Setiap insan ada masanya.
Setiap masa ada insannya.
Jikalau semesta berkehendak, atma yang dipilih tak akan bisa lepas dari takdirnya. Begitu juga dengan Harmony atas segala derita laranya dalam kehidupan bak orang ketiga.
Menyukai seseorang yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bangunan Kokoh Itu Rumahku Namun Tidak Dengan Rasa Didalamnya
****○•○•○•○****
Dentingan alat makan memenuhi dapur, tepatnya di meja makan bagian belakang. Kenandra menyantap makanannya lahap karena pria itu baru saja tiba sehabis dari kantornya. Saras menyantap makanannya sembari memainkan handphone-nya, dan Harmony hanya menatap makanannya, matanya terlihat kosong menatap hidangan di depannya. Gadis itu hanya mengaduk-aduk pelan tanpa mau mencicipinya walau sedikit. Ya, ini efek dari kejadian yang seharusnya tak pernah ia ketahui.
"Kalau gak mau makan, gak usah makan." Kenandra berbicara dan melirik ke arah Harmony, namun gadis itu hanya terdiam tak menanggapi.
Tak mau ambil pusing, Kenandra melanjutkan suapannya. "Oh ya nak, gimana sekolah barumu? Kamu bisa beradaptasi dengan baik kan?" Tanya Kenandra.
Saras mematikan teleponnya. "Baik-baik aja kok, pa. Bahkan Saras udah punya banyak temen di sana, dan ... sepertinya Saras bisa dapat juara 1 lagi seperti di sekolah Saras yang dulu." Yakinnya.
Kenandra menggangguk seraya tersenyum. "Papa yakin kamu pasti bisa, di keluarga kita gak ada yang pernah gagal." Kenandra melirik pada Harmony. "Mungkin."
"Terus kamu gimana, Mon?" Tanya pria itu, namun lagi-lagi Harmony hanya terdiam.
"Hei, kamu gimana? Gak bosen cuma juara 3 terus? Kapan kamu pintarnya? Nasib punya anak bodoh. Hei!"
"Kalau saya bertanya itu jawab!"
Harmony melirik ke arah papanya. "Pa, jangan sekarang," ucapnya dengan suara letih, pikirannya berantakan dengan banyaknya isi kepala.
"Kenapa? Mulutmu bisu? Atau malu karena kalah dengan saudarimu?"
"Pa ... Mony mohon, jangan sekarang ...."
Kenandra menghela napasnya kasar. "Gak guna memang kamu jadi anak, gak bisa diandalin tau gak!"
Harmony bangkit dari posisinya. "PA CUKUP! BISA GAK PAPA SEKALIII AJA JANGAN NGERENDAHIN HARMONY? MONY CAPEK PA! MONY UDAH BERUSAHA SEMAMPU MONY! Tapi papa gak pernah ngehargain hal sekecil apapun yang Mony lakukan!" Air mata gadis itu luruh. "Pernah gak papa bilang sekali aja ... 'nak, gimana harimu, udah makan belum?' Atau hal-hal yang baik yang pernah papa ucapkan!"
"ENGGAK PA! YANG PAPA UCAPKAN HANYA HAL-HAL YANG BIKIN MONY HANCUR!Apa, apa papa ingin Mony mati?" Ujar Harmony dengan suara lirih di akhir kalimat.
Alih-alih tersadar setelah melihat anaknya menangis tersedu-sedu, Kenandra malah memasang raut wajah datar, pria itu menatap Harmony dengan tatapan dingin. "Ya, kenapa kamu gak mati aja sana? Itu juga keinginan saya!"
Malam itu, suasana sunyi menghampiri, hanya suara denting jam berbunyi tiap detiknya. Harmony mematung, pupil matanya bergetar, matanya kembali berkaca-kaca, napas gadis itu tercekat. Tak kuasa berada di sana, Harmony melangkah gontai, gadis itu memegang pembatas anak tangga berusaha menopang tubuhnya. Beberapa kali Harmony menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, isi kepalanya berantakan tak kuat mencerna.