Chapter 24. Kebenaran Mengundang Lara

22 6 1
                                        

Lukanya Memang Tak BerdarahNamun, Rasanya Ingin Sekali Tuk Menyerah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lukanya Memang Tak Berdarah
Namun, Rasanya Ingin Sekali Tuk Menyerah

****○•○•○•○****

Setibanya mereka di rumah yang terbilang cukup luas dengan ukiran-ukiran seni yang indah pada dinding pembatas rumah wanita itu, Harmony berjalan menyusuri taman menuju rumah Rikanitha bersama anaknya. Harmony mengedarkan pandangannya, ia melihat bunga marry gold yang tertanam sejajar menuju pintu utama rumah itu. Gadis itu mengingat kenangannya dahulu, saat ia dan mamanya tengah menanam tanaman bunga marry gold bersama.

"Ma, ngapain sih mama ngajak gadis itu ke rumah kita?" bisik Prayas kepada mamanya.

Rikanitha tersenyum sembari mengelus puncak kepala anaknya. "Nanti kamu akan tahu sendiri, nak."

Harmony dipersilakan untuk duduk di teras rumah wanita itu, di sana terdapat meja kecil berbentuk bundar dengan dua buah kursi di sana. Prayas mengambil kursi di dalam rumahnya lalu meletakkannya di dekat kursi sang mama.

"Bentar ya nak, ibu buatkan minuman dulu."

"Eeh, gak usah buk, gak usah."

"Gapapa nak," ucap Rikanitha lalu memasuki rumahnya.

Mata Harmony menari-nari melihat pemandangan dipekarangan rumah itu. Semilir angin serta wangi bunga tercium di hidung gadis itu.

"Ngapain kamu ke sini?" tanya Prayas dengan nada ketus.

Harmony menatap Prayas dalam, lalu seketika tersenyum sendu. "Ya, jika dilihat-lihat, wajahmu memang sedikit mirip dengan papa," gumam Harmony seraya menundukkan kepalanya.

"Hah, apa?"

Hendak bertanya lagi, namun Prayas mengurungkan niatnya kala mamanya kembali sembari membawa cangkir yang berisi teh hangat. "Di minum dulu nak, cuaca dingin-dingin begini lebih enak minum teh hangat."

"Ma-makasih tante."

Rikanitha mendudukkan bokongnya, melihat Harmony yang tengah melihat-lihat isi tamannya membuat wanita itu tersenyum. "Kamu mirip ya sama ibumu, dia cantik, senyumnya manis, tahi lalat kecil yang sama dibawah mata sebelah kanan, kepribadiannya baik"

Harmony menghentikan menyeruput tehnya. Ia meletakkan cangkir itu perlahan lalu menoleh ke arah Rikanitha dan Prayas. "Anak tante juga cantik, dia mirip sama tante dan ...." Harmony menggantungkan kalimatnya.

"Jadi kamu sudah baca apa yang saya tulis, nak?" Dengan tatapan sendu, Rikanitha bertanya. Harmony mengangguk sebagai jawaban.

Hidup Itu Luka  Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang