kala mereka berucap yang tak semestinya. Sikap seseorang yang menjadi cinta pertama Harmony tetap tidak berubah dari belasan tahun silam.
Sikap angkuh dan gengsinya bak gunung Himalaya. Bahkan rasa bersalah di hatinya sudah tenggelam sedalam palung Mariana. Rasa kasihnya sudah terkubur sedalam-dalamnya hingga tak bisa untuk melihat seberkas cahaya.
Harmony berada di tepi danau, gadis itu duduk bersandar dibawah pohon pinang. Netranya menatap kosong pada danau yang begitu tenang, namun sebenarnya terlihat mencekam. Tangannya bergerak mengambil buah pinang yang sudah terjatuh, lalu melemparkannya pada danau hingga mencipta gelombang kecil.
Harmony merogoh tasnya, meraih dompet dan melihat isinya. Uang yang tersisa hanya dua puluh lima ribu, sebab tadi driver ojek online tersebut meminta lebih karena jarak antara lokasi pesta dengan lokasinya sekarang terbilang lumayan jauh.
Gadis itu menghela napas, ia mengulum bibirnya. "Apaan sih, kek aku gak punya hati aja. Seenaknya mereka bilang kek gitu." Suara gadis itu kembali bergetar. Matanya sembap. Ya, ia menangis sejak tadi. Untungnya di danau tersebut tidak terlihat seorang pun yang berlalu lalang.
Harmony mendongak. "Maa." Air matanya kembali jatuh. "Mamaa, kenapa mama gak ajak Mony. Kan Mony juga pengen ikut." Suaranya bergetar diselingi oleh isakan tangis.
Sekarang gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis. Menangisi dirinya sendiri, menangisi takdir, menangisi mamanya yang tak lagi bisa ia temui di mana pun. Ternyata rindu pada seseorang yang telah tiada itu jauh lebih sakit. Tidak ada obatnya selain berkhayal. Membayangkan mamanya ada di sampingnya, menemani Harmony yang tengah terbalut oleh luka.
"Lho, Mon!"
Harmony sontak kaget, segera ia menyeka air matanya. Gadis itu mendongak melihat sumber suara. Netranya melihat Negara yang tengah mengernyitkan dahinya menatap Harmony.