Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku Adalah Aku Dia Tetap Menjadi Dia Jangan membandingkan Aku Dengan Dia Yang Sudah Jelas Jauh Berbeda
****○•○•○•○****
Langit yang semulanya membiru, seketika berubah dengan gradasi jingga kala baskara mulai tenggelam. Para murid SMA NEGERI 3 JAGADITHA mulai berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Negara yang melajukan motornya memecah jalan sembari memboncengi seorang gadis. Seperti janji pagi tadi, Harmony sepakat untuk menjemput Hubu di rumah laki-laki itu.
Selama perjalanan, Negara bercerita tentang anak kucingnya, menceritakan bahwa saat ia sedih, Hubu-lah yang selalu mendengar ceritanya seorang diri di kamar. Hingga tak terasa mereka tiba di kediaman Negara. Laki-laki itu memarkirkan motornya, dan mempersilakan Harmony untuk memasuki rumahnya. Baru beberapa langkah memasuki kediaman laki-laki itu, langkah Harmony tercekat kala suara lantang menghentikan langkahnya.
Dengan cepat Niti menghampiri gadis yang bersama anaknya itu. Ia menarik lengan Negara menjauh dari Harmony, membuat gadis itu mengkerutkan keningnya bingung. "Ngapain kamu deket-deket anak saya!" Bak seperti induk yang melindungi anaknya, Niti menyuruh Negara agar berada dibelakangnya.
"Ma, udah. Ini temen Negara, dia yang bakal ngerawat kucing itu."
"Ooh, yaudah, cepet suruh dia bawa."
Negara pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Harmony bersama mamanya. Alih-alih mempersilakan Harmony duduk barang sejenak, ia malah melayangkan tatapan tajam kepada Harmony.
"Ha-halo tante ...." sapa gadis itu.
"Gak usah sok akrab!" Seketika Harmony terbungkam, ia hanya melihat ke lain tempat tak berani menatap mata wanita dihadapannya itu. Beberapa menit berlalu dengan suasana yang membuat Harmony tak nyaman, Negara akhirnya kembali membawa kandang yang berukuran minimalis dengan Hubu di dalamnya.
"Nih Mon, namanya Hubu."
"Lucu bangeet ...."
"Udah sana-sana, langsung bawa terus pulang!" Niti tak menerima penolakan. Harmony meraih kandang yang cukup ringan dengan alat mainnya sekaligus.
"Permisi tante, Gar, aku pulang ya."
"Bentar Mon, biar gue yang nganterin lo." Hendak menuju keluar, tangan Negara ditahan oleh Niti. "Dia bisa sendiri, gak usah pakek anter-anter segala!"
"Iya Gar, gapapa. Aku bisa sendiri kok, nanti aku naik bus mini."
"Gak bisa gitu dong, Mon. Kan aku yang bawa kamu ke sini, kamu juga udah bantu aku."