Chapter 09. Alibi

36 21 1
                                        

Berisiknya Ombak Tak Seberisik ManusiaKedua Tangan Mulai Menutupi Telinga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berisiknya Ombak Tak Seberisik Manusia
Kedua Tangan Mulai Menutupi Telinga

****○•○•○•○****

Sinar mentari menelusup melewati celah-celah jendela. Wajah Harmony yang terkena seberkas cahaya tersebut mulai mengerutkan keningnya. Ia membuka kelopak matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya. Gadis itu membenarkan posisinya, ia duduk di tepi ranjang. Harmony meringis pelan saat kembali merasakan sakit pada bagian kepala dan memukul-mukul kepalanya pelan.

Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit, segera Harmony menuju ke kamar mandi untuk berbenah diri. Cukup lama ia berkutik pada shower, hingga akhirnya ia keluar dengan wangi khas sabun jeruk. Tak butuh waktu lama, seragam putih abu-abu sudah melekat pada tubuh indahnya. Ia berdiri didepan cermin pada meja rias yang cukup rapi, walaupun tak banyak alat make up di sana.

Jari jemari Harmony bergerak dengan lentik menyentuh luka sobek pada sisi bibir tipisnya. Sekali lagi ia meringis merasakan perih yang seketika timbul kembali. Netranya melihat memar yang berwarna hijau kebiruan tergambar jelas di wajahnya.

"Butuh waktu lama biar memar ini hilang. Kenapa harus di muka sih!" Decaknya kesal.

Tangan Harmony bergerak mencari sebuah benda untuk ia pakai pada laci meja riasnya. Dirasa sudah menemukan barang yang dicari, Harmony segera menyematkan masker untuk menutupi luka pada bagian wajah mulusnya. Walaupun virus covid-19 sudah berlalu beberapa tahun silam, namun kegunaan masker tetap menyelamatkan gadis itu.

Mendengar suara deru mobil papanya, Harmony tergesa-gesa menuruni anak tangga. Dengan cepat ia meraih sepatu yang berada di bawah tangga dan berlari menuju pintu depan. Namun nihil, mobil papanya sudah melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah.

Harmony menghela napas. "Aku ditinggal lagi, ya."

Matahari sudah berada semakin tinggi, dering bel masuk sudah terdengar nyaring di segala penjuru sekolah. Harmony berlari kencang di koridor kelas, dan untung saja tadi gerbang sekolah belum tertutup sempurna. Sesampainya di depan ruang kelas, seketika semua mata tertuju pada Harmony yang tengah mengatur napasnya. Sebagian dari mereka menatap bingung pada Harmony dan mulai bertanya-tanya. Sebagiannya lagi hanya acuh tak acuh dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.

Harmony meletakkan bokongnya pada permukaan kursi yang berada pada urutan ke dua dari belakang di bagian kanan. Dari semester awal ia memilih duduk di dekat jendela. Bukan tanpa sebab, namun ia selalu tenang jika melihat pemandangan yang afsun di matanya. Pemandangan di sana indah karena kelas mereka berada di lantai tiga.

"Mon, kenapa kamu pakek masker?" Melody bertanya dan seketika menyentuh pundak Harmony. Sontak gadis itu terkejut sedikit menjauh. "Aaah, Mell. Ngapain pagi-pagi ngagetin gitu sih." Ucap Harmony.

"Ya kamu ngapain bengong kek gitu? Ngomong-ngomong kamu kenapa?" Tanya Melody.

Harmony meregangkan tubuhnya. "Cuma flu, Mell, terus kamu di dalam kelas ngapain pakek hoody?" Harmony balik bertanya.

"Dingin, Mon. Aku cuma gak enak badan. Paling besok aja udah sembuh." Tuturnya.

Harmony beranjak dari duduknya dan segera menarik tangan Melody untuk mengikuti langkahnya. "Ehh mau kemana?" Panik Melody.

"Udah ayo ke UKS, kamu harus di obati. Aku gak mau kamu sakit, masak juara umum kita bisa sakit sih." Ujar Harmony. Namun sontak Melody melepaskan tangan Harmony dari pergelangannya.

"Iih ngapain ... nggak mau, bentar lagi pelajaran mau dimulai." Tolaknya.

"Udah sini, nanti kita izin bareng. Aku juga mau ke UKS, kamu gak mau nemenin aku?" Harmony menatap Melody dengan tatapan berbinar.

Melody menghela napas. "Oke-oke, ayo ke UKS, kamu bisa rebahan sepuasnya di sana."

Harmony merangkul tangan Melody erat. "Ayo Melody-ku." Ajaknya.

Mereka berdua berjalan di lorong koridor menuju ke UKS yang berada di gedung sebelah. Mereka berjalan sembari bersenda gurau dan bersenandung lagu ke sukaan mereka untuk ditebak judul lagunya. Saat mereka tiba di koridor lantai satu, mereka melihat Negara yang tengah bermain basket, dan pastinya tak luput dari banyaknya para siswi yang sedang memberi sorak.

"Gara ganteng banget deh, andai aku jadi pacarnya."

"Khalayan mu ketinggian. Eeh, ngomong-ngomong katanya di sekolah kita ada ada murid baru ya?" Gosip siswi di sana.

"Ooh, iya sih, aku denger, katanya dia cantik bangeet."

Harmony yang tanpa sengaja mendengar hal itu saat melewati mereka seketika menjadi penasaran. Memang ya jiwa kepo Harmony seketika muncul. "Mell, beneran di sekolah kita bakal ada murid baru?" Tanyanya.

"Gak tau sih, aku aja baru denger"

"Kira-kira dia sepinter kamu ga ya ...."

"Iih, kalau dia sepinter aku, aku bakal usaha bakal jadi lebih pinter lagi, hehehe."

Sesampainya di UKS, Melody duduk di tepi brankar. Sedangkan Harmony mulai mencari dan menggeledah laci dan almari untuk menjadi obat-obatan. Melihat minimnya obat dalam UKS tersebut, Harmony berdecak kesal.

"Udahlah Mon. Kita pakek minyak kayu putih itu aja."

"Ini udah dari tahun-tahun kemarin loh Mell UKS sekolah kita kek gini. Penjaga UKS ngilang entah di mana, di sini sangat minim obat-obatan, bahkan kotak P3K aja aku gak nemu." Tuturnya kesal.

Melody beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Harmony dan mendorongnya pelan untuk duduk di sisi brankar. "Sssht. Diem, sini biar aku olesin dulu, nanti gantian"

Dengan telaten Melody mengoleskan minyak kayu putih pada bagian belakang leher dan pundak Harmony, bahkan ia sesekali mimicitnya pelan. "Udah sini gantian, biar aku olesin."

"Oke."

"Eeem, Mell. Buka dulu hoody mu."

Terkejut, Melody lupa kalau ia tengah menggunakan hoody untuk menutupi luka bakarnya. Pupil Melody bergerak secara acak ke sana kemari mencari alasan. "Eeeh, gak deh Mon, saat aku cium bau minyak angin itu, tiba-tiba aku merasa pusing."

"Yaudah, kalau gitu kamu pakek masker ku aja—"

Harmony menggantungkan kalimatnya. "Eeeem, ya-yaudah deh kita tidur aja gimana?" Ucapnya sedikit gagap. Untung saja Harmony tidak sampai melepas maskernya, ia lupa bahwa ia sedang menutupi memar dan luka sobek di wajah manisnya.

"Yaudah"

Melody merebahkan tubuhnya di atas brankar, ia menghela napasnya kasar. Melihat Harmony yang terus-menerus menatapnya, lantas ia membalikkan tubuhnya menghadap sahabatnya. "Kamu gak mau tidur?"

"Eeh, iya iya. Ini aku mau rebahan."

Mereka terbaring di atas brankar UKS, langit-langit di ruangan UKS yang sudah sedikit usang.

"Kamu tidur gak mau buka maskermu?" Tanya Melody.

"Enggak, kan aku flu. Nanti takut nular loh."

Melody menggangguk. "Tadi Negara keren banget." Bisiknya.

"Hah? Apa Mell?"

"Gak ada hehe, tutup mata kamu sana, nanti aku bangunin."

Angin mulai menyusup melewati jendela. Entah mengapa, mata Harmony terasa berat. Dan dalam hitungan detik, ia terlelap mengarungi belahan dunia lain.

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang